{"id":204,"date":"2026-04-30T11:18:36","date_gmt":"2026-04-30T11:18:36","guid":{"rendered":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204"},"modified":"2026-04-30T11:18:37","modified_gmt":"2026-04-30T11:18:37","slug":"tanah-sebagai-tulang-punggung-kehidupan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204","title":{"rendered":"Tanah Sebagai Tulang Punggung Kehidupan"},"content":{"rendered":"\n<p>Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan semakin banyaknya penelitian yang dilakukan di era modern ini, semakin banyak juga ditemukannya fakta ilmiah yang menyangkut peranan tanah dalam kehidupan manusia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai fakta yang&nbsp; telah ditemukan, semakin meyakinkan manusia bahwa tanah memang benar-benar merupakan tulang punggung kehidupan yang memiliki peranan sangat vital. Tanpa kehadiran tanah, kehidupan di bumi tentu akan terhenti.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>No soil no food, <\/em>adagium yang seperti itu adanya. Kebutuhan pokok&nbsp; kita sehari-hari hampir semuanya terdapat peranan tanah di dalamnya. Dengan bantuan sinar matahari, proses pertumbuhan bermacam tanaman terjadi di dalam tanah. Setelah siap panen, tumbuhan akan dikonsumsi oleh manusia secara langsung dan juga hewan, setelah hewan tumbuh besar, manusia bisa mengkonsumsinya.<\/p>\n\n\n\n<p>Raleigh Barlowe, penulis buku <em>Land Resource Economics,<\/em> mengilustrasikan tanah seperti sebongkah intan (batu permata) yang memiliki beragam sudut pandang dalam menilainya. Adakalanya tanah dipandang sebagai ruang, alam, faktor produksi, barang-barang konsumsi, milik, dan modal.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di samping itu, ada juga yang memandang tanah sebagai benda yang berkaitan dengan Tuhan (sang pencipta), dan ada juga pandangan bahwa tanah sebagai tabungan (<em>savings<\/em>), serta ada juga yang menjadikan tanah sebagai aset.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena memiliki peran yang sangat krusial, tanah memiliki makna penting dan nilai spiritual yang tinggi di beberapa ajaran agama. Dalam ajaran Buddhisme, misalnya, tanah atau juga disebut \u201calasan\u201d merujuk kepada asas atau titik permulaan di mana sesuatu dibina atau dikembangkan. Tanah juga menggambarkan peringkat-peringkat kehidupan makhluk hidup yang berterusan tanpa henti.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks agama Hindu, khususnya dalam aliran <em>Vaishnavisme<\/em>, konsep tanah memiliki makna yang mendalam dan beragam. Tanah bukan sekadar permukaan fisik, tetapi juga menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting dan ekspresi emosi yang mendalam. Ia menjadi tempat manifestasi kebaktian, kerendahan hati, dan bahkan keputusasaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanah juga menjadi tempat di mana pesan atau emosi disampaikan. Permukaan tanah digunakan sebagai media untuk menuliskan pesan, menunjukkan bahwa tanah memiliki peran penting dalam komunikasi dan ekspresi diri. Selain itu, tanah juga menjadi tempat peristirahatan atau tujuan akhir dari suatu tindakan. Dewa Vaikuntha berbaring di tanah saat memasuki <em>yoga-nidra<\/em>, dan Lakshmi diangkat ke tanah.<\/p>\n\n\n\n<p>Islam membahas tanah dalam berbagai konteks dan juga makna tanah bagi manusia. <em>Pertama,<\/em> Allah SWT menyebutkan di dalam Al-Quran bahwasannya manusia diciptakan dari saripati tanah. Dalam surat Al-Mu\u2019minun ayat 12 disebutkan,&nbsp; bahwasannya manusia memang benar secara langsung diciptakan dan dibentuk dari tanah seperti halnya membuat patung dan barang-barang yang lainya dari tanah.<\/p>\n\n\n\n<p>Makna lainnya juga bahwa yang dimaksud dengan \u201cdiciptakan dari tanah\u201d adalah karena semua kebutuhan sandang, pangan, dan papannya manusia pasti ada kaitannya dengan tanah. Maka tanah yang dikelola dan juga dijaga dengan baik menjadikan kehidupan manusia akan baik pula, karena tanah adalah manusia dan manusia adalah tanah yang juga menjadi bagian dari alam.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Kedua, <\/em>bahwasanya tanah menjadi penampakan dan tanda-tanda akan kebesaran Allah SWT bagi manusia. Tanah&nbsp; menjadi bagian dari unsur-unsur alam bersama dengan air, udara, hewan, tumbuhan dan yang lainnya sebagai sumber dan penopang kehidupan seluruh umat manusia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Seluruh alam ini juga menjadi cerminan dari Allah SWT Yang Maha Besar dan Bijaksana, yang menjadikan alam ini diciptakan dengan seimbang pada awalnya, tapi karena ulah manusia yang merusak, keseimbangan alam menjadi terganggu.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu Allah SWT juga menampakan kekuasaan-Nya melalui terjadinya berbagai bencana alam yang terjadi seperti tsunami, gempa bumi, letusan gunung dan yang lainnya untuk menyadarkan manusia, jangan semena-mena dalam berinteraksi dan memanfaatkan alam.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ketiga,<\/em> Allah SWT adalah pemilik seluruh alam ini termasuk di antaranya tanah. Manusia hanya diperintahkan untuk mengelola tanah dengan sebaik-baiknya, bukan menjadi pemilik mutlak akan tanah. Banyak terjadi konflik antara sesama manusia baik itu sesama warga, perusahaan dengan warga, bahkan negara dengan warga yang terjadi akibat perebutan atas tanah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Begitu pula dengan perspektif akan tanah dari berbagai budaya yang ada di Indonesia. Kita ambil contoh misalnya, makna tanah dalam kebudayaan Jawa yang mengandung nilai spiritual. Karena itu, dalam kebudayaan Jawa, tanah biasa disebut dengan \u201csiti\u201d. Arti dari kata \u201csiti\u201d yaitu \u201cyang mulia\u201d atau \u201cyang terhormat\u201d. Oleh sebab itu, tanah dalam kebudayaan Jawa termasuk ke dalam \u201craja peni\u201d.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selo Soemardjan, bapak sosiologi Indonesia, yang juga sangat <em>concern <\/em>dalam meneliti kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia, menyatakan bahwa bagi orang Jawa, segala sesuatu yang berharga akan diberi awalan kata raja. Untuk benda yang berharga diberi nama \u201craja peni\u201d. Raja bagi orang Jawa adalah sakti, suci, dan wakil Tuhan di bumi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Jika tanah diposisikan sebagai raja peni, maka tanah memiliki nilai spiritual, yang mana wajib dilestarikan, dijaga dan memiliki ikatan batin dengan manusia serta makhluk lainnya. Oleh sebab itu, dalam konteks keseimbangan ekosistem, dalam budaya Jawa terdapat pepatah seperti \u201cIbu Tanah, Bapak Angkasa\u201d. Tanah adalah ibu, udara adalah ayah, ibu dan ayah harus harmoni untuk menjaga keseimbangan alam.<\/p>\n\n\n\n<p>Kebudayaan Sunda juga memiliki tradisi-tradisi yang berkaitan dengan tanah, tradisi seperti <em>Mipit Nyokot <\/em>kerap dilakukan oleh para petani setelah melakukan panen raya, dimana tanah dibiarkan untuk tidak digarap dan ditanami agar tanah dapat beristirahat beberapa saat sebagai simbol penghormatan, menjaga kesakralan tanah, dan juga menjadi bentuk rasa kasih sayang manusia kepada alam yang banyak memberikan kehidupan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tanah juga menjadi sebuah identitas budaya dan simbol kampung halaman yang sangat kuat. Dalam berbagai karya sastra sunda, seperti sajak-sajak yang ditulis oleh beberapa sastrawan sunda, tanah sering digambarkan sebagai tempat yang subur dan indah, mencerminkan rasa kasih sayang dan rindu terhadap tanah kelahiran yang indah dan subur. Ini menunjukan bahwa kebudayaan sunda menjadikan tanah bukan hanya sekadar entitas fisik semata, tetapi juga sesuatu yang mengandung nilai kearifan lokal dan tradisi yang dijaga dan harus dilanjutkan oleh generasi mendatang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Karena begitu bergantungnya manusia kepada tanah, konflik atas nama tanah pun juga tidak dapat dihindarkan, hal ini karena tanah juga memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi di manapun. Salah satu contoh kasus, konflik besar yang terjadi di Desa Wadas akibat penolakan yang meluas dari warga setempat terhadap pembangunan proyek tambang batu andesit dengan luas tanah yang akan dikeruk mencapai 145 hektare. Warga khawatir dengan pembangunan tambang ini akan merusak 28 titik sumber mata air warga desa.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut data kementerian ATR\/BPN, kasus perselisihan tanah yang dilaporkan ke kementerian tersebut mencapai 5.973 kasus di tahun 2024, dengan berbagai jenis sengketa tanah dan konflik pertanahan. Konflik pertanahan seperti ini, secara kultural pada dasarnya dapat dihindari ketika kita mampu meyakini bahwasanya manusia bukanlah pemilik tanah yang sebenarnya. Manusia kemudian bisa kembali menjalankan peran aslinya yaitu sebagai pengelola tanah dan memanfaatkan alam dengan baik serta tidak merusaknya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai negara yang penuh dengan unsur hara di dalam tanah yang menjadikannya sangat subur, apalagi dengan \u201ckandungan bawah tanahnya\u201d yang menggiurkan, hal ini dapat menjadikan pengelolaan tanah di Indonesia mengarah kepada kemakmuran di satu sisi, atau bencana di sisi yang lain. Kemakmuran untuk manusia Indonesia karena pengelolaan tanah yang baik, dan bencana akibat eksploitasi tanah yang berlebihan dan merusak oleh tangan-tangan yang serakah.&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan semakin banyaknya penelitian yang dilakukan di era modern ini, semakin banyak juga ditemukannya fakta ilmiah yang menyangkut peranan tanah dalam kehidupan manusia.&nbsp; Berbagai fakta yang&nbsp; telah ditemukan, semakin meyakinkan manusia bahwa tanah memang benar-benar merupakan tulang punggung kehidupan yang memiliki peranan sangat vital. Tanpa kehadiran tanah, kehidupan di bumi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":206,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-container-style":"default","site-container-layout":"default","site-sidebar-layout":"default","disable-article-header":"default","disable-site-header":"default","disable-site-footer":"default","disable-content-area-spacing":"default","footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-204","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-lingkungan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.0 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Tanah Sebagai Tulang Punggung Kehidupan - Relevansi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Tanah Sebagai Tulang Punggung Kehidupan - Relevansi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan semakin banyaknya penelitian yang dilakukan di era modern ini, semakin banyak juga ditemukannya fakta ilmiah yang menyangkut peranan tanah dalam kehidupan manusia.&nbsp; Berbagai fakta yang&nbsp; telah ditemukan, semakin meyakinkan manusia bahwa tanah memang benar-benar merupakan tulang punggung kehidupan yang memiliki peranan sangat vital. Tanpa kehadiran tanah, kehidupan di bumi [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Relevansi\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-04-30T11:18:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-04-30T11:18:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Tanah.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1218\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"812\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Daudi Fathan\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Daudi Fathan\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204\"},\"author\":{\"name\":\"Daudi Fathan\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/e0c0ce751ae6eebc8a0f8f403f039193\"},\"headline\":\"Tanah Sebagai Tulang Punggung Kehidupan\",\"datePublished\":\"2026-04-30T11:18:36+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-30T11:18:37+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204\"},\"wordCount\":1106,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Tanah.jpg\",\"articleSection\":[\"Lingkungan\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204\",\"name\":\"Tanah Sebagai Tulang Punggung Kehidupan - Relevansi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Tanah.jpg\",\"datePublished\":\"2026-04-30T11:18:36+00:00\",\"dateModified\":\"2026-04-30T11:18:37+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/e0c0ce751ae6eebc8a0f8f403f039193\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Tanah.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Tanah.jpg\",\"width\":1218,\"height\":812},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/relevansi.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Tanah Sebagai Tulang Punggung Kehidupan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/\",\"name\":\"Relevansi\",\"description\":\"Selalu Relevan \",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/relevansi.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/e0c0ce751ae6eebc8a0f8f403f039193\",\"name\":\"Daudi Fathan\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Daudi-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Daudi-96x96.jpg\",\"caption\":\"Daudi Fathan\"},\"description\":\"Direktur Keuangan The Hope Institute\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.instagram.com\/daudif21\/\"],\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/?author=4\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Tanah Sebagai Tulang Punggung Kehidupan - Relevansi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Tanah Sebagai Tulang Punggung Kehidupan - Relevansi","og_description":"Dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi dan semakin banyaknya penelitian yang dilakukan di era modern ini, semakin banyak juga ditemukannya fakta ilmiah yang menyangkut peranan tanah dalam kehidupan manusia.&nbsp; Berbagai fakta yang&nbsp; telah ditemukan, semakin meyakinkan manusia bahwa tanah memang benar-benar merupakan tulang punggung kehidupan yang memiliki peranan sangat vital. Tanpa kehadiran tanah, kehidupan di bumi [&hellip;]","og_url":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204","og_site_name":"Relevansi","article_published_time":"2026-04-30T11:18:36+00:00","article_modified_time":"2026-04-30T11:18:37+00:00","og_image":[{"width":1218,"height":812,"url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Tanah.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Daudi Fathan","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Daudi Fathan","Estimasi waktu membaca":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204"},"author":{"name":"Daudi Fathan","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/e0c0ce751ae6eebc8a0f8f403f039193"},"headline":"Tanah Sebagai Tulang Punggung Kehidupan","datePublished":"2026-04-30T11:18:36+00:00","dateModified":"2026-04-30T11:18:37+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204"},"wordCount":1106,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Tanah.jpg","articleSection":["Lingkungan"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/relevansi.id\/?p=204#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204","url":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204","name":"Tanah Sebagai Tulang Punggung Kehidupan - Relevansi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Tanah.jpg","datePublished":"2026-04-30T11:18:36+00:00","dateModified":"2026-04-30T11:18:37+00:00","author":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/e0c0ce751ae6eebc8a0f8f403f039193"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/relevansi.id\/?p=204"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#primaryimage","url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Tanah.jpg","contentUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/CvrRlvns-Tanah.jpg","width":1218,"height":812},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=204#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/relevansi.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Tanah Sebagai Tulang Punggung Kehidupan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#website","url":"https:\/\/relevansi.id\/","name":"Relevansi","description":"Selalu Relevan ","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/relevansi.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/e0c0ce751ae6eebc8a0f8f403f039193","name":"Daudi Fathan","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Daudi-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Daudi-96x96.jpg","caption":"Daudi Fathan"},"description":"Direktur Keuangan The Hope Institute","sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/daudif21\/"],"url":"https:\/\/relevansi.id\/?author=4"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/204","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=204"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/204\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":205,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/204\/revisions\/205"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/206"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=204"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=204"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=204"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}