{"id":192,"date":"2026-04-14T11:41:34","date_gmt":"2026-04-14T11:41:34","guid":{"rendered":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192"},"modified":"2026-04-14T14:28:35","modified_gmt":"2026-04-14T14:28:35","slug":"kualitas-primer-dan-kualitas-sekunder","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192","title":{"rendered":"Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder"},"content":{"rendered":"\n<p>John Locke, seorang filosof asal Inggris, telah mengembangkan suatu teori tentang pengklasifikasian kualitas. John Locke membagi kualitas menjadi dua, yang terdiri dari kualitas primer dan kualitas sekunder.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kualitas Primer<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kualitas primer adalah kualitas tentang suatu objek yang tidak dapat diperdebatkan lagi nilainya, dan orang yang menyalahinya dapat dikatakan bersalah. Ragam sisi yang dapat dijadikan sebagai aspek penilaian dari kualitas primer ini diantaranya adalah: bentuk, panjang, besaran, berat, tekstur dan sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai contoh, anda dapat mengatakan bahwa penggaris yang berukuran 100 cm lebih panjang daripada penggaris yang berukuran 30 cm. Anda juga dapat mengatakan bahwa penggaris 30 cm lebih panjang daripada penggaris yang berukuran 100 cm, tapi ketika anda mengatakannya, anda berbuat salah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita juga dapat mengatakan bahwa tembok Ka&#8217;bah itu lebih keras daripada kurma, karena kualitas yang sedang kita nilai adalah teksturnya. Kita juga tetap boleh mengatakan bahwa kurma teksturnya lebih keras daripada tembok Ka&#8217;bah, tetapi dengan demikian kita berbuat salah.<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah Burj Khalifa lebih tinggi daripada Monas? Tentu Burj Khalifa lebih tinggi daripada Monas. Dan siapapun yang berpendapat Monas lebih tinggi daripada Burj Khalifa, tentu ia telah berbuat salah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kualitas primer adalah kualitas yang dapat disepakati kebenarannya, dan yang melawannya telah berbuat salah. Tidak peduli apakah seseorang dikenal intelek atau tidak, selama ia menyalahi kualitas primer dari sesuatu, kita berhak dan harus mengatakan dirinya salah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kualitas primer adalah satuan nilai yang tidak dapat diubah oleh genealogi penilainya, nilai dan norma dasar dari yang menilainya, dan ideologi apapun yang dimiliki si penilai. Tidak peduli apakah anda seorang Muslim atau Yahudi, Arab Saudi tentu lebih luas daripada Israel. Tidak peduli apakah anda komunis atau kapitalis, Rusia lebih luas daripada Inggris.<\/p>\n\n\n\n<p>Kualitas primer juga tidak dapat dipengaruhi oleh usia, ras, etnis, kecerdasan atau nilai apapun yang melekat pada diri manusia yang menilainya. Karena kualitas primer atas sesuatu terletak pada sesuatu itu sendiri secara independen. Tidak dapat dipengaruhi oleh nilai apapun di luarnya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kualitas Sekunder<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah kita membahas tentang kualitas primer, sekarang kita bergerak kepada kualitas lainnya, yaitu kualitas sekunder. Kualitas sekunder adalah kualitas yang nilainya ditentukan oleh subjek penerima kualitas tersebut. Dan setiap orang yang berbeda dalam menilai kualitas tersebut tidak dapat dikatakan salah. Di antara sisi yang dapat dijadikan aspek penilaian kualitas sekunder adalah: rasa, warna, suasana dan tingkat kelelahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika kita mengambil sebuah contoh, sebagian orang dapat mengatakan warna langit jam 9 pagi itu biru tua, tapi sebagian lagi mengatakan biru muda. Dari dua penilaian tersebut, masing-masing tidak dapat dituduh bersalah.<\/p>\n\n\n\n<p>Atau jika kita ambil kasus yang lebih dekat, bakso dengan sambal dua sendok itu sudah sangat pedas bagi sebagian orang, tetapi ada sebagian yang lain mengatakan dua sendok itu tidak pedas. Ketika hal ini terjadi, siapakah yang akan kita sebut bersalah? Apakah orang yang mengatakan dua sendok sambal itu pedas atau tidak pedas? Tentu anda tidak bisa menyalahkan salah satu dari keduanya, dan begitulah kualitas sekunder, letak nilainya tidak terdapat pada entitas itu sendiri, melainkan terletak pada kesan seseorang yang berinteraksi dengan entitas tersebut. Respons panca indra terhadap satu eksistensi tertentu itulah yang dimaksud dengan kualitas sekunder.<\/p>\n\n\n\n<p>Perbedaan dalam menilai kualitas sekunder sangat memungkinkan dipengaruhi oleh genealogi, nilai, norma, ideologi dan bahkan kebiasaan-kebiasaan bawaan dari sang penilainya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika anda lahir dari sebuah wilayah dataran tinggi Lembang misalnya, tentu suhu 27\u2103 sudah terlalu panas untuk anda. Tetapi jika anda berasal dari pesisir Rengasdengklok di Karawang, suhu tersebut cukup nyaman untuk anda.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi sebagian orang, melihat laki-laki bertelanjang dada mungkin merupakan hal yang normal saja. Tapi bagi sebagian yang lain, melihat laki-laki bertelanjang dada barangkali cukup memalukan. Perasaan atau kesan yang kita sebut dengan kualitas sekunder tadi dipengaruhi oleh kebiasaan atau norma-norma bawaan semacam ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Persinggungan antara kualitas primer dan sekunder sangat mungkin sekali terjadi dalam kehidupan. Misalnya, jika kembali kepada contoh bakso dan sambal tadi. Anda dan rekan anda dapat bersepakat bahwa sambal dua sendok lebih banyak dari sambal satu sendok, tapi anda bisa saja berbeda pendapat apakah dua sendok tersebut sudah cukup pedas atau tidak. Anda bisa saja berdebat apakah langit cukup cerah atau relatif mendung, tapi anda tidak bisa berdebat tentang hujan yang telah turun.<\/p>\n\n\n\n<p>Sama halnya, setiap laki-laki atau perempuan sangat bisa bersepakat tentang lawan jenis yang mereka temui di pinggir jalan. Apakah laki-laki tersebut berkulit gelap atau cerah? Apakah wanita yang satu lebih gemuk dari lainnya dan hidung orang mana yang lebih mancung dari siapa? Laki-laki dan perempuan bisa bersepakat tentang semua hal itu, karena bentuk merupakan kualitas primer. Tetapi jika ditanya kepada setiap laki-laki tentang wanita manakah yang lebih cantik dan paling cantik? Tentu setiap lelaki akan sulit bersepakat satu sama lain, dan begitulah kualitas sekunder. Contoh ini juga berlaku sebaliknya bagi perempuan terhadap laki-laki. Bentuk tubuh manusia itu kualitas primer, sementara cantik dan tampan itu kualitas sekunder. Manusia bisa bersepakat tentang bentuk, tapi manusia mungkin berbeda pendapat tentang apa yang disebut keindahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kecermatan untuk membedakan antara kualitas primer dan sekunder ini sangat penting bagi kehidupan kita. Karena seringkali kita bertemu dan berbeda pendapat dengan orang yang bahkan tidak mampu membedakan antara keduanya. Kita membicarakan kualitas primer, sementara dia membicarakan kualitas sekunder. Seperti ketika seseorang sedang membicarakan calon presiden mana yang berkemungkinan menang berdasarkan survei, sementara lawan bicaranya membicarakan presiden lain yang akan menang hanya karena dia menyukainya. Kemudian dengan heroik ia mengatakan \u201cini merupakan perbedaan pendapat yang demokratis\u201d. Sekali-kali tidak, itu lebih merupakan sebuah kepandiran dalam cara berpikir.<\/p>\n\n\n\n<p>Sampai kapanpun, sebuah apel dengan berat 250 gram dan sebuah apel yang manis tidak layak untuk diperdebatkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Jakarta, 18 September 2024<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>John Locke, seorang filosof asal Inggris, telah mengembangkan suatu teori tentang pengklasifikasian kualitas. John Locke membagi kualitas menjadi dua, yang terdiri dari kualitas primer dan kualitas sekunder. Kualitas Primer Kualitas primer adalah kualitas tentang suatu objek yang tidak dapat diperdebatkan lagi nilainya, dan orang yang menyalahinya dapat dikatakan bersalah. Ragam sisi yang dapat dijadikan sebagai [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":194,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-container-style":"default","site-container-layout":"default","site-sidebar-layout":"default","disable-article-header":"default","disable-site-header":"default","disable-site-footer":"default","disable-content-area-spacing":"default","footnotes":""},"categories":[11],"tags":[],"class_list":["post-192","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-filosofi"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.0 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder - Relevansi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder - Relevansi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"John Locke, seorang filosof asal Inggris, telah mengembangkan suatu teori tentang pengklasifikasian kualitas. John Locke membagi kualitas menjadi dua, yang terdiri dari kualitas primer dan kualitas sekunder. Kualitas Primer Kualitas primer adalah kualitas tentang suatu objek yang tidak dapat diperdebatkan lagi nilainya, dan orang yang menyalahinya dapat dikatakan bersalah. Ragam sisi yang dapat dijadikan sebagai [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Relevansi\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-14T11:41:34+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-14T14:28:35+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Kualitas.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1218\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"812\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Aziz Zulqarnain\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Aziz Zulqarnain\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192\"},\"author\":{\"name\":\"Aziz Zulqarnain\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320\"},\"headline\":\"Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder\",\"datePublished\":\"2026-04-14T11:41:34+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-14T14:28:35+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192\"},\"wordCount\":898,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Kualitas.jpg\",\"articleSection\":[\"Filosofi\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192\",\"name\":\"Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder - Relevansi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Kualitas.jpg\",\"datePublished\":\"2026-04-14T11:41:34+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-14T14:28:35+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Kualitas.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Kualitas.jpg\",\"width\":1218,\"height\":812},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/relevansi.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/\",\"name\":\"Relevansi\",\"description\":\"Selalu Relevan \",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/relevansi.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320\",\"name\":\"Aziz Zulqarnain\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg\",\"caption\":\"Aziz Zulqarnain\"},\"description\":\"Direktur Program The Hope Institute\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.instagram.com\/aziz.zulqarnain\/\"],\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder - Relevansi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder - Relevansi","og_description":"John Locke, seorang filosof asal Inggris, telah mengembangkan suatu teori tentang pengklasifikasian kualitas. John Locke membagi kualitas menjadi dua, yang terdiri dari kualitas primer dan kualitas sekunder. Kualitas Primer Kualitas primer adalah kualitas tentang suatu objek yang tidak dapat diperdebatkan lagi nilainya, dan orang yang menyalahinya dapat dikatakan bersalah. Ragam sisi yang dapat dijadikan sebagai [&hellip;]","og_url":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192","og_site_name":"Relevansi","article_published_time":"2026-04-14T11:41:34+00:00","article_modified_time":"2026-04-14T14:28:35+00:00","og_image":[{"width":1218,"height":812,"url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Kualitas.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Aziz Zulqarnain","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Aziz Zulqarnain","Estimasi waktu membaca":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192"},"author":{"name":"Aziz Zulqarnain","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320"},"headline":"Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder","datePublished":"2026-04-14T11:41:34+00:00","dateModified":"2026-04-14T14:28:35+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192"},"wordCount":898,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Kualitas.jpg","articleSection":["Filosofi"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/relevansi.id\/?p=192#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192","url":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192","name":"Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder - Relevansi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Kualitas.jpg","datePublished":"2026-04-14T11:41:34+00:00","dateModified":"2026-04-14T14:28:35+00:00","author":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/relevansi.id\/?p=192"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#primaryimage","url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Kualitas.jpg","contentUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Kualitas.jpg","width":1218,"height":812},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=192#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/relevansi.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#website","url":"https:\/\/relevansi.id\/","name":"Relevansi","description":"Selalu Relevan ","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/relevansi.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320","name":"Aziz Zulqarnain","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg","caption":"Aziz Zulqarnain"},"description":"Direktur Program The Hope Institute","sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/aziz.zulqarnain\/"],"url":"https:\/\/relevansi.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/192","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=192"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/192\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":199,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/192\/revisions\/199"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/194"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=192"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=192"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=192"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}