{"id":208,"date":"2026-05-04T10:34:25","date_gmt":"2026-05-04T10:34:25","guid":{"rendered":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208"},"modified":"2026-05-04T11:20:52","modified_gmt":"2026-05-04T11:20:52","slug":"diagnosa-strategis-perang-hormuz-bagi-dunia-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208","title":{"rendered":"Diagnosa Strategis Perang Hormuz Bagi Dunia Islam"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Rangkaian Kronologis Awal Pecahnya Perang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada hari Sabtu (28\/02\/2026) Israel melancarkan serangan udara di tanah Iran. Serangan ini pada awalnya dikabarkan terjadi di beberapa tempat sekaligus, di antaranya menghantam area Jomhouri dekat Universitas Teheran, lokasi yang berdekatan dengan kantor pemimpin tertinggi Iran, dan belakangan diketahui memang tempat itulah yang menjadi target serangan. Serangan pun dikabarkan dilancarkan di kota-kota lain seperti Isfahan\u2014kota tempat salah satu reaktor nuklir Iran\u2014dan di kota Qom. Serangan ini kemudian disertai peringatan Israel kepada warganya atas kemungkinan retaliasi dari Iran.<a href=\"#_ftn1\" id=\"_ftnref1\"><sup>[1]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam rentang waktu kurang dari 24 jam, Iran menanggapi serangan tersebut dengan melancarkan balasan berupa serangan rudal udara kepada Israel dan sejumlah negara teluk seperti Bahrain, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab dan Irak. Diketahui sesaat kemudian, bahwa serangan Israel merupakan aksi terkoordinasi antara AS-Israel.<\/p>\n\n\n\n<p>Serangan AS-Israel tersebut terjadi hanya dua hari setelah negosiasi nuklir AS-Iran, yang dimediasi Oman di Jenewa, Swiss, berakhir tanpa terobosan berarti. Negosiasi ini berlangsung sebanyak tiga putaran yang dimulai dengan negosiasi tak langsung pada 6 Februari 2026, negosiasi nuklir tingkat tinggi pada 17 Februari 2026 dan negosiasi putaran ketiga pada 26 Februari 2026. Pihak mediator yaitu Oman, dalam setiap tahap negosiasinya, selalu melaporkan bahwa telah terjadi \u201cdorongan positif\u201d dan \u201cprogres signifikan.\u201d Bahkan Oman sempat mengatakan bahwa negosiasi tingkat lanjut akan diadakan di Wina.<a href=\"#_ftn2\" id=\"_ftnref2\"><sup>[2]<\/sup><\/a> Tapi semua \u201colahan\u201d Oman untuk tercapainya mufakat itu berakhir ketika \u201cNegara Api\u201d menyerang.<\/p>\n\n\n\n<p>Serangan rudal laut AS-Israel kepada Iran tersebut juga diketahui meledakkan sebuah sekolah khusus perempuan yang terletak di kota Minab, selatan Iran, yang dengan sangat menyedihkan menjatuhkan korban sipil sedikitnya 51 orang tewas dan 60 orang terluka. Media Iran, IRNA, melaporkan sedikitnya terdapat 170 orang di sekolah tersebut pada saat rudal meledak. Laporan dari sekolah itu diketahui menjadi informasi pertama soal korban serangan AS-Israel kepada Iran.<a href=\"#_ftn3\" id=\"_ftnref3\"><sup>[3]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kira-kira 24 jam setelah serangan AS-Israel dan serangan balasan Iran ke negara-negara teluk. Televisi pemerintah Iran, IRIB, mengkonfirmasi wafatnya pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam sebuah serangan yang dilancarkan AS-Israel sehari sebelumnya. Konfirmasi ini dilakukan beberapa jam setelah presiden AS, Donald Trump, menyatakan terlebih dahulu tewasnya Khamenei.<\/p>\n\n\n\n<p>Ali Khamenei diketahui wafat di kantornya sendiri di pusat kota Teheran. Bersamaan dengan itu, turut juga tewas komandan Garda Revolusi Iran (IRGC) Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, dan salah seorang penasehat keamanan utama Khamenei, Ali Shamkhani. Diketahui beberapa kerabat Khamenei pun turut wafat bersamanya, termasuk seorang putri, menantu laki-laki, menantu perempuan dan cucu.<a href=\"#_ftn4\" id=\"_ftnref4\"><sup>[4]<\/sup><\/a><br><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Korban dan Kerugian yang Diderita Para Pihak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sampai dengan Kamis (23\/04\/2026), perang antara AS dan Iran telah berlangsung 54 hari. Sejauh yang dilaporkan, kurang lebih sekitar 3.275 wafat dan 26.500 orang terluka di pihak Iran. Korban berasal baik dari kalangan militer maupun warga sipil. Selain itu terdapat juga korban di negara-negara lain seperti; 3 orang tewas dan puluhan terluka di Bahrain, 20 orang terluka di Qatar, 12 orang tewas dan 224 terluka di UEA, 3 orang tewas dan 15 terluka di Oman, 3 orang tewas dan 29 terluka di Arab Saudi, 7 orang tewas dan puluhan terluka di Kuwait, 118 orang tewas dan puluhan terluka di Irak, 4 orang tewas di Suriah, 29 orang terluka di Yordania, 4 orang tewas di Palestina, 26 orang tewas dan 7.693 orang tewas di wilayah Palestina yang dijajah Israel, 13 personel militer AS tewas dan 200 terluka dan terakhir 2.294 orang tewas dan 7.554 terluka di Lebanon. Semua korban jiwa dan terluka ini diakibatkan serangan dari kedua belah pihak, baik serangan AS-Israel maupun serangan dari Iran.<a href=\"#_ftn5\" id=\"_ftnref5\"><sup>[5]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu Iran juga mengklaim kerugian ekonomi sebesar 270 miliar dolar AS atau sekitar Rp.4.627 triliun. Sekitar 125.000 fasilitas sipil rusak atau hancur yang terdiri dari 100.000 struktur rumah penduduk yang rusak atau hancur dan lebih dari 23.500 lainnya merupakan infrastruktur komersial.<a href=\"#_ftn6\" id=\"_ftnref6\"><sup>[6]<\/sup><\/a> Dilaporkan juga sekitar 66% situs produksi rudal dan drone Iran hancur bersamaan dengan hancurnya 29 lokasi peluncuran rudal,<a href=\"#_ftn7\" id=\"_ftnref7\"><sup>[7]<\/sup><\/a> lebih dari 90% armada angkatan laut Iran telah dihancurkan beserta pembunuhan kurang lebih 250 pimpinan Iran termasuk Khamenei.<a href=\"#_ftn8\" id=\"_ftnref8\"><sup>[8]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu terdapat juga kerugian ekonomi di pihak Israel sekitar 12,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp.209 triliun rupiah. Juga tercatat sebanyak 28.237 klaim kerusakan properti langsung yang telah diajukan ke dana kompensasi, yang terdiri dari 18.408 klaim kerusakan bangunan, 2.594 klaim kerusakan isi dan peralatan, dan 6.617 klaim kerusakan kendaraan. Seluruh klaim tersebut menyebar di berbagai kota mulai dari Tel Aviv, Beersheba, Arad, Petah Tikva, Dimona dan Beit Shemesh.<a href=\"#_ftn9\" id=\"_ftnref9\"><sup>[9]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu AS juga harus menelan kerugian militer dengan hancurnya sekitar 17 pangkalan militer yang tersebar di Timur Tengah khususnya di negara-negara teluk, 13 pangkalan militer di antaranya dikategorikan sudah tidak layak digunakan, kerusakan juga menimpa aset-aset militer spesifik seperti pada sistem radar canggih THAAD, beberapa unit AN\/TPY-2, dan sistem pertahanan udara Patriot (MIM-104).<a href=\"#_ftn10\" id=\"_ftnref10\"><sup>[10]<\/sup><\/a> Secara keseluruhan, kerusakan aset-aset militer tersebut telah menyebabkan kerugian sekitar 800 juta dolar AS hanya dalam 2 pekan pertama perang saja.<a href=\"#_ftn11\" id=\"_ftnref11\"><sup>[11]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Selain kerugian ekonomi akibat kerusakan, konflik ini juga telah menelan biaya perang yang besar di sisi AS. Pentagon melaporkan bahwa pada 12 hari pertama perang saja, telah menelan biaya perang sebesar 16,5 miliar dolar AS. Tidak mengherankan jika Pentagon kemudian meminta tambahan dana sebesar 200 miliar dolar AS kepada Kongres, yang mana jumlah tersebut masih mungkin berubah.<a href=\"#_ftn12\" id=\"_ftnref12\"><sup>[12]<\/sup><\/a> Warga AS juga mengalami kerugian di dalam negeri akibat naiknya harga BBM yang sempat melampaui harga rata-rata 4 dolar AS per galon (setara Rp.18.200 per liter), hal yang memusingkan para pengendara AS dan Trump sekaligus.<a href=\"#_ftn13\" id=\"_ftnref13\"><sup>[13]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Seluruh kerugian yang diderita para pihak ini, belum termasuk kerugian ekonomi dan militer yang diderita pihak-pihak lain di kawasan Timur Tengah lain, baik negara-negara di wilayah Syam (Suriah, Lebanon, Palestina dan Yordania) maupun negara-negara teluk yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (GCC). Kerugian ekonomi juga tentunya diderita oleh negara-negara di seluruh dunia akibat terputusnya akses ke kawasan tersebut terutama dengan berhentinya lalu lintas di Selat Hormuz.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kecerobohan Strategis Iran<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Selama perang AS-Iran berlangsung, penulis menyaksikan banyak pihak baik dari kalangan masyarakat umum maupun analis yang kurang membedakan antara posisi moral dengan analisis yang jernih. Seakan-akan jika seseorang secara moral berada di sisi Iran dalam perang ini, ia serta merta harus memberikan kritik kepada musuh Iran baik itu AS maupun Israel. Seluruh kesalahan taktis maupun strategis yang dilakukan AS-Israel dikupas dan diiris sampai ke tulang, sementara kesalahan taktis dan strategis yang dilakukan Iran tidak pernah disentuh.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi penulis, ibarat sebuah keluarga dalam sebuah rumah, jika seseorang merasa bagian dari rumah tersebut, maka ia harus mengatakan yang sebenarnya manakala terdapat kekurangan di dalam rumah, baik kekurangan yang disebabkan kerusakan interior dan eksterior rumah, sampai hanya pada kesalahan tata letak, hendaknya seseorang memperbaiki atau minimal mengoreksinya dengan memberitahu anggota rumah yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara sebaliknya, jika rumah musuh kita yang rusak atau salah, bahkan mungkin rumah tetangga kita yang salah pun, pada dasarnya kita tidak perlu repot-repot memberikan kritik dan koreksi kepada mereka. Biarkan itu menjadi urusan mereka dan biarkan mereka terus berbuat kesalahan. Sebagaimana dikatakan oleh Napoleon Bonaparte, \u201cJangan menyela musuhmu saat dia melakukan kesalahan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis memposisikan pandangan ini melalui perspektif Dunia Islam secara umum yang tentunya Iran harus berada di dalamnya. Dan karena Iran merupakan aktor utama dari Dunia Islam dalam konflik ini, maka perlu kita berikan ruang bagi catatan-catatan kritis atas keputusan-keputusan Iran yang mengantarkan Dunia Islam pada situasi seperti saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Khaled Al Jaber, Direktur Eksekutif <em>Middle East Council on Global Affairs<\/em>, lembaga <em>think tank<\/em> yang bermarkas di Qatar mengatakan, bahwa kepemimpinan Iran telah melakukan dua kesalahan strategis besar. Pertama, gagal mengunci kesepakatan dengan AS ketika pintu negosiasi masih terbuka lebar. Kedua, Iran melakukan serangan balasan dengan menargetkan negara-negara teluk sebagai sasaran, yang sebenarnya sejak sebelum terjadinya perang telah berusaha sekuat mungkin untuk meredakan krisis dengan berusaha menjadi mediator dan menjaga netralitas dengan tidak mengizinkan wilayah udara mereka digunakan untuk menyerang Iran.<a href=\"#_ftn14\" id=\"_ftnref14\"><sup>[14]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Pandangan senada juga dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri Turkiye sekaligus mantan Kepala Badan Intelijen Turkiye, Hakan Fidan. Dalam sebuah wawancara di salah satu stasiun televisi pemerintah, TRT Haber, Fidan mengatakan, \u201cnampaknya Iran sedang mengadopsi pendekatan di mana jika saya jatuh, maka saya akan menyeret kawasan ini bersama saya.\u201d Fidan juga menguraikan tujuan perang ini dari sisi penyerang dan apa yang mereka targetkan: Pertama, adalah tentang penilaian militer dan profesional berkenaan dengan penghapusan kemampuan militer Iran. Kedua, adalah operasi militer yang bertujuan menggulingkan rezim. Durasi perang, bentuknya, penyebarannya, dan risiko yang ditimbulkannya akan berubah sesuai dengan kedua tujuan ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Fidan menambahkan, keputusan Iran untuk melancarkan serangan termasuk ke negara-negara teluk juga merupakan hal yang salah. Karena pada dasarnya kawasan ini sedang berupaya keras untuk mencegah pecahnya perang. Sebut saja negara seperti Oman, yang sampai hari terakhir bekerja keras menjadi mediator AS-Iran, tidak luput juga dari serangan Iran. Atau seperti Qatar, yang menurut Fidan, sampai 1 jam sebelum serangan terjadi, perdana menteri sekaligus menteri luar negeri Qatar masih berusaha keras agar mencegah serangan terjadi. Fidan juga merujuk percakapan telepon antara Erdogan dan Trump pada 27 Januari 2026, yang mana saat itu, menurut Fidan, AS hampir membuat keputusan terkait serangan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Fidan juga mengkritik cara Iran dalam berdiplomasi. Ia menceritakan bahwa pada 30 Januari 2026, dalam perbincangannya dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, berkaitan dengan empat poin tuntutan AS kepada Iran. Fidan menyarankan agar Iran mempertimbangkan dua tuntutan, sementara negara di kawasan Timur Tengah lainnya akan membantu memikirkan dua tuntutan lainnya. Menurut Fidan, AS pun sudah sepakat dengan kerangka tersebut, dan pasca konsultasi Araghchi dengan pimpinan di Teheran, Iran memilih kembali ke format negosiasi sebelumnya. Di sinilah Fidan mengkritik Iran, karena pada dasarnya AS telah mau maju selangkah, sementara Iran tidak maju selangkah pun dalam meja perundingan.<\/p>\n\n\n\n<p>Iran tampaknya tidak memahami tekanan pengambilan keputusan yang dihadapi para pemimpin AS. Bahwa terdapat tekanan besar dari Israel akan serangan ini, seandainya Iran mau memahami tekanan yang dihadapi Trump dan menawarkan sesuatu lebih awal, tentu tekanan Israel tidak akan terlalu efektif. Dalam situasi di bibir perang seperti itu, setiap pihak harus bisa memberikan \u201ckesan kemenangan\u201d bagi pihak lain tanpa harus membuat dirinya kalah.<a href=\"#_ftn15\" id=\"_ftnref15\"><sup>[15]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kegagalan strategis Iran baik yang disampaikan oleh Khaled Al Jaber maupun Hakan Fidan bisa dikatakan persis sama. Pertama, tentang kegagalan diplomasi Iran di meja perundingan. Setelah serangan terjadi, Iran memang bisa melakukan justifikasi terhadap retaliasi yang ia lakukan dengan alasan bahwa AS-Israel menyerang ketika proses perundingan berjalan. Nampaknya serangan tersebut memang terpaksa harus dilakukan terlebih dahulu oleh Israel selaku <em>\u201cbad cop\u201d<\/em> setelah serangkaian operasi <em>false flag<\/em> yang gagal. AS harus memenuhi terlebih dahulu <em>\u201cJust War Theory\u201d<\/em> dengan memberi karpet merah kepada Israel untuk menyerang terlebih dahulu, baru kemudian setelah Iran melakukan retaliasi, balasan tersebut menjadi alasan \u201cyang nyaman\u201d bagi AS untuk turut menyerang Iran. Dalam posisi itu, serangan balasan Iran juga pada dasarnya memenuhi <em>\u201cJust War Theory.\u201d<\/em><a href=\"#_ftn16\" id=\"_ftnref16\"><sup>[16]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi bukan di situ kesalahan diplomasi Iran, kegagalan Iran di meja perundingan adalah ketika Iran terlalu lama untuk tidak bergerak maju ke manapun. Sehingga dalam perundingan yang terjadi tiga putaran di Jenewa, Swiss, pada ujungnya AS memberikan \u201charga buang\u201d untuk Iran dari yang awalnya hanya permintaan untuk \u201cdenuklirisasi,\u201d kemudian di ujungnya terdapat penambahan tuntutan \u201cderudalisasi\u201d dalam sistem persenjataan Iran.&nbsp; Dari sini seharusnya Iran sudah membaca bahwa tuntutan \u201cderudalisasi\u201d merupakan \u201charga buang\u201d yang diajukan AS yang tidak masuk akal untuk Iran penuhi, dan AS pun sadar akan hal itu. Ringkasnya, jika Iran dapat mengunci kesepakatan \u201cdenuklirisasi\u201d pada perundingan tahap awal, tekanan untuk \u201cderudalisasi\u201d tidak akan muncul. Dari titik inilah sebenarnya perang yang sudah berada di bibir lembah, telah mulai terpelanting sepenuhnya ke dasar jurang.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua, ketika serangan pendahuluan dilancarkan Israel, Iran juga melakukan kecerobohan strategis dengan melancarkan serangan balasan ke seluruh negara-negara teluk sekaligus. Bayangkan, dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, seluruh pangkalan militer AS di negara-negara teluk telah diserang oleh Iran. Memang betul yang Iran serang merupakan pangkalan militer AS, tapi hal tersebut memberikan kesan bahwa Iran seperti mengabaikan peran negara-negara teluk yang merupakan pihak yang sangat gigih untuk memediasi konflik. Selain itu juga negara-negara yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk (GCC), satu per satu pada akhir Januari 2026, telah menyatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan wilayah udara mereka dipakai AS untuk menyerang Iran, sebagai bukti netralitas teluk.<a href=\"#_ftn17\" id=\"_ftnref17\"><sup>[17]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Ancaman Iran akan melakukan serangan balik ke negara GCC jika wilayah udara mereka digunakan untuk menyerang Iran, pada dasarnya dapat dipahami sebagai cara Iran menghindari perang. Dengan melakukan ancaman tersebut, Iran berharap agar negara GCC mendesak AS untuk tidak menyerang Iran. Tapi ketika serangan pada akhirnya tetap dilancarkan AS dan Iran memutuskan untuk menyerang seluruh negara GCC dalam kurun waktu kurang dari 24 jam, hal itu merupakan kecerobohan strategis yang sangat fatal.<\/p>\n\n\n\n<p>Tepat dua hari sebelum perang meletus, pada Kamis (27\/02\/2026) Annelle Sheline, peneliti program Timur Tengah di <em>Quincy Institute<\/em>, sebuah lembaga <em>think tank<\/em> yang bermarkas di Amerika Serikat, menengarai tentang gelagat negara-negara GCC\u2014khususnya Qatar dan Arab Saudi\u2014akan melakukan peninjauan ulang kerjasama pertahanan mereka dengan Amerika Serikat.<a href=\"#_ftn18\" id=\"_ftnref18\"><sup>[18]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menganalisis bagaimana sikap negara GCC, pertama kita harus menyadari bahwa GCC terdiri dari negara-negara dengan rezim non-demokratis. Oleh karena itu, sikap dari rakyat di akar rumput tidak serta merta akan sama dengan sikap elit di pusat kepemimpinan. Maka pendekatan kuantitatif cukup dapat diandalkan dalam menganalisis sikap masyarakat arab di akar rumput. Sementara untuk menganalisis paradigma elit kepemimpinan negara GCC, pendekatan kualitatif melalui analisis rangkaian kebijakan yang dilakukan, akan memberikan gambaran yang lebih jernih.<\/p>\n\n\n\n<p>Sheline memulai analisisnya dengan menerangkan survei <em>Arab Opinion Index<\/em> pada tahun 2025. Dalam survei yang melibatkan sekitar 40.000 responden tersebut, 84% responden mengatakan kebijakan Israel berbahaya bagi stabilitas dan keamanan kawasan, di saat yang sama 77% responden mengatakan kebijakan AS berbahaya bagi stabilitas dan keamanan kawasan, dan sekitar 53% responden mengatakan kebijakan Iran berbahaya bagi stabilitas dan keamanan kawasan. Sisanya mengatakan masing-masing sebanyak 48% dan 47% kebijakan Rusia dan Prancis berbahaya bagi stabilitas dan keamanan kawasan.<a href=\"#_ftn19\" id=\"_ftnref19\"><sup>[19]<\/sup><\/a> Dua tahun sebelumnya, pada tahun 2022, survei yang sama menemukan bahwa hanya 21% responden yang melihat AS sebagai ancaman, sementara 38% mengatakan hal yang sama tentang Israel, dan hanya 7% persen yang menyebut Iran.<a href=\"#_ftn20\" id=\"_ftnref20\"><sup>[20]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks sikap para pemimpin GCC, Sheline juga menemukan serangkaian indikasi bahwa para pemimpin GCC sedang melakukan peninjauan ulang terhadap kerjasama pertahanan mereka dengan AS. Analisis ini dipicu oleh serangkaian peristiwa yang terjadi dari mulai Juni-September 2025, di mana dalam waktu kurang dari 6 bulan, Qatar selaku negara teluk dengan pangkalan AS terbesar di kawasan, diserang oleh dua pihak yang berbeda. Pertama, pada Juni 2025 Qatar diserang oleh Iran dalam rangkaian perang 12 hari yang melibatkan Israel dan Iran. Kedua, pada bulan September 2025, Qatar diserang oleh Israel dalam upayanya memediasi antara Palestina dan Israel.<a href=\"#_ftn21\" id=\"_ftnref21\"><sup>[21]<\/sup><\/a> Meskipun beberapa analis menganggap serangan Iran ke pangkalan Al-Udeid di Qatar tersebut merupakan serangan simbolik, tapi serangan itu telah mengubah premis dasar di kepala negara-negara teluk, bahwa untuk pertama kalinya, mereka mulai menyadari bahwa pangkalan militer AS yang tadinya menjadi jaminan keamanan, ternyata sekarang berubah menjadi sumber ancaman.<\/p>\n\n\n\n<p>Serangan Israel ke Qatar juga menimbulkan spekulasi, mengapa AS tidak mencegah Israel menyerang Qatar? Dan jika Israel melakukannya tanpa izin AS, lantas apa yang akan mencegah Israel untuk tidak kembali menyerang di masa depan? Israel dikabarkan memberi tahu AS hanya beberapa menit sebelum rudal menghantam. Timbul juga pertanyaan, tentang mengapa sistem pertahanan AS yang berada di Qatar tidak aktif untuk menghalau serangan tersebut?<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks pertahanan, Qatar pada dasarnya telah memasang kuda-kuda sejak tahun 2015, pada tahun tersebut Qatar menandatangani kesepakatan 7 miliar dolar AS untuk membeli pesawat tempur Prancis. Kemudian untuk pertama kalinya, Qatar membuka pangkalan militer Turkiye pada tahun 2016, yang menjadi pangkalan militer pertama Turkiye di Timur Tengah. Boikot yang sempat dilakukan beberapa negara Timur Tengah kepada Qatar\u2014yang tidak dicegah Trump\u2014makin meyakinkan Qatar untuk melakukan diversifikasi. Di satu sisi Qatar terus memperkuat kerjasama militernya dengan AS, tapi di sisi yang lain secara merayap, Qatar membuka banyak jalur diversifikasi kerjasama pertahanan dengan beberapa negara kekuatan menengah.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal yang sama dialami oleh Arab Saudi, serangan Iran ke fasilitas minyak Arab Saudi pada 2019, ditanggapi Trump dengan sikap dingin. Hal ini mendorong Saudi untuk tidak menjadikan AS sebagai tumpuan keamanan, dan pada 2023 dalam sebuah pertemuan yang difasilitasi Beijing, Riyadh mulai menormalisasi hubungannya dengan Teheran, hal ini juga merupakan kelanjutan dari gencatan senjata antara Riyadh dengan Houthi pada April 2022.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, tekanan AS kepada Saudi untuk menormalisasi hubungan dengan Israel juga menjadi beban untuk Saudi. Para pakar kebijakan luar negeri Saudi bahkan menyebut, keyakinan Israel bahwa Saudi akan menormalisasi hubungan dengan Israel lebih banyak disandarkan pada \u201ckhayalan\u201d daripada kenyataan yang sebenarnya. Saudi pada dasarnya tetap berpegang pada prinsip yang sama, bahwa Saudi akan menormalisasi hubungan dengan Israel manakala semua pihak setuju akan pendirian negara Palestina yang merdeka. Kebijakan tersebut bahkan tidak bergeser di era kepemimpinan Muhammad bin Salman (MBS).<a href=\"#_ftn22\" id=\"_ftnref22\"><sup>[22]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian pendekatan agresif AS kepada Iran juga menjadi beban tersendiri bagi Arab Saudi dan negara GCC yang lain. Oleh karena itu Saudi merasa memerlukan payung pertahanan lain selain dari AS. Hal itulah yang mendorong Saudi untuk membeli sistem pertahanan rudal jarak menengah dari Korea Selatan senilai 3,2 miliar dolar AS.<a href=\"#_ftn23\" id=\"_ftnref23\"><sup>[23]<\/sup><\/a>Saudi juga sedang menjajaki pembelian pesawat JF-17 besutan Tiongkok-Pakistan.<a href=\"#_ftn24\" id=\"_ftnref24\"><sup>[24]<\/sup><\/a> Selain itu juga Saudi telah menandatangani kesepakatan \u201cpayung nuklir\u201d bersama dengan Pakistan.<a href=\"#_ftn25\" id=\"_ftnref25\"><sup>[25]<\/sup><\/a> Rumor yang saat ini juga mendekati kenyataan, di mana Arab Saudi bersama Turkiye, Mesir dan Pakistan dikabarkan akan menyepakati aliansi pertahanan strategis bersama.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari survei <em>Arab Opinion Index<\/em>, tergambar bahwa memang ada kekhawatiran masyarakat Arab terhadap Iran, tapi kekhawatiran mereka terhadap Israel dan AS terlihat jauh lebih besar dan jauh lebih solid. Maka jika Iran membaca \u201calam pikiran\u201d masyarakat Arab ini sejak awal, Iran seharusnya tidak menyerang negara teluk secara sekaligus tanpa pandang bulu. Karena jika perang adalah tentang <em>\u201chow to win the hearts and minds of the people,\u201d<\/em> maka sebenarnya hati dan pikiran masyarakat Arab lebih cenderung waspada kepada AS-Israel daripada kepada Iran. Hal ini sebenarnya cukup mengejutkan, karena setelah 47 tahun propaganda anti Iran\u2014baik secara politik maupun sentimen keagamaan\u2014yang disebarkan di antara masyarakat Arab, ternyata penerimaan masyarakat Arab kepada Iran tetap lebih besar daripada penerimaan mereka terhadap AS-Israel.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita bisa memahami serangan balasan Iran kepada negara GCC menyasar instalasi militer AS yang berada di sana. Tapi hal ini tetap merupakan sebuah kesalahan, karena faktanya instalasi tersebut sudah banyak dikosongkan oleh pasukan AS, hal ini tergambar dari jumlah korban dari pihak AS yang hanya berjumlah 13 pasukan tewas dan 200 orang luka-luka, dari total 50.000 pasukan AS yang tersebar di seluruh negara GCC.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari gambaran tersebut, jika pun Iran memang sangat perlu untuk menyerang negara GCC, seharusnya Iran tidak menyerang negara GCC secara keseluruhan, apalagi dalam tempo kurang dari 24 jam. Iran seharusnya hanya menyerang negara teluk yang paling lemah atau negara teluk yang menjadi simbol paling terang dari hubungan teluk dengan Israel saja. Dengan begitu, kekhawatiran masyarakat Arab kepada AS-Israel sekaligus klaim Iran bahwa mereka juga berjuang untuk melawan Israel, bisa dikonversi oleh Iran menjadi dukungan mutlak masyarakat Arab kepada Iran. Penulis memandang jika ini yang dilakukan Iran, maka kewaspadaan masyarakat Arab kepada Iran akan menurun drastis, sekaligus menaikkan secara signifikan dukungan masyarakat Arab kepada Iran, dan kemudian mengikis sentimen keagamaan Sunni-Syiah.<\/p>\n\n\n\n<p>Niccolo Machiavelli dalam <em>Il Principe<\/em>, mengatakan bahwa seorang pangeran hendaknya ditakuti, tapi jangan sampai dibenci, karena kebencian justru hanya akan menimbulkan perlawanan.<a href=\"#_ftn26\" id=\"_ftnref26\"><sup>[26]<\/sup><\/a> Dalam bahasa Indonesia, keadaan seseorang yang ditakuti tapi di sisi yang lain tidak dibenci disebut dengan \u201cdisegani.\u201d Hal ini seharusnya dilakukan bukan hanya oleh seorang pangeran atau pemimpin, tapi dalam konteks hari ini, seharusnya dilakukan oleh entitas negara. Maka jika Iran hanya menyerang salah satu negara teluk saja, di satu sisi ia akan mempertahankan ketakutan negara GCC lain dengan fakta bahwa Iran memang mampu menjangkau mereka. Di sisi yang lain, negara GCC lainnya tidak akan mengkonversi kebencian kepada Iran karena mereka tidak diserang. Disitulah Iran akan \u201cmengunci\u201d dukungan rakyat dan elit Arab sekaligus, serta akan mendapatkan pengaruh yang lebih besar di kawasan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi faktanya sekali lagi, Iran menyerang negara GCC sekaligus dalam tempo kurang dari 24 jam, hal ini penulis baca justru akan mengkonversi kewaspadaan masyarakat teluk menjadi lebih besar. Dan menyerang sekaligus tanpa pandang bulu\u2014termasuk Qatar dan Oman yang memediasi\u2014justru hanya akan mengkonversi ketakutan masyarakat dan elit Arab menjadi kebencian kepada Iran. Dengan kesalahan eksekusi ini, bisa diprediksi, meskipun negara GCC diisi oleh rezim non-demokratis, serangan Iran kepada seluruh negara GCC tanpa pandang bulu, akan menimbulkan kesepakatan persepsi baik di tataran masyarakat Arab akar rumput maupun di kalangan elitnya, bahwa mereka bersepakat Iran tidak dapat diandalkan dalam perdamaian, dan akan menjadikan Iran sebagai ancaman utama bagi teluk sejajar dengan AS dan Israel. Ringkasnya, Iran pada awalnya menggariskan tujuan yang tepat, tapi dieksekusi dengan cara yang salah.<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;Ketiga, kecerobohan strategis Iran selanjutnya adalah, fakta bahwa sejak 47 tahun pasca Revolusi Islam Iran, Teheran tidak serius menggarap wilayah udara mereka dan menutupnya rapat-rapat. Banyak analis yang membaca serangan Israel yang mengenai tepat di kediaman Ali Khamenei sebagai kegagalan intelijen dan kebocoran informasi dari dalam lingkaran intelijen Iran. Tapi pada akhirnya, serangan tetap harus dilakukan lewat udara. Jadi walaupun Iran mengalami kebocoran intelijen dari dalam, kediaman Ali Khamenei tetap akan sangat sulit diserang manakala wilayah udara Iran tertutup dengan rapat.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini harus digaris bawahi dengan serius, karena kehilangan pemimpin tertinggi di detik pertama perang merupakan fakta memalukan dalam konteks pertahanan. Sebagai sebuah perbandingan, pada akhirnya pimpinan tertinggi Hamas seperti Ismail Haniyah, Yahya Sinwar dan Muhammad Deif juga gugur dalam perang. Tapi mereka gugur setelah satu tahun perang berjalan, bukan di hari pertama pertempuran, bahkan Haniyah gugur dalam kunjungannya ke Iran, sebuah fakta memalukan lainnya bagi Iran. Wilayah udara Gaza tentu lebih terbuka dari Iran, tapi mereka melakukan diversifikasi instrumen pertahanan untuk mengantisipasi serangan udara tersebut, karena Gaza menyadari akan betapa efektifnya serangan udara.<\/p>\n\n\n\n<p>Boikot yang dilakukan AS kepada Iran tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak menutup ruang udara, karena faktanya Iran juga mempunyai dua mitra erat (Rusia dan Tiongkok) yang juga memiliki kemampuan dalam produksi sistem pertahanan udara. Dengan ratusan ribu rudal, Iran mungkin bisa berbangga ia merupakan penyerang yang baik, tapi Iran jelas memiliki aib yang sangat menganga dalam bertahan. Seperti dalam permainan sepak bola, jika anda hanya mampu mencetak gol, tapi selalu kebobolan lebih banyak, <em>you still lose the game.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Tetapi pada sisi yang lain, kegagalan Iran dalam menutup ruang udaranya ini, akan menjadi pelajaran besar bagi seluruh negara yang mengikuti perang ini dengan baik. Penulis memandang akan terjadi perubahan doktrin besar-besaran dalam menata kekuatan udara setiap negara. Dan pasca perang ini usai, akan terjadi belanja besar-besaran perangkat keras pertahanan udara dari setiap negara yang mampu. Karena pada akhirnya semua pihak belajar, kegagalan intelijen mungkin saja terjadi, tapi serangan pendahuluan akan tetap tercegah manakala wilayah udara sebuah negara tertutup dengan baik. <em>It\u2019s time to buy.<\/em><br><\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>Quranic Game Theory<\/em><\/strong><strong> dan Urgensi Mencegah Perang<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks Dunia Islam, cukup umum kita saksikan bahwa Islam memiliki paradigma yang solid dalam memandang perang. Jika seseorang hendak mencari referensi Islam dalam menghadapi peperangan, akan cukup mudah didapati anjuran, seruan bahkan perintah langsung untuk berperang. Doktrin untuk memiliki keberanian dan ketegaran dalam menghadapi perang cukup banyak kita dapati baik dalam teks-teks Al-Quran, Hadits maupun pendapat dan kesepakatan para ulama.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal inilah kiranya yang menjadi alasan\u2014terlepas apakah seseorang itu merupakan penganut Sunni maupun Syi\u2019ah\u2014terdapatnya reaksi yang sama dan perspektif yang sama dari kaum muslimin dalam memandang perang, terutama dalam keberaniannya untuk menjalani resiko perang yang paling tinggi, yaitu kematian. Baik dari kalangan Sunni maupun Syi\u2019ah, atau kelompok lainnya, kita akan mendapati bahwa kaum muslimin tidak keberatan untuk berjihad dan menjemput syahid, atau dengan bahasa yang sedang umum dalam perang kali ini disebut dengan martir.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan berikutnya adalah, jika kita mendapati banyak sekali teks dan doktrin dalam Islam yang menganjurkan untuk tegar dalam berperang, apakah ada juga anjuran dalam Islam untuk mencegah perang?<\/p>\n\n\n\n<p>Anis Matta dalam bukunya, <em>Pesan Islam Menghadapi Krisis<\/em>, menggambarkan dengan sangat baik kisah Ratu Balqis dalam menghadapi krisis, yang mana dalam konteks tersebut, merupakan kisah antara Ratu Balqis dan dinamika kelompok elitnya dalam menghadapi ancaman dari kerajaan Nabi Sulaiman. Penulis mengakui sangat terkesan dengan penuturan Anis Matta dalam konteks cerita Balqis ini, dan ini merupakan perspektif yang relevan dalam memahami bagaimana anjuran Islam dalam mencegah perang.<\/p>\n\n\n\n<p>Anis Matta membuka cerita ini dengan mengutip dialog Balqis kepada kelompok elitnya:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e\u062a\u0652 \u064a\u0670\u0653\u0627\u064e\u064a\u064f\u0651\u0647\u064e\u0627 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064e\u0644\u064e\u0624\u064f\u0627 \u0627\u0650\u0646\u0650\u0651\u064a\u0652\u0653 \u0627\u064f\u0644\u0652\u0642\u0650\u064a\u064e \u0627\u0650\u0644\u064e\u064a\u064e\u0651 \u0643\u0650\u062a\u0670\u0628\u064c \u0643\u064e\u0631\u0650\u064a\u0652\u0645\u064c (\u0662\u0669)<\/p>\n\n\n\n<p>&nbsp;\u201cWahai para pemuka kaumku, sesungguhnya telah disampaikan kepadaku sebuah surat yang mulia.\u201d [QS: An-Naml 29]<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam hal ini Anis Matta menguraikan bahwa Balqis mengumpulkan kelompok elitnya untuk meminta pendapat dan analisis dari surat yang disampaikan Nabi Sulaiman. Menurutnya, ayat ini merupakan salah satu pengakuan bahwa kelompok elit merupakan kelas sosial yang tidak dapat dihindari, karena pada dasarnya Allah memberikan kemampuan kepada manusia dengan kadar yang berbeda. Dan dalam sebuah negara, kelompok elit ini memiliki tugas untuk melakukan <em>(daily management)<\/em>. Dan oleh karena itu, tanggung jawab penanganan krisis berada di pundak pemimpin tertinggi sekaligus&nbsp; para <em>elite circle<\/em> yang mengelilinginya.<a href=\"#_ftn27\" id=\"_ftnref27\"><sup>[27]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>\u0627\u0650\u0646\u064e\u0651\u0647\u0657 \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0633\u064f\u0644\u064e\u064a\u0652\u0645\u0670\u0646\u064e \u0648\u064e\u0627\u0650\u0646\u064e\u0651\u0647\u0657 \u0628\u0650\u0633\u0652\u0645\u0650 \u0627\u0644\u0644\u0651\u0670\u0647\u0650 \u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062d\u0652\u0645\u0670\u0646\u0650 \u0627\u0644\u0631\u064e\u0651\u062d\u0650\u064a\u0652\u0645\u0650 \u06d9 \u0663\u0660 \u0627\u064e\u0644\u064e\u0651\u0627 \u062a\u064e\u0639\u0652\u0644\u064f\u0648\u0652\u0627 \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u064e\u0651 \u0648\u064e\u0623\u0652\u062a\u064f\u0648\u0652\u0646\u0650\u064a\u0652 \u0645\u064f\u0633\u0652\u0644\u0650\u0645\u0650\u064a\u0652\u0646\u064e \u08d6 (\u0663\u0661)<\/p>\n\n\n\n<p><em>&nbsp;<\/em><em>\u201cSesungguhnya (surat) itu berasal dari Sulaiman dan isinya (berbunyi), \u201cDengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.\u201d<\/em> Sulaiman menuliskan surat, <em>\u201cDatanglah kepadaku, jangan kalian berlaku angkuh kepadaku, jangan sombong kepadaku, dan datangilah aku dalam keadaan menyerahkan diri.\u201d<\/em> (Menyerahkan diri di sini meliputi juga masuk ke dalam agama Sulaiman). [QS: An-Naml 30-31]<\/p>\n\n\n\n<p>Sewaktu menerima surat Sulaiman, Balqis mendapatkan dua kesan: Pertama, surat yang dikirimkan melalui perantara seekor burung, alih-alih mengutus manusia, menunjukan <em>power<\/em> yang luar biasa pada si pengirim tulisan. Kedua, teks surat yang sangat pendek namun misterius, memberikan kesan yang sangat <em>powerful<\/em>, yang membuat intuisi kepemimpinan Balqis bekerja, bahwa Sulaiman bukanlah pihak biasa dengan pesan yang biasa, inilah yang melatari Balqis untuk mengumpulkan <em>elite circle<\/em>-nya. <a href=\"#_ftn28\" id=\"_ftnref28\"><sup>[28]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Dalam bukunya, sebenarnya Anis Matta menguraikan cerita Balqis sampai tuntas dimana Balqis bertemu Sulaiman, dengan komparasi cerita lain dalam surat Yusuf tentang interaksi raja Mesir dari bangsa Hyksos dengan <em>elite circle<\/em>-nya dan Nabi Yusuf. Tapi untuk menjaga konteks tulisan ini, izinkan penulis mencoba sedikit berimprovisasi dalam pembahasan Anis Matta dalam cerita Balqis untuk menyesuaikan dengan konteks pembahasan Perang AS-Israel melawan Iran.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika baru saja menerima surat dari Nabi Sulaiman, ratu Balqis dari kerajaan Saba&#8217; diprovokasi oleh para elit di sekitarnya untuk berperang melawan Nabi Sulaiman, tapi ia tidak menuruti provokasi tersebut. Balqis sadar bahwa elit di sekitarnya ternyata bodoh-bodoh dan pengecut, hal itu terlihat karena para elit Balqis hanya mengisyaratkan provokasi, tapi kemudian buang badan dalam pengambilan keputusan, apakah perang atau tidak perang.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu apa yang kemudian dilakukan Balqis? Balqis kemudian justru memberikan referensi sejarah perang kepada elitnya yang bodoh, dan perkataan Balqis inilah yang kemudian menjadi terobosan dalam pemikiran politik dan pengambilan keputusan, perkataan ini &#8220;diabadikan&#8221; dalam Al-Quran yang berbunyi:<\/p>\n\n\n\n<p>\u0642\u064e\u0627\u0644\u064e\u062a\u0652 \u0627\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0627\u0644\u0652\u0645\u064f\u0644\u064f\u0648\u0652\u0643\u064e \u0627\u0650\u0630\u064e\u0627 \u062f\u064e\u062e\u064e\u0644\u064f\u0648\u0652\u0627 \u0642\u064e\u0631\u0652\u064a\u064e\u0629\u064b \u0627\u064e\u0641\u0652\u0633\u064e\u062f\u064f\u0648\u0652\u0647\u064e\u0627 \u0648\u064e\u062c\u064e\u0639\u064e\u0644\u064f\u0648\u0652\u0653\u0627 \u0627\u064e\u0639\u0650\u0632\u064e\u0651\u0629\u064e \u0627\u064e\u0647\u0652\u0644\u0650\u0647\u064e\u0622 \u0627\u064e\u0630\u0650\u0644\u064e\u0651\u0629\u064b \u06da\u0648\u064e\u0643\u064e\u0630\u0670\u0644\u0650\u0643\u064e \u064a\u064e\u0641\u0652\u0639\u064e\u0644\u064f\u0648\u0652\u0646\u064e (\u0663\u0664)<\/p>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Dia (Balqis) berkata, &#8220;Sesungguhnya raja-raja apabila menaklukkan suatu negeri, mereka tentu membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian yang akan mereka perbuat.&#8221;<\/em> [QS: An-Naml: 34]<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam perkataan tersebut setidaknya ada 3 kata kerja masa lalu yang digunakan Balqis, yaitu kata: (\u062f\u062e\u0644\u0648\u0627\u060c \u0623\u0641\u0633\u062f\u0648\u0627\u060c \u062c\u0639\u0644\u0648\u0627). Tiga kata ini disebutkan dalam bentuk lampau, yang mengisyaratkan bahwa tindakan menyerbu, merusak dan menghinakan suatu kaum atau tempat ketika berperang, adalah perilaku raja-raja sejak dahulu, bahkan sejak sebelum era Balqis.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi kemudian ayat itu ditutup dengan kata kerja masa kini dan masa depan, yaitu kata (\u064a\u0641\u0639\u0644\u0648\u0646) yang dalam bahasa arab memiliki konteks <em>\u201cyadullu \u2018alal istimroriah\u201d<\/em> atau menunjukan kontinuitas. Maka untuk membaca dengan tepat konteks dari perkataan Balqis ini, kita harus merasa bahwa Balqis seakan-akan sedang memberikan referensi bahwa:<\/p>\n\n\n\n<p><em>&#8220;Penguasa-penguasa sejak dahulu, ketika mereka masuk menyerbu sebuah wilayah, mereka selalu menghancurkan wilayah tersebut dan selalu melecehkan orang terhormat di wilayah tersebut.&#8221;<\/em> Dan kalimat penutup ayat ini harus dimaknai sebagaimana berikut: <em>&#8220;Dan itulah &#8216;yang akan terus&#8217; mereka lakukan di masa depan.&#8221;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa tahun terakhir, masyarakat dunia menyaksikan: Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyerbu Ukraina pada tahun 2022. Ukraina hancur, dua wilayahnya direbut Rusia,&nbsp; dan 6,5 juta warganya mengungsi ke seluruh dunia dengan \u201china.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian pada tahun 2023, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menyerbu Gaza, jalur Gaza hancur, pimpinannya diburu dan dibunuh, wanitanya dilecehkan, anak-anak Gaza dilenyapkan. Sejak 7 Oktober 2023 sampai 10 April 2026, sudah 72.000 orang menjadi korban meninggal dan sekitar 172.000 orang luka-luka di Gaza.<a href=\"#_ftn29\" id=\"_ftnref29\"><sup>[29]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian hari ini Trump menyerbu Iran, ribuan warganya meninggal dan luka-luka, banyak wilayah dan fasilitas publik Iran yang hancur, para pimpinan militer dan pemimpin tertingginya dilenyapkan dalam waktu kurang dari 24 jam.<\/p>\n\n\n\n<p>Rezim teokrasi Iran balas menyerbu pangkalan militer di negara-negara teluk, wilayah yang menjadi primadona Timur Tengah itu pun hari ini ikut hancur (minimal dari sisi persepsi sebagai kawasan <em>pro-growth)<\/em> dan sempat tersebar rumor yang mengabarkan beberapa pemimpin di salah satu negara teluk \u201cmelarikan diri.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;\u0648\u0643\u0630\u0644\u0643 \u064a\u0641\u0639\u0644\u0648\u0646&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Dan itulah yang akan terus mereka lakukan.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun yang dihadapi Balqis adalah seorang Nabi yang pastinya memiliki perilaku yang berbeda dengan raja-raja tiran, menurut Anis Matta, pada akhirnya kecerdasan, firasat dan <em>sense of crisis<\/em> Balqis lah yang membuatnya mengabaikan saran dari <em>elite circle<\/em>-nya dan memutuskan untuk tidak berperang. Sempat ada usaha pengiriman hadiah untuk Sulaiman sebagai <em>test case<\/em>, jika Sulaiman menerima hadiah dari Balqis, maka Balqis bisa melawan kerajaan Sulaiman, tapi jika hadiah tersebut ditolak, maka kerajaan Sulaiman ini bukan kekuatan sembarangan, dan faktanya Sulaiman menolak hadiah dari kerajaan Balqis. Maka rangkaian peristiwa tersebut kemudian diakhiri dengan keputusan Balqis untuk berdamai dan menyerahkan diri kepada Nabi Sulaiman.<a href=\"#_ftn30\" id=\"_ftnref30\"><sup>[30]<\/sup><\/a> Meski bukan asal usulnya, tapi tindakan Balqis ini dipakai sampai hari ini dalam sebuah adagium: <em>\u201cIf you can&#8217;t beat them, join them.\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Pelajaran dari cerita Balqis ini pada dasarnya bukan hanya tentang kehati-hatian dalam memandang perang, tapi lebih kepada pelajaran seorang pemimpin dan sebuah negara dalam pengambilan keputusan. Setiap pemimpin selalu memiliki watak yang berbeda-beda, tapi juga selalu dikelilingi oleh <em>&#8220;elite circle&#8221;<\/em> yang berbeda pula. Ada pemimpin cerdas dikelilingi elit yang cerdas, ada pemimpin bodoh yang dikelilingi elit yang cerdas, tapi ada juga pemimpin cerdas yang dikelilingi elit yang bodoh, bahkan ada pemimpin bodoh dikelilingi elit yang bodoh.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konteks ini nampaknya Balqis masuk ke dalam kategori ketiga; ia merupakan pemimpin cerdas, yang dikelilingi elit yang bodoh dan pengecut. Tapi kecerdasan Balqis membuat dirinya menyadari kebodohan kelompok elitnya tersebut. Dan ketika seorang pemimpin cerdas dikelilingi elit yang bodoh, tidak jarang akan terjadi informasi yang asimetris, antara pemimpin tertinggi dengan pasukan yang berada di tingkat bawah.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena keberadaan segelintir elit yang bodoh, seringkali menghalangi terlihatnya talenta-talenta cerdas dari akar rumput, sehingga pemimpin yang sadar akan kebodohan elitnya pun terkadang terkena bias, seakan-akan pasukannya bodoh semua. Padahal terdapat banyak talenta yang juga cerdas, tapi terhalang oleh segelintir <em>&#8220;elite circle&#8221;<\/em> yang bodoh. Dan dari situlah <em>&#8220;asymmetric information&#8221;<\/em> membuat pemimpin cerdas menjadi kesepian.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemimpin merasa semua orang yang ia pimpin stagnan dan tidak bertumbuh, padahal yang tidak berkembang itu hanya segelintir elite di sekitarnya, bukan keseluruhan pasukannya. Kesepian pemimpin inilah yang kiranya menjadi penyumbang dari kegamangan dalam pengambilan keputusan di tengah krisis.<\/p>\n\n\n\n<p>Disisi lain, banyak pasukan di luar gerbang yang bertumbuh pesat, tapi talenta tersebut kebingungan karena jalur untuk memberikan saran terbaik kepada pemimpin terhalang oleh segelintir elite yang bodoh. Pada akhirnya <em>&#8220;asymmetric information&#8221;<\/em> menjadikan pemimpin kesepian, sekaligus menjadikan pasukan frustrasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Di titik inilah kita belajar dari kisah Balqis, bahwa seorang pemimpin, harus sadar betul dengan kapasitas <em>&#8220;elite circle&#8221;<\/em>-nya di satu sisi. Ketika Balqis menyadari bahwa kelompok elit di sekitarnya bodoh-bodoh, ia harus percaya diri dengan pengetahuan yang ia miliki untuk mengambil keputusannya sendiri. Tapi jika ia ragu dengan pengetahuannya sendiri, setidaknya ia harus berani memecah kelompok elit yang bodoh tersebut, dan membiarkan talenta-talenta baru untuk masuk.<\/p>\n\n\n\n<p>Perlombaan talenta tersebut, diceritakan Al-Quran dengan sangat baik dalam cerita Nabi Sulaiman, ketika memperlombakan siapa yang paling bisa dan paling cepat memindahkan singgasana Balqis ke istana Sulaiman.<\/p>\n\n\n\n<p><a><\/a>Dari ucapan dan tindakan Balqis dan sedikit cerita Nabi Sulaiman yang diabadikan dalam Al-Quran ini, kita dapat mengambil pelajaran: Pertama, dalam mengelola pasukan, seorang pemimpin harus senantiasa peka terhadap keadaan <em>elite circle<\/em>-nya, apakah kapasitas mereka cocok dengan keadaan aktual atau tidak, kapasitas dan talenta terbaik hanya bisa diketahui melalui kompetisi terbuka. Kedua, Al-Quran tidak hanya berisi tentang anjuran dan perintah keberanian dalam berperang, melainkan cerita Balqis dalam surat An-Naml ini, telah mengabadikan anjuran Al-Quran untuk berhati-hati, mencegah dan menghindari perang sebisa mungkin, terutama ketika berhadapan dengan negara <em>s<\/em><em>uper<\/em><em>p<\/em><em>ower.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Begitulah setiap kata yang diabadikan dalam Al-Quran, menemukan relevansinya dalam kehidupan manusia sampai dengan hari ini.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gagal Paham Terhadap Trump<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kembali pada keadaan aktual perang AS-Israel melawan Iran, penulis mengamati ada beberapa kegagalan pemahaman baik dari Iran maupun dari para analis dalam memandang Trump. Langkah zig-zag dan tak terduga yang Trump lakukan kerap dianggap sebagai akibat dari gangguan mental dan penurunan performa akibat usia. Sebagian menuduh Trump sebagai seorang Narsistik, sebagian menuduhnya Demensia, kekhawatiran ini pada tahun 2025 disebut sebagai <em>\u201c<\/em><em>Trump Derangement Syndrome<\/em><em>\u201d<\/em> (Sindrom Gangguan Trump), yang seringkali dianggap politis dibandingkan hasil diagnosis profesional. Bahkan di Indonesia, terdapat analis yang menyebut Trump sebagai \u201cDewa Mabuk.\u201d Iran pun tampaknya memandang Trump serupa, hal ini tergambar dari permintaan Iran agar Trump memperbaiki <em>tone<\/em> komunikasinya sebagai syarat untuk negosiasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi apakah benar Trump seirasional itu? Atau sebenarnya Trump merupakan aktor yang sangat rasional?<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis memandang Trump merupakan aktor yang sangat rasional. Dan serangkaian tindakan yang Trump lakukan, baik sebelum perang ini dimulai, ketika perang ini berlangsung, maupun saat melewati fase gencatan senjata, semuanya dilakukan demi meraih poin kemenangan sebesar-besarnya baik di luar negeri, maupun sentimen di dalam negeri.<\/p>\n\n\n\n<p>Tindakan Trump mungkin memang bisa dikatakan <em>unpredictable<\/em>, tapi pada dasarnya setiap tindakan akan membentuk sebuah pola yang pada akhirnya bisa ditebak dan diantisipasi. Tidak jelas apakah Iran memahami pola ini atau tidak, tapi dari serangkaian aksi atau reaksi yang Iran lakukan, tidak mengindikasikan bahwa Iran memahami dengan baik pola dan struktur berpikir Trump.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Trump, kebingungan lawan adalah sumber kekuatan. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, Trump pada awalnya terbuka untuk menempuh jalur diplomasi di Swiss. Ketika di awal negosiasi, Trump pasti akan selalu menaikkan permintaan setinggi-tingginya sebagai upaya mengalahkan Iran dalam negosiasi. Tapi ketika cara itu gagal dan dirasa Iran tidak mungkin dikalahkan dalam meja diplomasi, pada negosiasi selanjutnya, Trump mencoba mengalah kepada Iran dengan mengambil 2 dari 4 permintaan saja, sebagaimana dimediasi oleh Turkiye dan negara teluk lainnya. Namun disaat upaya untuk mengalah itu pun tidak bisa diterima oleh Iran, Trump mulai masuk pada pola selanjutnya, yaitu membuat lawan bingung, dengan melanjutkan negosiasi pada putaran ketiga namun dengan penambahan permintaan dari yang tadinya hanya tuntutan \u201cdenuklirisasi\u201d menjadi \u201cderudalisasi,\u201d hal ini jelas membuat lawan negosiasi bingung dan sekaligus marah, karena pola yang mereka bayangkan adalah seharusnya semakin lama negosiasi, <em>call<\/em> akan semakin rendah. Kebingungan inilah yang gagal dipahami sebagai \u201charga buang\u201d yang sengaja membingungkan, seharusnya Iran sadar sejak dini, bahwa <em>call<\/em> tinggi secara tiba-tiba ini merupakan alarm serangan militer yang sudah pasti dilancarkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika perang berlangsung dan hampir seluruh armada laut Iran telah dihancurkan, Iran seharusnya setuju untuk bernegosiasi saat mendapatkan tawaran dari Trump. Karena ketika Trump menawarkan negosiasi, sekilas itu seperti keangkuhan Trump, tapi lebih dari itu sebenarnya merupakan pengakuan tersembunyi dari Trump bahwa ia tidak mungkin menghancurkan seluruh kekuatan militer Iran saat ini. Namun Iran tampil dengan penolakan, di situlah Trump mulai masuk dengan pola selanjutnya; membingungkan lawan.<\/p>\n\n\n\n<p>Berikut ini beberapa contoh langkah \u201cdewa mabuk\u201d Trump yang kerap kali dianggap plin-plan:<\/p>\n\n\n\n<p>Awal Perang:&nbsp; Trump menegaskan bahwa perang ini bukan untuk mengambil minyak Iran, tapi beberapa saat kemudian ia mengatakan bahwa AS harus \u201cmengambil minyak dan menghasilkan banyak uang.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>9 Maret 2026: Dalam wawancaranya di <em>Air Force One<\/em>, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa situasi diplomatik berjalan lancar. Iran telah menyetujui sebagian besar 15 poin tuntutan AS, yang disampaikan melalui Pakistan. Tapi kemudian pada hari yang sama, dalam wawancara terpisah dengan <em>Financial Times<\/em>, Trump mengatakan ingin \u201cmengambil minyak Iran\u201d dan sedang mempertimbangkan untuk merebut Pulau Kharg, yang menangani 90% ekspor minyak Teheran. Pernyataan ini sontak mendapatkan reaksi keras dari ketua parlemen Iran, Bagher Ghalibaf, dengan menolak negosiasi yang berlangsung pada hari yang sama.<a href=\"#_ftn31\" id=\"_ftnref31\"><sup>[31]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>30 Maret 2026: Di <em>Truth Social<\/em>, Trump mengumumkan bahwa AS sedang \u201cberdiskusi serius dengan rezim baru, dan lebih masuk akal\u201d di Iran dan bahwa \u201ckemajuan besar\u201d telah dicapai. Tapi dalam unggahan yang sama, ia mengancam akan mengakhiri perang dengan menghancurkan semua pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, dan mungkin semua pabrik desalinasi Iran jika kesepakatan tidak tercapai \u201cdalam waktu singkat\u201d dan Selat Hormuz tidak dibuka kembali \u201csegera.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>31 Maret 2026: Ketika harga BBM di AS mencapai 4 dolar AS per galon, Trump menawarkan kepada wartawan sebuah <em>exit strategy<\/em> baru, yaitu penarikan pasukan diam-diam dari kawasan tersebut. Dengan mempersilakan Prancis atau negara lain untuk membuka sendiri Selat Hormuz. Tapi pagi harinya, Trump kembali menyerang sekutunya di Eropa, karena enggan membantunya membuka Selat Hormuz.<\/p>\n\n\n\n<p>1 April 2026: Trump mengklaim bahwa rezim baru Iran telah meminta AS untuk melakukan gencatan senjata. Ia mengatakan akan mempertimbangkan permintaan tersebut seraya memberikan syarat asalkan Selat Hormuz kembali terbuka, bebas dan tanpa hambatan. Tapi kalimat ini diakhiri dengan ancaman bahwa AS akan tetap menghancurkan Iran sampai tak berbekas, dan kembali ke zaman batu. Kementerian Luar Negeri Iran kemudian membantah klaim tersebut dan mengatakan bahwa itu merupakan \u201cklaim palsu dan tak berdasar.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>7 April 2026: Militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap target di Pulau Kharg, Iran. Sejumlah fasilitas, seperti jalur kereta, jembatan, jalan tol, dan permukiman di Iran juga dilaporkan terkena serangan. Serangan terjadi sebelum tenggat yang ditetapkan AS berlalu.<a href=\"#_ftn32\" id=\"_ftnref32\"><sup>[32]<\/sup><\/a> Beberapa jam setelahnya, AS mengumumkan gencatan senjata dengan Iran selama 2 pekan.<a href=\"#_ftn33\" id=\"_ftnref33\"><sup>[33]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Pola ini terus berlanjut sampai negosiasi tahap pertama yang belum berhasil di Islamabad, Pakistan. Ketika negosiasi gagal dan Iran bersikeras memblokade Selat Hormuz, Trump merespon tindakan tersebut dengan balas mengumumkan bahwa AS akan melakukan blokade terhadap blokade Iran di Selat Hormuz.<a href=\"#_ftn34\" id=\"_ftnref34\"><sup>[34]<\/sup><\/a> Hal ini memberikan tekanan di sisi sekutu Iran seperti Tiongkok, dan diharapkan dapat mendesak Tiongkok untuk menekan Iran agar membuka blokade Selat Hormuz. Di sisi lain, ternyata Trump tetap mengizinkan kapal Tiongkok mendapatkan pengecualian dari blokade AS.<a href=\"#_ftn35\" id=\"_ftnref35\"><sup>[35]<\/sup><\/a> Hal ini seperti mendesak Tiongkok ke bibir jurang, tapi tetap memberikan jalur keluar, sehingga Tiongkok tidak punya pilihan lain, selain menyatakan kepada publik bahwa Selat Hormuz harus menjadi jalur yang aman bagi semua pihak untuk melintas.<a href=\"#_ftn36\" id=\"_ftnref36\"><sup>[36]<\/sup><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Begitulah Trump memperlakukan lawan-lawannya dalam serangkaian taktik negosiasi. Ringkasnya, untuk memahami pola Trump berpikir, setiap pihak hanya perlu menghafalkan adagium berikut: <em>\u201cIf you can&#8217;t beat them, join them. And if you can&#8217;t join them, confuse them.\u201d <\/em>Ketika Trump mengajak untuk bergabung bersama Anda, terima saja! Karena itu merupakan pengakuan tersembunyi akan kekalahannya. Tapi ketika Anda menolak, ia akan memasuki fase selanjutnya, yaitu membuat Anda bingung. Jangan heran, karena dari sinilah apa yang disebut \u201csen kiri belok kanan\u201d dimulai. Kenapa kebingungan diperlukan? Karena dalam kebingungan, tersimpan kerentanan. Dan begitu kerentanan makin menganga, ia akan kembali menyerang Anda untuk mengalahkan Anda kembali. Jika gagal lagi, ia akan menawari bergabung dengan Anda lagi. Jika gagal lagi, ia akan membingungkan Anda lagi. Pola ini berputar terus menerus dalam setiap tahapannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Dari sinilah kita menyaksikan pada dasarnya Trump merupakan aktor yang rasional, dan segala tindakan yang terkesan membingungkan yang ia lakukan, tidak lain merupakan langkah sengaja untuk membingungkan kawan maupun lawan, karena bagi Trump, kebingungan adalah celah pengendalian permainan. Pada perang tarif tahun 2025 lalu, Tiongkok terlihat mengatasi pola ini secara tepat. Tapi dalam perang tahun ini, tampaknya pihak Iran gagal membaca pola ini dengan baik.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pilihan-pilihan Strategis Bagi Dunia Islam<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebelum penulis menutup tulisan ini dengan menguraikan pilihan-pilihan strategis yang bisa diambil Dunia Islam, penulis mengusulkan agar perang yang telah berlangsung selama lebih dari 60 hari ini untuk diberi nama. Jika perang antara AS-Israel dan Iran yang terjadi pada Juni 2025 disebut dengan perang 12 hari, maka perang yang melibatkan AS, Israel dan Iran sebagai aktor utamanya ini harus dinamai dengan \u201cPerang Hormuz\u201d. Meskipun perang ini pada awalnya disebabkan oleh sengketa \u201cdenuklirisasi\u201d Iran, dan meskipun perang ini melibatkan hampir seluruh wilayah Timur Tengah kecuali Afrika Utara, tapi ketegangan di Selat Hormuz menjadi variabel paling penting yang pada akhirnya menyeret seluruh dunia untuk ikut terlibat merasakan dampak buruk dari perang ini. Kemudian, penulis memprediksi bahwa perang ini, dengan apa pun cara dan skenarionya, akan sepenuhnya diakhiri oleh AS sebelum tanggal 4 Juli 2026.<\/p>\n\n\n\n<p>Lantas kemudian, pilihan-pilihan strategis apa saja yang bisa diambil Dunia Islam selama dan pasca perang ini usai pada akhirnya nanti? Karena Dunia Islam terbentang luas mulai dari Barat Laut Benua Afrika sampai dengan Timur Indonesia, maka tentunya pilihan strategis setiap negara muslim akan berbeda-beda, bergantung pada faktor-faktor regional yang menentukan di wilayah tersebut. Tapi setidaknya, penulis membagi pilihan strategis ini menjadi empat bagian; pilihan yang harus diambil Iran, pilihan yang harus diambil negara-negara di kawasan Syam, pilihan yang harus diambil negara-negara GCC dan pilihan yang harus diambil oleh negara-negara di luar kawasan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertama, kita mulai dahulu dari yang paling akhir. Negara-negara muslim yang berada di luar kawasan Teluk dan Syam harus terus menjaga hubungannya dengan setiap negara <em>superpower<\/em> dan negara menengah yang paling berpengaruh. Hal ini sangat berguna karena negara-negara ini\u2014jika dibutuhkan dalam keadaan terdesak\u2014akan dapat menawarkan diri untuk menjadi mediator yang dapat dipercaya dan dapat diandalkan manakala perang besar kembali meletus di kawasan Timur Tengah. Negara-negara ini juga harus terus memperkuat pertahanan militernya terutama di ranah pertahanan udara. Sebagaimana penulis ungkapkan sebelumnya, bahwa pada dasarnya kebocoran intelijen bisa ditutup manakala wilayah udara sebuah negara tertutup rapat, karena serangan pendahuluan paling efektif saat ini tampaknya masih milik serangan udara. Negara-negara ini juga tentunya harus memperkuat kerjasama di antara mereka dalam konteks mewujudkan ketahanan pangan dan energi di negaranya masing-masing. Karena perang boleh saja berkecamuk di seluruh dunia, tapi api revolusi hanya akan terbakar manakala daun, ranting dan jerami kering dibiarkan begitu saja. Daun, ranting dan jerami kering itu dinamakan perut yang lapar.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi yang lain, negara-negara muslim di kawasan ini juga harus menaikkan reputasinya dengan segala cara. Jika tidak bisa dengan cara baik-baik, maka tidak ada salahnya juga untuk mencoba cara yang sedikit \u201cnakal.\u201d Seperti apa yang dilakukan oleh Indonesia misalnya, pernyataan Presiden Prabowo dan Menteri keuangan Purbaya Yudhi Sadewa tentang peran vital Selat Malaka dan ide tentang memajaki <em>Choke Point,<\/em> jangan dibaca sebagai ide konyol dari seseorang yang tidak memahami UNCLOS. Tetapi pernyataan itu harus dibaca sebagai pesan politis yang sengaja, agar mitra Iran (Tiongkok, Korea Utara) dan mitra AS (Jepang, Korea Selatan, Taiwan) di Asia Timur dapat menekan kedua belah pihak tersebut untuk segera menghentikan krisis di Selat Hormuz. Karena jika tidak, maka masih ada pihak yang mampu menekan dengan membuat krisis lain di selat lain yang lebih vital dari Selat Hormuz. Analoginya, jika seseorang dianggap remeh ketika beribadah di kuil suci, maka mungkin dia akan diperhitungkan orang manakala berani mengencingi kuil suci.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua, pilihan strategis bagi Iran. Kegagalan Iran membaca tren kepercayaan Dunia Islam kepadanya dan kegagalan Iran untuk membaca Trump dengan baik, akan mengantarkan Iran menjadi negara yang kesepian pasca perang ini berakhir. Mungkin saja simpati terhadap Iran akan naik di negara-negara muslim demokratis seperti Indonesia dan Malaysia, karena akses atas media terbuka dengan lebar. Tapi yang jelas di kalangan elit negara muslim secara umum dan di akar rumput negara GCC secara khusus, Iran akan semakin dicap sebagai rekan tempramental yang sulit diajak bekerja sama. Hal ini tidak lain karena Iran seakan melupakan begitu saja jasa dari seluruh negara teluk dan muslim yang berusaha untuk menahan diri, memediasi dan meredakan eskalasi. Bagi Indonesia sendiri, diplomasi yang dilakukan oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia akan mendapatkan catatan. Bagaimana tidak? Ketika perang berkecamuk dan Indonesia telah menawarkan mediasi, alih-alih mempererat hubungan dengan otoritas yang ada, Dubes Iran lebih asyik menggalang dukungan dari kalangan oposisi pemerintah Indonesia saat ini. Masalahnya bukan karena tokoh oposisinya, tapi ini merupakan praktek yang tak lazim dalam meraih dukungan pemerintah negara terkait, dan justru dapat dikesankan sebagai konsolidasi untuk menekan pemerintah di negara tertentu. Sekali lagi, ini merupakan kesalahan strategis yang kesekian kalinya dari tim diplomasi Iran.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, setelah perang ini usai, tidak ada pilihan lain selain Iran memperbaiki hubungannya dengan negara-negara muslim. Tentu Iran harus membayar harga yang mahal untuk hal yang satu ini. Dan selain itu, jika Iran mendapatkan tawaran pencabutan sanksi primer maupun sanksi sekunder, kesempatan itu harus diambil apa pun harganya. Karena hanya dengan itulah Iran bisa terlepas dari ketergantungan terhadap Tiongkok dan Rusia dalam pembangunan ekonominya. Protes massa besar-besaran yang terjadi di Iran beberapa saat sebelum Perang Hormuz terjadi, tidak bisa disalahkan kepada Presiden Iran dan kabinetnya saja karena telah gagal membangun perekonomian Iran. Pada dasarnya perekonomian Iran akan terus sulit bangkit manakala sanksi AS tak kunjung dicabut, dan tokoh yang paling bertanggung jawab atas tidak dicabutnya sanksi AS ini bukan Presiden Iran, melainkan pemimpin tertinggi Iran almarhum Ayatullah Ali Khamenei yang gagal membuat kemajuan diplomatik dengan AS. Ringkasnya, kegagalan perekonomian Iran, bermuara pada kesalahan fatal pemimpin tertingginya sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga, ketika Perang Hormuz usai, negara-negara yang berada di wilayah Syam (Palestina, Yordania, Suriah, Lebanon) harus mulai mengencangkan ikat pinggang dan kewaspadaan. Karena begitu perang berhenti di wilayah teluk, maka Israel akan segera membawa pulang perang ke wilayah Syam. Selama Presiden Israel Isaac Herzog enggan memberikan pengampunan kepada Perdana Menteri Netanyahu atas seluruh kasus-kasus korupsinya, maka selama itu pula Netanyahu akan membutuhkan perang untuk tetap berada di tampuk kekuasaan. Dan wilayah paling empuk untuk menjadi bantalan perang Netanyahu adalah Suriah, Lebanon dan Palestina.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika Perang Hormuz berakhir dengan kesepakatan antara AS-Israel dan Iran dan melibatkan Hizbullah di Lebanon, mungkin Lebanon akan sedikit bernapas lega. Dan jika Israel ingin mengarahkan moncong meriamnya ke Suriah terutama di perbatasan dekat Dataran Tinggi Golan, maka mungkin Israel akan memerlukan sedikit waktu, karena berperang dengan Suriah sama saja dengan menarik Turkiye untuk terlibat melawan Israel, dan Turkiye tidak perlu diajari lagi bagaimana cara mereka menghadapi Israel. Tapi itulah skenario terberat yang akan dihadapi Israel, meski beberapa pejabat Israel telah mengatakan bahwa Turkiye adalah ancaman selanjutnya, nampaknya pintu masuk untuk Israel berhadapan dengan Turkiye adalah melalui Suriah.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, pilihan paling mudah bagi Netanyahu untuk mencari bantalan perang adalah kembali ke Palestina, karena dari 4 negara di kawasan Syam, satu-satunya negara yang tidak di-<em>backup<\/em> oleh negara menengah dan <em>superpower<\/em>, hanya Palestina. Penulis membaca probabilitas terjadinya kembali perang besar di Palestina mencapai 50%, lebih tinggi dua kali lipat dari 2 negara lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Keempat, Pilihan strategis terakhir adalah pilihan yang harus diambil oleh negara-negara teluk (GCC). Dengan terjadinya perang ini, mereka sudah hampir pasti akan mendiversifikasi habis-habisan kerjasama pertahanan mereka dan tidak akan hanya mengandalkan payung keamanan AS dan Eropa. Karena faktanya, ketika perang berkecamuk, negara GCC ditinggal sendirian tanpa payung keamanan dari siapapun.<\/p>\n\n\n\n<p>Negara GCC juga akan semakin menyadari bahwa mereka di masa depan akan terus diapit oleh dua negara\u2014yang sebetulnya tidak terlalu kuat\u2014tapi hobi membuat onar; Israel dan Iran. Negara GCC seharusnya menyadari setelah perang ini selesai, pada dasarnya mereka bukan pelanduk (kancil) di antara dua gajah, melainkan mereka merupakan pelanduk di antara dua kambing, yang masing-masing kambing tersebut mengandalkan <em>backup<\/em> dari negara <em>superpower<\/em> di belakangnya (AS, Tiongkok dan Rusia).<\/p>\n\n\n\n<p>Jika Anda terjebak di tengah-tengah konflik orang lain, maka Anda bisa melakukan satu dari dua hal: Pertama, melokalisir konfliknya sehingga Anda tidak terlibat dan membiarkan mereka bertengkar di sudut yang lain. Kedua, jika tidak bisa melokalisir, Anda harus melenyapkan pihak-pihak yang hobi berkonflik itu sendiri. Sayangnya, cara pertama tidak bisa menjadi pilihan dari negara GCC, karena dalam geopolitik, ada satu raja yang tidak akan pernah terkalahan, raja tersebut bernama geografi. <em>\u201cYou can\u2019t beat geography.\u201d<\/em> Setelah Perang Hormuz usai, mereka tetap akan bertetangga dengan Iran di sebelah timur, dan terjepit oleh Israel di sebelah barat.<\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu, pilihan satu-satunya dari negara GCC setelah perang ini usai, adalah dengan mengeliminasi aktor-aktor pembuat onar tersebut, apa pun definisinya. Idealnya, negara GCC harus mengidentifikasi dengan akurat siapa pihak yang paling lemah setelah Perang Hormuz usai. Jika keadaan Iran pasca perang lebih lemah daripada Israel, maka negara GCC harus \u201cberani\u201d mengeliminasi Iran. Dan jika keadaan Israel pasca perang lebih lemah daripada Iran, maka negara GCC harus berani mengeliminasi Israel. Karena hanya dengan begitu, setidaknya mereka kehilangan satu dari dua beban masalah.<\/p>\n\n\n\n<p>Atau bisa saja negara GCC bermain dua kaki sesuai preferensi masing-masing. Setelah perang usai, negara GCC yang memiliki kedekatan khusus dengan Israel seperti UEA dan Bahrain bisa ditugaskan mengeliminasi Iran, sementara negara GCC yang lainnya ditugaskan untuk mengeliminasi Israel. Dan setelah dua pembuat onar ini dieliminasi, negara GCC bisa menawarkan diri kepada AS atau kekuatan <em>superpower<\/em> lainnya, untuk menjadi basis militer baru di Timur Tengah. Karena pada dasarnya bagi AS, Israel tidak lebih dari sekadar pangkalan militer AS raksasa, yang bertujuan untuk mengamankan kepentingan AS di kawasan tersebut. Dahulu asumsi itu relevan karena mungkin saja negara GCC dianggap tidak bisa diajak bekerja sama, tapi sekarang negara GCC sudah bisa bekerja sama. Maka negara GCC bisa menawarkan diri untuk menjadi pangkalan militer yang tidak hanya menjamin keamanan, tapi juga pro terhadap perdamaian dan pro terhadap pertumbuhan global.<\/p>\n\n\n\n<p>Sekali lagi, negara GCC harus punya keberanian untuk menjalankan satu dari dua opsi untuk mengeliminasi \u201cpembuat onar\u201d di barat dan timur kawasan tersebut. Karena jika mereka\u2014untuk kesekian kalinya\u2014kurang memiliki keberanian, mereka hanya akan menunggu terjadinya perang yang sama 50 tahun dari sekarang.<\/p>\n\n\n\n<p>Rekomendasi ini bukan provokasi, melainkan murni analisis. Sekian.<\/p>\n\n\n\n<p>Jakarta, 30 April 2026<\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\"\/>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref1\" id=\"_ftn1\"><sup>[1]<\/sup><\/a> Kris Mada, \u201cAS-Israel Serang Iran,\u201d <em>Kompas.id<\/em>, 28 Februari 2026, <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/israel-serang-iran?open_from=Search_Result_Page\">https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/israel-serang-iran?open_from=Search_Result_Page<\/a> (diakses pada 22 april 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref2\" id=\"_ftn2\"><sup>[2]<\/sup><\/a> \u201cUS, Israel Bomb Iran: A Timeline of Talks and Threats Leading Up to Attacks.\u201d, <em>Al Jazeera<\/em>, 28 Februari 2026, <a href=\"https:\/\/www.aljazeera.com\/news\/2026\/2\/28\/us-israel-bomb-iran-a-timeline-of-talks-and-threats-leading-up-to-attacks\">https:\/\/www.aljazeera.com\/news\/2026\/2\/28\/us-israel-bomb-iran-a-timeline-of-talks-and-threats-leading-up-to-attacks<\/a> (diakses pada 22 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref3\" id=\"_ftn3\"><sup>[3]<\/sup><\/a> Kris Mada, \u201cSerangan AS-Israel Ledakkan Sekolah di Iran.\u201d, <em>Kompas.id<\/em>, 28 Februari 2026, <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/serangan-as-israel-ledakan-sekolah-perempuan-di-iran?open_from=Search_Result_Page\">https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/serangan-as-israel-ledakan-sekolah-perempuan-di-iran?open_from=Search_Result_Page<\/a> (diakses pada 22 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref4\" id=\"_ftn4\"><sup>[4]<\/sup><\/a> Jon Gambrell, dkk, \u201cIran\u2019s Supreme Leader Killed in Major Attack by US and Israel,\u201d <em>AP News<\/em>, 1 Maret 2026, <a href=\"https:\/\/apnews.com\/article\/iran-us-explosion-tehran-c2f11247d8a66e36929266f2c557a54c\">https:\/\/apnews.com\/article\/iran-us-explosion-tehran-c2f11247d8a66e36929266f2c557a54c<\/a> (diakses pada 22 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref5\" id=\"_ftn5\"><sup>[5]<\/sup><\/a> \u201cUS-Israel Attacks on Iran: Death Toll and Injuries Live Tracker,\u201d <em>Al Jazeera<\/em>, 21 April 2026, <a href=\"https:\/\/www.aljazeera.com\/news\/2026\/3\/1\/us-israel-attacks-on-iran-death-toll-and-injuries-live-tracker\">https:\/\/www.aljazeera.com\/news\/2026\/3\/1\/us-israel-attacks-on-iran-death-toll-and-injuries-live-tracker<\/a> (diakses pada 23 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref6\" id=\"_ftn6\"><sup>[6]<\/sup><\/a> Ikhsan Abdul Hakim, \u201cIran Tuntut Ganti Rugi Perang, Serangan AS-Israel Disebut Timbulkan Kerugian Rp4.627 Triliun,\u201d <em>Kompas TV<\/em>, 15 April 2026, <a href=\"https:\/\/www.kompas.tv\/internasional\/663013\/iran-tuntut-ganti-rugi-perang-serangan-as-israel-disebut-timbulkan-kerugian-rp4-627-triliun#goog_rewarded\">https:\/\/www.kompas.tv\/internasional\/663013\/iran-tuntut-ganti-rugi-perang-serangan-as-israel-disebut-timbulkan-kerugian-rp4-627-triliun#goog_rewarded<\/a> (diakses pada 23 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref7\" id=\"_ftn7\"><sup>[7]<\/sup><\/a> \u201cIran Suffers $145 Bln Losses, Widespread Destruction After 40-Day War,\u201d <em>Al<\/em><em> A<\/em><em>rabiya<\/em> English, 10 April 2026, <a href=\"https:\/\/english.alarabiya.net\/News\/middle-east\/2026\/04\/10\/iran-suffers-145-bln-losses-widespread-destruction-after-40day-war\">https:\/\/english.alarabiya.net\/News\/middle-east\/2026\/04\/10\/iran-suffers-145-bln-losses-widespread-destruction-after-40day-war<\/a> (dikases pada 23 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref8\" id=\"_ftn8\"><sup>[8]<\/sup><\/a> Daniel Byman \u201cWho Is Winning the Iran War?,\u201d <em>CSIS<\/em>, 2 April 2026, <a href=\"https:\/\/www.csis.org\/analysis\/who-winning-iran-war\">https:\/\/www.csis.org\/analysis\/who-winning-iran-war<\/a> (diakses pada 23 april 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref9\" id=\"_ftn9\"><sup>[9]<\/sup><\/a> Nashih Nashrullah, \u201cBerapa Kerugian Materi yang Ditanggung Israel Akibat Perangi Iran? Ini Perkiraannya,\u201d <em>Republika<\/em>, 11 April 2026, <a href=\"https:\/\/khazanah.republika.co.id\/berita\/tdbgmj320\/berapa-kerugian-materi-yang-ditanggung-israel-akibat-perangi-iran-ini-perkiraannya-part7\">https:\/\/khazanah.republika.co.id\/berita\/tdbgmj320\/berapa-kerugian-materi-yang-ditanggung-israel-akibat-perangi-iran-ini-perkiraannya-part7<\/a> (diakses pada 23 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref10\" id=\"_ftn10\"><sup>[10]<\/sup><\/a> Daniel Bush, Paul Brown, dan Alex Muray, \u201cIranian Strikes on Bases Used by US Caused $800m in Damage, New Analysis Shows,\u201d <em>BBC<\/em>, 21 Maret 2026, <a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/news\/articles\/cddq7j48p35o\">https:\/\/www.bbc.com\/news\/articles\/cddq7j48p35o<\/a> (diakses pada 23 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref11\" id=\"_ftn11\"><sup>[11]<\/sup><\/a> Sharon Zhang, \u201cReport: Many Middle East US Bases \u201cAll But Uninhabitable\u201d Due to Iran Strikes,\u201d <em>Truthout<\/em>, 26 Maret 2026, <a href=\"https:\/\/truthout.org\/articles\/report-many-middle-east-us-bases-all-but-uninhabitable-due-to-iran-strikes\/#:~:text=But%20the%20U.S.%20has%20suffered,a%20result%20of%20the%20damage\">https:\/\/truthout.org\/articles\/report-many-middle-east-us-bases-all-but-uninhabitable-due-to-iran-strikes\/#:~:text=But%20the%20U.S.%20has%20suffered,a%20result%20of%20the%20damage<\/a>. (diakses pada 23 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref12\" id=\"_ftn12\"><sup>[12]<\/sup><\/a> Daniel Bush, Paul Brown, dan Alex Muray, \u201cIranian Strikes on Bases Used by US Caused $800m in Damage, New Analysis Shows,\u201d <em>BBC<\/em>, 21 Maret 2026, <a href=\"https:\/\/www.bbc.com\/news\/articles\/cddq7j48p35o\">https:\/\/www.bbc.com\/news\/articles\/cddq7j48p35o<\/a> (diakses pada 23 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref13\" id=\"_ftn13\"><sup>[13]<\/sup><\/a> Emmet Lindner, \u201cAverage Gasoline Price Hits $4 in U.S., a \u2018Headache\u2019 for Drivers and Trump,\u201d <em>The New York Times<\/em>, 31 Maret 2026, <a href=\"https:\/\/www.nytimes.com\/2026\/03\/31\/business\/gas-prices-4-dollars-gallon-iran.html\">https:\/\/www.nytimes.com\/2026\/03\/31\/business\/gas-prices-4-dollars-gallon-iran.html<\/a> (diakses pada 23 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref14\" id=\"_ftn14\"><sup>[14]<\/sup><\/a> Khalid Al Jaber, \u201cIran\u2019s Regional Gamble and Its Implications for the Future of Gulf Security,\u201d <em>Middle East Council on Global Affairs<\/em>, 2 Maret 2026, <a href=\"https:\/\/mecouncil.org\/blog_posts\/irans-regional-gamble-and-its-implications-for-the-future-of-gulf-security\/\">https:\/\/mecouncil.org\/blog_posts\/irans-regional-gamble-and-its-implications-for-the-future-of-gulf-security\/<\/a> (diakses pada 23 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref15\" id=\"_ftn15\"><sup>[15]<\/sup><\/a> Sumeyye Dilara Dincer, \u201cTurkish Foreign Minister Calls Iran&#8217;s Bombing of All Gulf Region &#8216;Without any Distinction Incredibly Wrong Strategy,\u201d <em>Anadolu Ajansi<\/em>, 4 Maret 2026, <a href=\"https:\/\/www.aa.com.tr\/en\/americas\/turkish-foreign-minister-calls-irans-bombing-of-all-gulf-region-without-any-distinction-incredibly-wrong-strategy\/3849003\">https:\/\/www.aa.com.tr\/en\/americas\/turkish-foreign-minister-calls-irans-bombing-of-all-gulf-region-without-any-distinction-incredibly-wrong-strategy\/3849003<\/a> (diakses pada 24 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref16\" id=\"_ftn16\"><sup>[16]<\/sup><\/a> Teori tentang bahwa perang harus dilakukan berdasarkan alasan moral yang benar.<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref17\" id=\"_ftn17\"><sup>[17]<\/sup><\/a> Sakina Abdallah, \u201cIran\u2019s Strikes on the Gulf States,\u201d <em>Al Hurra<\/em>, 28 Februari 2026, <a href=\"https:\/\/alhurra.com\/en\/14632\">https:\/\/alhurra.com\/en\/14632<\/a> (diakses pada 24 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a><\/a><a href=\"#_ftnref18\" id=\"_ftn18\"><sup>[18]<\/sup><\/a> Annelle Sheline, \u201cAre Qatar and Saudi Arabia Reassessing Their Reliance on the US?,\u201d <em>Quincy Institute<\/em>, 26 Februari 2026, <a href=\"https:\/\/quincyinst.org\/research\/are-qatar-and-saudi-arabia-reassessing-their-reliance-on-the-us\/\">https:\/\/quincyinst.org\/research\/are-qatar-and-saudi-arabia-reassessing-their-reliance-on-the-us\/#<\/a> (diakses pada 27 Februari 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a><\/a><a href=\"#_ftnref19\" id=\"_ftn19\"><sup>[19]<\/sup><\/a> \u201cArab Opinion Index,\u201d <em>Arab Center for Reasearch and Policy Studies<\/em>, 1 Juni 2025, <a href=\"https:\/\/www.dohainstitute.org\/en\/Lists\/ACRPS-PDFDocumentLibrary\/arab-index-2025-press-release-en.pdf\">https:\/\/www.dohainstitute.org\/en\/Lists\/ACRPS-PDFDocumentLibrary\/arab-index-2025-press-release-en.pdf<\/a> (diakses pada 27 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref20\" id=\"_ftn20\"><sup>[20]<\/sup><\/a> \u201cArab Opinion Index,\u201d <em>Arab Center for Reasearch and Policy Studies<\/em>, 19 Januari 2023, <a href=\"https:\/\/arabcenterdc.org\/resource\/arab-opinion-index-2022-executive-summary\/\">https:\/\/arabcenterdc.org\/resource\/arab-opinion-index-2022-executive-summary\/<\/a> (diakses pada 27 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref21\" id=\"_ftn21\"><sup>[21]<\/sup><\/a> Andrew Mills, dkk, \u201cIsrael Attacks Hamas Leaders in Qatar, Trump Says He&#8217;s &#8216;Very Unhappy&#8217; About Strike,\u201d <em>Reuters<\/em>, 10 September 2025, <a href=\"https:\/\/www.reuters.com\/world\/middle-east\/israel-attacks-hamas-leaders-qatar-trump-says-hes-very-unhappy-about-strike-2025-09-09\/\">https:\/\/www.reuters.com\/world\/middle-east\/israel-attacks-hamas-leaders-qatar-trump-says-hes-very-unhappy-about-strike-2025-09-09\/<\/a> (diakses pada 27 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref22\" id=\"_ftn22\"><sup>[22]<\/sup><\/a> Annelle Sheline, \u201cAre Qatar and Saudi Arabia Reassessing Their Reliance on the US?,\u201d <em>Quincy Institute<\/em>, 26 Februari 2026, https:\/\/quincyinst.org\/research\/are-qatar-and-saudi-arabia-reassessing-their-reliance-on-the-us\/# (diakses pada 27 Februari 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref23\" id=\"_ftn23\"><sup>[23]<\/sup><\/a> Gordon Arthur, \u201cSaudi Arabia Signs $3.2B Deal for South Korean Air Defense Systems,\u201d <em>Defense News<\/em>, 7 Februari 2024, <a href=\"https:\/\/www.defensenews.com\/land\/2024\/02\/07\/saudi-arabia-signs-32b-deal-for-south-korean-air-defense-systems\/\">https:\/\/www.defensenews.com\/land\/2024\/02\/07\/saudi-arabia-signs-32b-deal-for-south-korean-air-defense-systems\/<\/a> (diakses pada 27 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref24\" id=\"_ftn24\"><sup>[24]<\/sup><\/a> Ariba Shahid and Saad Sayeed, \u201cExclusive: Pakistan, Saudi in Talks on JF-17 Jets for Loans Deal, Sources Say,\u201d <em>Reuters<\/em>, 8 Januari 2026, <a href=\"https:\/\/www.reuters.com\/world\/asia-pacific\/pakistan-saudi-talks-jf-17-jets-for-loans-deal-sources-say-2026-01-07\/\">https:\/\/www.reuters.com\/world\/asia-pacific\/pakistan-saudi-talks-jf-17-jets-for-loans-deal-sources-say-2026-01-07\/<\/a> (diakses pada 27 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref25\" id=\"_ftn25\"><sup>[25]<\/sup><\/a> Kris Mada, \u201cArab Saudi Dapat Payung Nuklir Pakistan,\u201d <em>Kompas.id<\/em>, 18 September 2025, <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/arab-saudi-dapat-payung-nuklir-pakistan\">https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/arab-saudi-dapat-payung-nuklir-pakistan<\/a> (diakses pada 27 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref26\" id=\"_ftn26\"><sup>[26]<\/sup><\/a> Niccolo Machivelli, <em>Il Principe (Sang Pangeran)<\/em>, (Yogyakarta: Narasi, 2020).<\/p>\n\n\n\n<p><a><\/a><a href=\"#_ftnref27\" id=\"_ftn27\"><sup>[27]<\/sup><\/a> Anis Matta<em>, Pesan Islam Menghadapi Krisi<\/em>s, (Yogyakarta: Poestaka Rembug Kopi, 2021).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref28\" id=\"_ftn28\"><sup>[28]<\/sup><\/a> Anis Matta, <em>Pesan Islam Menghadapi Krisis<\/em>, (Yogyakarta: Poestaka Rembug Kopi, 2021).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref29\" id=\"_ftn29\"><sup>[29]<\/sup><\/a> \u201cSix Months into \u2018Ceasefire\u2019, Gaza Suffers Under Persistent Israeli Attacks,\u201d <em>Al Jazeera<\/em>, 10 April 2026, <a href=\"https:\/\/www.aljazeera.com\/gallery\/2026\/4\/10\/six-months-into-a-us-brokered-ceasefire-gaza-remains-under-israeli-attacks\">https:\/\/www.aljazeera.com\/gallery\/2026\/4\/10\/six-months-into-a-us-brokered-ceasefire-gaza-remains-under-israeli-attacks<\/a> (diakses pada 28 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref30\" id=\"_ftn30\"><sup>[30]<\/sup><\/a> Anis Matta, <em>Pesan Islam Menghadapi Krisis<\/em>, (Yogyakarta: Poestaka Rembug Kopi, 2021).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref31\" id=\"_ftn31\"><sup>[31]<\/sup><\/a> Joseph Gedeon, \u201cOil, Strait of Hormuz and Empty Threats: A Timeline of Trump\u2019s Flip-flopping on The Iran War,\u201d <em>The Guardian<\/em>, 4 April 2026, <a href=\"https:\/\/www.theguardian.com\/us-news\/2026\/apr\/04\/timeline-iran-war-trump-contradictions\">https:\/\/www.theguardian.com\/us-news\/2026\/apr\/04\/timeline-iran-war-trump-contradictions<\/a> (diakses pada 29 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref32\" id=\"_ftn32\"><sup>[32]<\/sup><\/a> Fransisca Romana Ninik W, \u201cAS Mulai Menyerang Pulau Kharg dan Fasilitas Sipil di Iran<em>,\u201d Kompas.id<\/em>, 7 April 2026, <a href=\"https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/as-mulai-menyerang-pulau-kharg-dan-fasilitas-sipil-di-iran\">https:\/\/www.kompas.id\/artikel\/as-mulai-menyerang-pulau-kharg-dan-fasilitas-sipil-di-iran<\/a> (diakses pada 29 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref33\" id=\"_ftn33\"><sup>[33]<\/sup><\/a> Danur Lambang Pristiandaru, \u201cTrump Umumkan Gencatan Senjata Perang AS-Iran 2 Pekan, <em>Kompas.com<\/em>, 8 April 2026, <a href=\"https:\/\/internasional.kompas.com\/read\/2026\/04\/08\/061732370\/breaking-news-trump-umumkan-gencatan-senjata-perang-as-iran-2-pekan?page=all\">https:\/\/internasional.kompas.com\/read\/2026\/04\/08\/061732370\/breaking-news-trump-umumkan-gencatan-senjata-perang-as-iran-2-pekan?page=all<\/a> (diakses pada 29 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref34\" id=\"_ftn34\"><sup>[34]<\/sup><\/a> \u201c\u2018Blown to hell\u2019: Trump Orders Hormuz Blockade After US-Iran Peace Talks End,\u201d <em>Al Jazeera<\/em>, 12 April 2026, <a href=\"https:\/\/www.aljazeera.com\/news\/2026\/4\/12\/trump-announces-strait-of-hormuz-blockade-after-us-iran-peace-talks-end\">https:\/\/www.aljazeera.com\/news\/2026\/4\/12\/trump-announces-strait-of-hormuz-blockade-after-us-iran-peace-talks-end<\/a> (diakses pada 29 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref35\" id=\"_ftn35\"><sup>[35]<\/sup><\/a> Sarah Davis \u201cChinese Tanker Crosses Strait of Hormuz, Testing Trump\u2019s Blockade,\u201d <em>The Hill<\/em>, 14 April 2026, <a href=\"https:\/\/thehill.com\/policy\/international\/5830128-chinese-tanker-strait-hormuz-blockade\/\">https:\/\/thehill.com\/policy\/international\/5830128-chinese-tanker-strait-hormuz-blockade\/<\/a> (diakses pada 29 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><a href=\"#_ftnref36\" id=\"_ftn36\"><sup>[36]<\/sup><\/a> Meredith Chen, \u201cChina\u2019s Wang Yi Calls on Iran to Ensure Freedom and Safe Passage Through Strait of Hormuz,\u201d <em>South China Morning Post<\/em>, 16 April 2026, <a href=\"https:\/\/www.scmp.com\/news\/china\/diplomacy\/article\/3350259\/chinas-wang-yi-calls-iran-ensure-freedom-and-safe-passage-through-strait-hormuz\">https:\/\/www.scmp.com\/news\/china\/diplomacy\/article\/3350259\/chinas-wang-yi-calls-iran-ensure-freedom-and-safe-passage-through-strait-hormuz<\/a> (diakses pada 29 April 2026).<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rangkaian Kronologis Awal Pecahnya Perang Pada hari Sabtu (28\/02\/2026) Israel melancarkan serangan udara di tanah Iran. Serangan ini pada awalnya dikabarkan terjadi di beberapa tempat sekaligus, di antaranya menghantam area Jomhouri dekat Universitas Teheran, lokasi yang berdekatan dengan kantor pemimpin tertinggi Iran, dan belakangan diketahui memang tempat itulah yang menjadi target serangan. Serangan pun dikabarkan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":211,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-container-style":"default","site-container-layout":"default","site-sidebar-layout":"default","disable-article-header":"default","disable-site-header":"default","disable-site-footer":"default","disable-content-area-spacing":"default","footnotes":""},"categories":[5,2],"tags":[],"class_list":["post-208","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-opini","category-politik"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.0 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Diagnosa Strategis Perang Hormuz Bagi Dunia Islam - Relevansi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Diagnosa Strategis Perang Hormuz Bagi Dunia Islam - Relevansi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Rangkaian Kronologis Awal Pecahnya Perang Pada hari Sabtu (28\/02\/2026) Israel melancarkan serangan udara di tanah Iran. Serangan ini pada awalnya dikabarkan terjadi di beberapa tempat sekaligus, di antaranya menghantam area Jomhouri dekat Universitas Teheran, lokasi yang berdekatan dengan kantor pemimpin tertinggi Iran, dan belakangan diketahui memang tempat itulah yang menjadi target serangan. Serangan pun dikabarkan [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Relevansi\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-04T10:34:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-05-04T11:20:52+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/CvrRlvns-Hormuz.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1218\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"812\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Aziz Zulqarnain\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Aziz Zulqarnain\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"49 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208\"},\"author\":{\"name\":\"Aziz Zulqarnain\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320\"},\"headline\":\"Diagnosa Strategis Perang Hormuz Bagi Dunia Islam\",\"datePublished\":\"2026-05-04T10:34:25+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-04T11:20:52+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208\"},\"wordCount\":8748,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/CvrRlvns-Hormuz.jpg\",\"articleSection\":[\"Opini\",\"Politik\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208\",\"name\":\"Diagnosa Strategis Perang Hormuz Bagi Dunia Islam - Relevansi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/CvrRlvns-Hormuz.jpg\",\"datePublished\":\"2026-05-04T10:34:25+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-04T11:20:52+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/CvrRlvns-Hormuz.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/CvrRlvns-Hormuz.jpg\",\"width\":1218,\"height\":812},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/relevansi.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Diagnosa Strategis Perang Hormuz Bagi Dunia Islam\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/\",\"name\":\"Relevansi\",\"description\":\"Selalu Relevan \",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/relevansi.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320\",\"name\":\"Aziz Zulqarnain\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg\",\"caption\":\"Aziz Zulqarnain\"},\"description\":\"Direktur Program The Hope Institute\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.instagram.com\/aziz.zulqarnain\/\"],\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Diagnosa Strategis Perang Hormuz Bagi Dunia Islam - Relevansi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Diagnosa Strategis Perang Hormuz Bagi Dunia Islam - Relevansi","og_description":"Rangkaian Kronologis Awal Pecahnya Perang Pada hari Sabtu (28\/02\/2026) Israel melancarkan serangan udara di tanah Iran. Serangan ini pada awalnya dikabarkan terjadi di beberapa tempat sekaligus, di antaranya menghantam area Jomhouri dekat Universitas Teheran, lokasi yang berdekatan dengan kantor pemimpin tertinggi Iran, dan belakangan diketahui memang tempat itulah yang menjadi target serangan. Serangan pun dikabarkan [&hellip;]","og_url":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208","og_site_name":"Relevansi","article_published_time":"2026-05-04T10:34:25+00:00","article_modified_time":"2026-05-04T11:20:52+00:00","og_image":[{"width":1218,"height":812,"url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/CvrRlvns-Hormuz.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Aziz Zulqarnain","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Aziz Zulqarnain","Estimasi waktu membaca":"49 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208"},"author":{"name":"Aziz Zulqarnain","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320"},"headline":"Diagnosa Strategis Perang Hormuz Bagi Dunia Islam","datePublished":"2026-05-04T10:34:25+00:00","dateModified":"2026-05-04T11:20:52+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208"},"wordCount":8748,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/CvrRlvns-Hormuz.jpg","articleSection":["Opini","Politik"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/relevansi.id\/?p=208#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208","url":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208","name":"Diagnosa Strategis Perang Hormuz Bagi Dunia Islam - Relevansi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/CvrRlvns-Hormuz.jpg","datePublished":"2026-05-04T10:34:25+00:00","dateModified":"2026-05-04T11:20:52+00:00","author":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/relevansi.id\/?p=208"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#primaryimage","url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/CvrRlvns-Hormuz.jpg","contentUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/CvrRlvns-Hormuz.jpg","width":1218,"height":812},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=208#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/relevansi.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Diagnosa Strategis Perang Hormuz Bagi Dunia Islam"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#website","url":"https:\/\/relevansi.id\/","name":"Relevansi","description":"Selalu Relevan ","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/relevansi.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320","name":"Aziz Zulqarnain","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg","caption":"Aziz Zulqarnain"},"description":"Direktur Program The Hope Institute","sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/aziz.zulqarnain\/"],"url":"https:\/\/relevansi.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/208","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=208"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/208\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":224,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/208\/revisions\/224"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/211"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=208"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=208"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=208"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}