{"id":259,"date":"2026-06-22T09:41:43","date_gmt":"2026-06-22T09:41:43","guid":{"rendered":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259"},"modified":"2026-07-11T04:07:06","modified_gmt":"2026-07-11T04:07:06","slug":"manusia-indonesia-yang-perlu-dibicarakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259","title":{"rendered":"Manusia Indonesia yang Perlu Dibicarakan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kota Padang merupakan sebuah wilayah yang membentang mulai dari bibir Samudra Hindia di sebelah barat sampai dengan daerah hutan dan pegunungan di sisi lainnya. Posisinya yang bertetangga dengan Kabupaten Padang Pariaman, Solok dan Pesisir Selatan ini menjadikannya memiliki persediaan hutan tropis alami yang memadai. Wajahnya yang tegap menantang Samudra Hindia kerap kali membuat kota ini diterpa angin muson barat yang menjadikannya termasuk kota yang paling basah di Indonesia dikarenakan curah hujan yang cukup tinggi. Ketika kehangatan pantai dan sejuknya bukit barisan saling hampir menghampiri sepanjang tahun, maka terbentuklah wajah penduduk yang dinamis. Ramah dan tegas di satu sisi, cerdas dan kuat adat di sisi yang lain. Jalan-jalan yang terbentang lebar namun kurang mulus tetap serasi dipadukan dengan rumah gadang yang khas dan gedung-gedung peninggalan kolonial yang masih tersisa. Di kota inilah seorang jurnalis ternama itu lahir, Mochtar Lubis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada tahun 1977 di Taman Ismail Marzuki, Mochtar Lubis membacakan sebuah pidato kebudayaan yang berjudul Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungjawaban). Pidato itu kemudian dalam waktu yang cukup panjang ramai diperbincangkan. Bahkan tidak sedikit tokoh yang mengomentari dan mengkritisi pidato tersebut, di antaranya adalah pakar psikologi Indonesia Sarlito Wirawan Sarwono, Dr. Abu Hanifah dan Margono Djojohadikusumo (Kakek dari Presiden Republik Indonesia ke-8 Prabowo Subianto). Pidato ini kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku yang berjudul Manusia Indonesia, dan masih bisa kita nikmati hingga sekarang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mochtar Lubis mengintroduksi pembahasannya dengan menggunakan frasa \u201cManusia Indonesia\u201d. Hal yang sangat berbeda dari yang sering kita dengarkan saat ini dari mulut para politisi, intelektual, maupun penceramah. Hari ini tampaknya kita terlalu terbiasa mendengar frasa seperti &#8220;Bangsa Indonesia&#8221;, &#8220;Rakyat Indonesia&#8221;, &#8220;Masyarakat Indonesia&#8221; ketika membicarakan Indonesia sebagai subjek. Hal ini disadari atau tidak, menggambarkan suasana alam pikiran kita bahwa Indonesia sebagai subjek selalu digambarkan sebagai entitas komunal. Sementara itu, Mochtar Lubis mengintroduksi frasa &#8220;Manusia Indonesia&#8221; yang memaksa kita memikirkan Indonesia sebagai subjek dalam skala individu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Alih-alih menguliti karakteristik manusia Indonesia dengan cara menempelkan stereotip kepada Manusia Indonesia sebagaimana kritik banyak orang tentang buku ini. Mochtar Lubis justru hendak menegaskan bahwa sifat-sifat yang ia gariskan yang menurutnya berada dalam diri Manusia Indonesia ini memang ada di setiap individu orang Indonesia. Kata \u201cindividu\u201d sendiri berasal dari kata <em>\u201cin-dividual\u201d<\/em>  yang bermakna &#8220;tidak dapat dibelah&#8221;. Jika sifat-sifat ini ada dalam diri Manusia Indonesia, maka sifat-sifat tersebut merupakan karakteristik dalam individu yang berada di Indonesia yang mana tidak bisa dibelah antara cangkang dan isinya. Menurut saya inilah paradigma terpenting yang perlu dipahami dalam buku Manusia Indonesia ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mochtar Lubis menjelaskan setidaknya ada enam sifat-sifat umum yang terdapat di dalam diri manusia indonesia. Ia pun menjelaskan masih ada sifat-sifat lain yang lebih khusus. Tetapi enam sifat inilah yang akan terbenak dalam kepala seseorang ketika berbicara tentang manusia indonesia. Enam sifat ini adalah: Munafik atau hipokrit, enggan bertanggung jawab, berprilaku feodal, percaya takhayul, artistik dan lemah watak (karakter).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tentu jika kita jelaskan secara umum saja, mungkin akan banyak pihak yang mengangguk-anggukan kepalanya dan berkata dalam hati bahwa sifat ini benar ada dalam diri manusia indonesia. Kemudian perlahan ia pun mengatakan tidak setuju dengan enam sifat ini dan mengutuk dalam hati sifat-sifat ini. Tapi yang menarik untuk dibahas adalah implementasi harian yang merepresentasikan sifat ini. Karena tanpa disadari, boleh jadi terdapat cukup banyak pola interaksi teknis yang berasal dari sifat ini yang justru juga dilakukan oleh para pengutuk sifat tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita ambil saja contoh ciri keempat, yaitu percaya takhayul. Mochtar Lubis melanjutkan dalam penjelasannya tentang ciri ini, bahwa memang manusia indonesia itu, percaya hal-hal yang berbau mistik. Di antara implementasi percaya takhayul ini adalah manusia indonesia gemar dengan mantra-mantra. Kepercayaan kepada takhayul ini mengantarkan manusia Indonesia menjadi pembuat lambang, jimat dan jampi-jampi. Untuk terhindar dari nasib sial manusia Indonesia memasang sesajen dan mengarang mantra. Dengan jimat dan mantra manusia Indonesia merasa yakin telah berbuat yang tegas untuk menjamin keselamatan dan kebahagiaan atau kesehatan dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mochtar melanjutkan, bahkan praktek jampi-jampi dan mantra-mantra ini tetap dilanjutkan dengan cara yang berbeda ketika Indonesia sudah merdeka dan mulai banyak warganya yang terdidik. Menurut Mochtar, di antara orang pembuat mantra terbaik di republik ini adalah presiden pertama Indonesia, Soekarno. Ia mencontohnkan mantranya di jaman Jepang yaitu \u201cAmerika kita setrika, Inggris kita linggis.\u201d Sebuah mantra yang memang tidak berkaitan dengan makhluk halus, tapi menurut Mochtar esensinya sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mantra seperti itu cukup lama membuat indonesia mabuk. Sampai pada akhirnya Soekarno berkuasa sendirian pasca dekrit 5 Juli 1959, mantra-mantra Bung Karno makin banyak. Sebut saja seperti: Nekolim, Vivere Pericoloso, Berdikari, Jarek, Manipol-Usdek, Resopim, Nasakom dan sebagainya. Hingga pada akhirnya &#8220;pulungnya&#8221; lepas dari dirinya, segala mantra ini ternyata kosong dan tak bertuah sama sekali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegemaran terhadap mantra ini juga kemudian dilanjutkan di masa kekuasaan pasca Bung Karno. Mantra-mantra baru bermunculan layaknya jimat baru seperti: Tritura, Ampera, Orde Baru, <em>rule of law<\/em>, insan pembangunan. Mantra ini pun diteruskan sampai era pasca reformasi seperti: pemberantasan korupsi, <em>middle income trap<\/em>, NKRI harga mati, Pancasila, Merdeka, demokrasi kekeluargaan, hak prerogratif presiden, swasembada pangan, politik luar negeri bebas aktif dan yang paling terakhir dalam isu Palestina-Israel, selalu muncul mantra yang terdengar menyebalkan yaitu \u201csolusi dua negara\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Manusia Indonesia cenderung menyangka, jika telah dibicarakan, telah diputuskan, dan telah diucapkan niat hendak melakukan sesuatu, maka hal itu otomatis terjadi. Itulah sebabnya laci pemerintah, meja-meja birokrat maupun organisasi swasta penuh dengan dokumen dan putusan rapat, putusan panitia, putusan dewan dan sebagainya yang tidak pernah dilaksanakan. Manusia Indonesia mengira kehidupan ini sepert menonton sulap, tinggal bacakan bim salabim&#8230; keluarlah kelinci dari dalam topi. Manusia Indonesia merasa puas ketika semua mantra ini dibacakan dan disambut tepuk tangan, seakan-akan semua mantra itu akan terjadi begitu saja hanya dengan dimantrakan, tanpa dikerjakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meskipun dalam sejarahnya, Margono Djojohadikusumo sempat mengkritik buku ini, tapi nampaknya cucunya yaitu Prabowo Subianto cukup menghayati atau minimal sejalan dengan buku ini. Pada 2 Juni 2025, Presiden Prabowo berpidato dalam rangka hari lahir Pancasila yang dilaksanakan di Gedung Pancasila, Kantor Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Dalam pidato yang dihadiri Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri tersebut Presiden menyampaikan di antaranya, \u201cJangan jadikan Pancasila sebagai mantra, jangan hanya sebagai slogan. Kekayaan bangsa Indonesia besar, dan kekayaan itu harus dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Semua penyelewengan dan kebocoran harus dihentikan.\u201d Entah apakah maksud Presiden berusaha berada di sisi Mochtar Lubis dalam menyindir Bung Karno, atau menyidir putrinya Bung Karno yang \u201cnampaknya\u201d juga cukup gemar dengan mantra seperti: Pancasila, Merdeka dan <em>Satyameva Jayate.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tapi Presiden berkali-kali menyatakan bahwa Pancasila dan UUD\u00a01945 adalah sebuah kerangka kerja, bukan hanya slogan. Hal ini dipertegas oleh Presiden dalam pidato kenegaraan pertamanya di gedung MPR-RI pada 15 Agustus 2025. Pada kesempatan tersebut Presiden menyatakan, \u201cUndang-undang Dasar 1945 harus kita pelajari, Undang-undang Dasar 1945 janganlah menjadi mantra, janganlah menjadi slogan, hanya di bibir kita teriak-teriak terus, Undang-undang Dasar 1945 adalah rancang bangun yang relevan, rancang bangun yang ampuh, rancang bangun yang nyata dan rancang bangun yang operasional untuk kita gunakan.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika presiden hanya menggunakan kata \u201cslogan\u201d, baiklah mungkin ini suatu peringatan umum dengan menggunakan kata yang umum juga. Tapi dalam dua kesempatan tersebut Presiden menggunakan kata \u201cmantra\u201d yang mana \u201cmantra\u2019 di sini sama dengan yang dideskripsikan Mochtar Lubis dalam bukunya. Patutlah kita membuka kemungkinan bahwa Presiden Prabowo berada dalam sisi Mochtar Lubis dalam &#8220;kejengahan&#8221; terhadap mantra dan slogan-slogan ini. Kita tentu berharap bahwa \u201cindonesia adalah bangsa besar\u201d, \u201cswasembada pangan\u201d, \u201cantek-antek asing\u201d, dan \u201cpertumbuhan ekonomi 8 persen\u201d tidak akan menjadi mantra baru yang diinisiasi Presiden Prabowo di kemuadian hari.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mochtar Lubis juga menjelaskan di antara ciri manusia Indonesia yang paling kentara adalah munafik atau hipokrit. Hal ini diwakili dengan prilaku gemar berpura-pura, lain di muka, lain di belakang. Ciri ini menurutnya merupakan ciri yang sudah sejak lama berada dalam diri manusia Indonesia, tidak lain diantaranya akibat dari penindasan di zaman kolonial. Bangsa yang terjajah, sebagai bangsa yang kalah dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa yang sebenarnya dirasakan atau dipikirkan atau yang dikehendakinya. Karena takut akan mendapatkan hukuman dan penindasan yang membawa masalah bagi dirinya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada akhirnya sikap hipokrit ini merasuk ke dalam relung-relung budaya kerja manusia Indonesia.\u00a0 Manusia Indonesia, dari sebelum, ketika dan hari ini setelah puluhan tahun buku ini diterbitkan, masih terkenal dengan budaya kerja ABS (Asal Bapak Senang). Perilaku ABS ini memiliki akar yang dalam di dalam diri manusia Indonesia. Agar seseorang melindungi dirinya, terpaksalah ia memasang topeng di luar kepada raja, sultan, sunan, regent, bupati, demang, tuanku laras, karaeng, teuku dan tengku dan sebagainya. Semua arahan dari atasan selalu disikapi dengan inggih, sumuhun, ampun duli tuanku, hamba patik tuanku.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bunyi-bunyian khas ABS ini masih berbunyi kencang di era yang katanya modern seperti sekarang. Tidak kurang-kurang kita mendengar bunyi-bunyian seperti ini. Di birokrasi pemerintahan terkenal dengan \u201csiap pak\u201d, di jajaran militer dan kepolisian mereka memakai \u201csiap ndan\u201d, di kantor-kantor perusahaan swasta tak jarang ditulis di pesan <em>whatsapp<\/em> \u201cnoted Pak, noted Bu\u201d, bahkan yang paling &#8220;sinting&#8221; di institusi yang seharusnya paling egaliter, yaitu di organisasi-organisasi gerakan yang diisi para aktivis, terdengar ayunan-ayunan olah mengolah seperti: \u201csiap kanda\u201d, \u201campun dinda\u201d, \u201cmantap abangku\u201d, \u201cmohon arahan kanda\u201d dan lain sebagainya. Di tempat yang seharusnya semuanya berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, tapi kanda senior yang bodoh pun tetap harus diayun dengan ditinggikan sejengkal dari mata kaki adinda junior.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam sebuah wawancara di Channel YouTube CXO Media, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan posisinya terhadap perilaku ABS. Purbaya, yang saat tulisan ini dibuat baru saja satu pekan diangkat menjadi Menteri Keuangan, menceritakan budaya kerja di LPS ketika ia baru saja mengepalai lembaga tersebut,\u00a0 \u201cTerus yang kedua anak buah tuh kalau beda pendapat sama atasan bisa dipindah rupanya. Tadinya saya <em>gak<\/em> tahu kenapa dipindah, ternyata karena perbedaan pendapat. <em>Lho<\/em> kok begitu? Akhirnya saya ubah, kalau rapat saya persilakan ngomong apa aja, gak akan dihukum. <em>Yes man<\/em> itu jeleknya gini, kalau Anda 20 tahun jadi <em>yes man<\/em>, 20 tahun lagi Anda jadi bodoh. Saya <em>gak<\/em> mau kerja sama orang bodoh, capek lah saya.\u201d\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari sini kita bisa mengidentifikasi kenapa proses belajar dalam organisasi-organisasi di Indonesia sangat lambat, hal itu karena informasi yang didapatkan pemimpin sangat sulit untuk akurat sebab sering terkaburkan oleh manipulasi bawahan. Setiap hari ketika Presiden Amerika Serikat memasuki <em>Oval Office<\/em>, Presiden selalu langsung diberondong oleh <em>brief<\/em> dari badan intelijen, <em>brief<\/em> dari <em>Chief of Staff<\/em>, <em>brief<\/em> dari <em>Press Secretary<\/em>. Dari semua <em>briefing<\/em> tersebut, hampir semuanya selalu berita buruk, sampai-sampai terkadang presiden AS mengeluh dengan mengatakan \u201dBisakah ada satu saja berita baik?\u201d keluhan ini wajar, bukan karena Presiden Amerika ingin &#8220;diumbang&#8221; dan &#8220;diolah&#8221; oleh bawahannya, tapi ini sebagai <em>coping mechanism<\/em> bagi dirinya atas kinerja baik bawahannya yang telah melaporkan terlalu banyak realita akurat yang tidak diinginkan. Tapi apa dampaknya? Pengambilan kebijakan seorang Presiden bisa sangat efektif karena dibekali informasi yang akurat. Sedangkan di Indonesia, atasan tidak perlu repot-repot meminta kabar baik dari bawahan, semua <em>brief<\/em> dan progres otomatis dilaporkan dengan manis legit penuh gula-gula. Semua keputusan bapak tempo hari &#8220;benar seratus persen&#8221;, &#8220;memang Bapak mantap&#8221;, &#8220;panutan bagi kami&#8221;, &#8220;semua aman terkendali, Pak&#8221;. Tidak jarang para bawahan ini diberi target pimpinannya 24 bulan siap, diberi target 18 bulan pun siap. Baru setelah pulang rapat dari ruang pimpinan, masing-masing mulai berpikir, bukan bagaimana caranya menyelesaikan target\u2014karena tidak mungkin\u2014tapi bagaimana caranya berbohong dengan jitu kepada pimpinan di masa depan. Kembali lagi kepada \u201cPurbaya Mindset\u201d, semoga cara berpikir anti ABS seperti ini tetap dipertahankan, sangat penting bagi menteri keuangan untuk berkata \u201cTidak\u201d kepada atasannya yang tidak lain adalah Presiden RI.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ciri lain dari manusia Indonesia yang ditekankan Mochtar adalah enggan bertanggungjawab atas perbuatannya dengan segala turunannya. Manusia Indonesia cenderung enggan bertanggungjawab atas putusannya, kelakuannya dan bahkan pikirannya. Kata \u201cbukan saya\u201d adalah frasa yang cukup populer di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab kepada bawahan, bawahan menggeser tanggung jawab kepada bawahannya lagi. Terkadang bawahan juga melempar tanggung jawab kepada atasan, sehingga tidak ada yang bertanggung jawab sama sekali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita dapat melihat ciri ini salah satunya pada peristiwa yang terjadi belakangan ini. Penabrakan Affan Kurniawan, seorang diver ojek online oleh rantis brimob pada 28 Agustus 2025 malam yang akhirnya diakhiri dengan kericuhan paling brutal dalam sejarah republik, telah mengantarkan beberapa prajuriit kepolisian diseret ke sidang etik untuk diadili. Pada sesaat sebelum mereka dijatuhi sanksi dalam sidang etik tersebut, para prajurit dan perwira itu pun sambil terisak dalam tangis menyatakan bahwa mereka hanya \u201cmenjalankan tugas\u201d, mereka hanya \u201cmenjalankan perintah\u201d, sebuah pengakuan yang menginsinuasikan bahwa bukan mereka yang bersalah, tapi atasan yang bersalah. Sedangkan di sisi yang lain, sampai tulisan ini dibuat, tidak ada satu pun perwira dan pejabat kepolisian yang berani untuk mengakui kesalahan dan mengundurkan diri. Komandan brimobnya tidak mundur, kapoldanya tidak mundur, kepala intelkamnya tidak mundur dan bahkan sampai kapolrinya sampai tulisan ini dibuat tidak mundur. Bahkan yang lebih parahnya lagi, sehari setelah Presiden menunjuk penasehat khusus untuk reformasi polri, kapolri mengeluarkan sprin pembentukan tim transformasi polri internal sendiri. Sebuah langkah yang bisa dibaca sebagai keengganan untuk dibenahi dari luar, dan tentu sebuah keengganan untuk bertanggung jawab. Padahal, tidak hanya Affan Kurniawan, tapi ada 10 orang lagi yang meninggal dalam serial kerusuhan Agustus tersebut, baik oleh kelalaian aparat seperti di Makassar, maupun oleh brutalitas aparat itu sendiri seperti di Jakarta dan Yogyakarta.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sangat sedikit dalam sejarah kita, para pemimpin yang berani menepuk dadanya di depan dan menyatakan bertanggung jawab. Saking jarangnya, saya sampai tidak mampu menyebutkannya karena tidak ingat. Sebaliknya, jika terdapat sebuah kesuksesan, para pejabat berbondong-bondong mengerubungi peristiwa tersebut untuk berebut klaim. Ketika sebuah tim sepakbola di Indonesia juara misalnya, para pejabat berbondong-bondong ikut turun ke lapangan dan mengangkat piala, padahal itu haknya pemain. Ada juga yang lebih menggelikan, para pejabat beramai-ramai memberikan selamat kepada prestasi tim nasional sepakbola Indonesia dengan membuat poster-poster di akun media sosial mereka, yang anehnya foto mereka sambil mengapalkan tangan dipasang besar-besar, bahkan lebih besar dari foto pemain timnasnya itu sendiri. Kegelian seperti ini menjalar akut dari mulai yang paling bawah sampai atas. Bahkan belum genap satu tahun pemerintahan, Presiden Prabowo sudah membagi-bagikan bintang jasa dan kehormatan kepada menteri-menterinya yang belum jelas prestasinya, termasuk kepada adiknya sendiri. Sekali lagi, belum genap setahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ciri selanjutnya yang dijelaskan Mochtar tentang manusia Indonesia adalah lemah watak atau karakternya. Ciri ini ramai dijumpai\u2014termasuk yang paling menyedihkan\u2014adalah di kalangan kaum intelektual. Selama 10 tahun era pemerintahan Jokowi, ketika rakyat memprotes penambahan utang luar negeri yang ugal-ugalan, kerap kita jumpai para intelektual baik itu ekonom maupun yang bukan ekonom, membela kebijakan ini dengan mengatakan, \u201cutang itu baik selama untuk kebutuhan produktif.\u201d, tapi begitu para intelektual ini berlainan posisi politik dengan presiden Jokowi dan juga Presiden Prabowo, mereka mulai mengungkit-ungkit utang yang bertumpuk ini dan membebankannya pada pemerintahan Prabowo. Mereka, entah sadar atau tidak, secara tidak langsung turut andil dalam pembengkakan utang selama 10 tahun terakhir. Dan sekarang mulai menambah-nambahi, bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa sekolah yang akan menelan 350 triliun itu sebagai program populis dan pemborosan. Ketika selama 10 tahun utang itu digunakan untuk proyek infrastruktur ugal-ugalan, mereka diam dengan alasan produktif karena yang diuntungkan korporasi besar, tapi ketika yang diuntungkan rakyat bawah, mereka bilang ini populis. Padahal proyek infrastruktur era Jokowi pun sangat populis, karena mengabaikan banyak sekali <em>visibility studies<\/em>. Proyek populis yang paling jelas terlihat tidak lain adalah pembangunan Ibu Kota Nusantara di Kalimantan Timur. Bagi pada intelektual lemah watak ini, kesalahan MBG di sebrang lautan tampak, tapi kebocoran akibat IKN di pelupuk mata pun tak kelihatan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masih banyak lagi ciri-ciri khusus lain yang dijelaskan Mochtar Lubis dalam bukunya itu. Tapi minimal dari ciri-ciri umum yang besar ini, sebetulnya muaranya ada dalam satu ciri, yaitu ciri ketiga yang disebut bersikap feodal. Ciri ini berkembang dengan cemerlang baik di kalangan atas maupun kalangan bawah. Kalangan atas mengharapkan bahwa kalangan bawah senantiasa mengabdi kepadanya dengan segala rupa cara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam tradisi kepemimpinan misalnya, pemimpin di zaman dahulu dianggap perlu dituankan karena memiliki kesaktian khusus. Raja di Jawa dipercaya memiliki Wahyu Mangkutoromo, jika seseorang tidak memiliki Wahyu Mangkutoromo, maka dia tidak layak menjadi pemimpin. Bahkan kepercayaan ini terus dilanjutkan hari ini ketika negara ini sudah menjadi Republik. Pada pertengahan tahun 2022, masih ada sebagian kalangan dalam diskusi-diskusi politik di ruang publik yang mempropagandakan bahwa Presiden Inonesia tahun 2024 adalah dia yang harus terlebih dahulu mendapatkan Wahyu Mangkutoromo, maka disebutlah nama-nama yang dianggap mempunyai pulung tersebut. Kita tidak pernah tahu sampai sekarang cara dan syarat mendapatkan wahyu tersebut. Selain itu juga katanya presiden Indonesia harus yang akhiran namanya masuk ke dalam kategori notonogoro, karena jika tidak, maka akan terjadi goro-goro. Maka diberilah nama kepada seorang Prabowo Subianto\u2014yang tidak termasuk notonogoro\u2014nama kecil baru yaitu Kusno, agar Indonesia jika dia jadi Presiden akan selamat. Sebagaimana Predisiden Joko Widodo yang di belakang namanya tidak termasuk notonogoro, sebelum jadi Presiden pernah mengaku kalau nama kecilnya adalah Mulyono, yang belakangan hari ini setelah beliau pensiun jadi presiden dijadikan bahan ejekan oleh sebagian orang. Nama Molyono yang dulu dijadikan legitimasi untuk menjadikannya sebagai Presiden, sekarang setelah Wahyu Mangkutoromonya lepas, malah berbalik dijadikan bahan ejekan. Begitulah kita sebagai rakyat yang feodal membicarakan dengan antusias hal-hal yang tidak relevan terhadap kapasitas <em>leadership<\/em> ini secara terus menerus.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Feodalisme adalah ciri manusia Indonesia yang amat berbahaya, segala kemajuan teknologi dan informasi akan selalu terhambat karena feodalisme. Kemajuan perpesanan seperti <em>direct massage<\/em> dan <em>chat <\/em>via media sosial yang seharusnya meningkatkan efektifitas komunikasi, malah menjadi sumber beban karena setiap bawahan harus berampun-ampun mengatakan \u201cmohon izin, Pak\u201d dan \u201cmohon izin, Bu\u201d dulu sebelum menyatakan maksudnya. Tidak kurang-kurang seorang mahasiswa harus terhambat bimbingan skripsinya akibat dosen-dosen feodal yang rentan tersinggung dan rentan miskomunikasi. Kalimat \u201cmohon izin, Kanda\u201d juga bergema di kalangan para aktivis yang seharusnya egaliter nan setara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahaya dari feodalisme ini juga dapat kita temui dalam proses perubahan sosial. Feodalisme, yang bisa kita persingkat pengertiannya menjadi &#8220;kehendak menusia untuk menyembah atau disembah oleh manusia yang lain&#8221; ini, kerap terjadi dalam level tertentu dalam peradaban manusia.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Malik Bin Nabi, seorang intelektual Al Jazair dalam bukunya yang berjudul <em>Musykilatul Afkar Fiil \u2018Alam Al-Islamiy<\/em> (Problematika Pemikiran di Dunia Islam), telah menerangkan bahwa setiap tahapan peradaban memiliki level berpikirnya masing-masing, yaitu manusia pra-peradaban yang memikirkan benda-benda material, manusia menuju peradaban yang berpikir tentang indvidu dan manusia beradab yang memikirkan ide dan gagasan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Manusia yang ia sebut \u201cpra-peradaban\u201d cenderung berpikir dan mengagungkan benda-benda kasar dan kasat mata. Tinggi rendahnya derajat manusia dinilai dari seberapa banyak dan seberapa mewah benda yang ia punya. Jangan dibayangkan cara berpikir seperti ini dilakukan oleh segelintir anggota suku pedalaman di luar sana. Bahkan cara berpikir seperti ini juga terjadi di negara-negara yang terlihat \u201cmaju\u201d, negara seperti UEA, kurang tinggi dan kurang mewah apa bangunan yang mereka buat. Negara seperti Qatar, kurang gemerlap dan kurang megah apa stadion yang mereka bangun untuk piala dunia. Tapi, ketika ada pekerja-pekerja yang dilaporkan dalam sebuah investigasi media meninggal dalam pengerjaan stadion tersebut, atau ketika Qatar mencurangi India dalam salah satu babak kualifikasi menuju piala dunia, mereka terus mengangkat dagu tanpa menutup mata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Level pemikiran kedua adalah level manusia yang menuju beradab. Pada level ini manusia cenderung memikirkan individu. Ketika mereka sudah mempercayai individu tertentu, maka ukuran benar dan salah disandarkan pada inividu tersebut. Benar menurut orang itu, benar juga kata dia, salah menurut orang itu, salah juga kata dia. Sikap ini muncul dalam berbagai istilah di antaranya seperti figuritas, kultus, ternak dan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tampaknya dalam level inilah kebanyakan manusia Indonesia berada. Manusia Indonesia, jika sudah percaya kepada gurunya, percaya kepada junjungan dan idolanya, maka hilanglah seketika daya kritisnya. Hal ini kita jumpai dalam perdebatan antara para pengkultus habaib dan para pengkultus kiyai. Bagi para pengkultus habaib, benar kata habib maka benar kata mereka, salah kata habib maka salah kata mereka. Jika habib memerintahkan penggrebekan rumah makan, maka mereka akan lakukan. Jika seorang habib tertangkap kamera di depan umum menggoda seseorang pramusaji, maka itu layak dibenarkan. Begitu juga bagi para pengikut kiyai, jika kiyai bilang minum ini air bekas minumku, maka diminumlah ia demi apa yang disebut dengan &#8220;ngalap berkah&#8221;. Agama yang dianut sama, tapi penerapannya berbeda karena kultus merambat kemana-mana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kultus individu ini juga berbekas kental dalam budaya politik kita. Betapa ukuran akan besar atau tidaknya sebuah partai politik, seringkali bukan ditentukan seberapa kuat dan seberapa representatif ideologi partai tersebut. Tapi partai-partai di Indonesia, sangat ditentukan oleh seberapa besar ketokohan para pemimpin partai tersebut. Kerap kali terjadi kontradiksi dalam ideologi suatu partai. Tapi semua itu diabaikan asal memiliki tokoh yang kuat. Ke mana arah kebijakannya apakah akan pro-kapitalis junto neo-liberal, apakah akan sosialis apakah akan <em>pro-life<\/em> atau <em>pro-choice<\/em> ditentukan oleh si tokoh tersebut. Dinda-dinda pengurus di bawah akan dengan senang hati <em>sami\u2019na wa atho\u2019na<\/em> untuk ikut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahkan lebih terang lagi, Malik Bin Nabi mengatakan bahwa kultus individu yang tidak lain sumbernya dari feodalisme ini akan sangat mengganggu proses perubahan sosial. Dalam bukunya di atas ia mengatakan, \u201cMenghadapi berhala-berhala (kultus individu) jauh lebih mudah ketimbang menghadapi ide-ide. Para ahli strategi kolonial terlebih dahulu menciptakan berhala individu dalam tubuh revolusi. Kemudian memecah satu berhala dengan berhala lain seraya memecah para pengikutnya. Terakhir, mereka mengendalikan jalannya revolusi dan melanjutkan proyek penjajahan.\u201d\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita akhirnya jadi memahami bahwa kultus individu bahkan bisa menghambat perubahan sosial seperti revolusi. Dengan kata lain, kita sekarang memahami bahwa feodalisme dapat mengintersep proses kemerdekaan sebuah bangsa. Dan barangkali feodalisme yang sama itulah yang menghambat Indonesia merdeka selama ratusan tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Feodalisme ini juga pada dasarnya akan menghalangi manusia secara keseluruhan untuk mengobservasi masalah dan membuat keputusan yang benar demi meningkatkan kualitas hidup manusia. Terlepas apakah kita penganut kepercayaan Nabi Adam sebagai manusia pertama atau menganut Teori Evolusi Darwin dalam seleksi alam. Feodalisme tetap menjadi penghalang dalam kemajuan umat manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yuval Noah Harari dalam <em>Homo Deus<\/em>, menyiratkan bahwa manusia (atau minimal yang ia sebut dengan Sapiens) telah bertindak layaknya mesin pemrosesan data di muka bumi. Ia percaya bahwa sejak 2,5 juta tahun lalu, manusia telah perlahan-lahan menyebar dari kawasan Afrika Timur ke seluruh dunia sebagai pemburu pengumpul. Dan ketika manusia menemukan biji-bijian untuk ditanam ulang, manusia yang menyebar ini mulailah tinggal hidup menetap. Dalam proses ini, mulailah manusia terstimulasi oleh pengalaman harian yang monoton namun dialami dengan intensif, perbedaan wilayah menyebabkan perbedaan iklim, perbedaan tantangan, perbedaan kebutuhan, perbedaan rutinitas dan akhirnya melahirkan perbedaan wawasan dan kebudayaan. Proses ini berlangsung kira-kira mulai dari 12.000 tahun lalu sampai terjadinya Revolusi Industri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika Revolusi Industri terjadi dan dunia mulai saling terhubung akibat globalisasi dan perkembangan teknologi transportasi dan informasi. Manusia yang sudah lama berpisah jarak ini mulai menghubungkan kembali dirinya satu sama lain. Mereka mulai menyebarkan perilaku, makanan, ide dan kebudayaan dari seluruh penjuru dunia untuk saling dipelajari satu sama lain. Dari sini setiap peradaban mulai belajar secara bersilangan dengan satu asumsi, bahwa masalah yang dia alami, barangkali ditemukan jawabannya dari kebudayaan yang berbeda di sana. Obat tradisonal Cina barangkali bisa mengobati penyakit di Amerika. Vaksin dari Eropa barangkali bisa menyembuhkan virus di Afrika. Kemahiran olahraga di Afrika dan Amerika latin barangkali bisa menjadi pertunjukan luar biasa bagi seluruh dunia dan teknologi nuklir dari Rusia barangkali bisa menjadi solusi untuk menggantikan batubara dari Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada dasarnya kepercayaan agama pun mengatakan hal yang sama. Manusia awalnya sedikit, dimulai dari keturuan Adam. Kemudian pasca banjir besar di era nabi Nuh manusia mulai menyebar melalui anak-anak Nuh yaitu Sam, Ham dan Yafitz. Dan hari ini setiap keturunan anak-anak manusia ini saling terhubung satu sama lain dan berbagi pengalaman. Sebagaimana yang disebut Harari, manusia berhubungan layaknya mesin pemroses data dan algoritma yang bekerja mengumpulkan setiap data dan mengubahnya menjadi pengetahuan yang berguna.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses pertukaran informasi dan solusi inilah yang tidak boleh dihambat oleh feodalisme. Setiap manusia, setiap pengalaman dan setiap pengetahuan perlu mendapat ruang untuk didengarkan tanpa dibatasi oleh hierarki imajinatif berupa kultus individu dan penyembahan sesama manusia yang menghalangi perbedaan pendapat. Dengan beginilah peradaban manusia akan terus <em>survive<\/em> dan terus menaklukan tantangan di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bangsa yang feodal akan mudah mengkultuskan individu, kemudian cenderung mudah diadu domba, dan bangsa yang terpecah memberikan celah yang lebar bagi keberlanjutan kolonialisme. Kolonisabilitas (keterjajahan) tidak datang dalam satu malam, mereka merayap melalui celah jiwa-jiwa feodal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jakarta, 24 September 2025<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kota Padang merupakan sebuah wilayah yang membentang mulai dari bibir Samudra Hindia di sebelah barat sampai dengan daerah hutan dan pegunungan di sisi lainnya. Posisinya yang bertetangga dengan Kabupaten Padang Pariaman, Solok dan Pesisir Selatan ini menjadikannya memiliki persediaan hutan tropis alami yang memadai. Wajahnya yang tegap menantang Samudra Hindia kerap kali membuat kota ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":262,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-container-style":"default","site-container-layout":"default","site-sidebar-layout":"default","disable-article-header":"default","disable-site-header":"default","disable-site-footer":"default","disable-content-area-spacing":"default","footnotes":""},"categories":[11,5],"tags":[],"class_list":["post-259","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-filosofi","category-opini"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.0 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Manusia Indonesia yang Perlu Dibicarakan - Relevansi<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Manusia Indonesia yang Perlu Dibicarakan - Relevansi\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kota Padang merupakan sebuah wilayah yang membentang mulai dari bibir Samudra Hindia di sebelah barat sampai dengan daerah hutan dan pegunungan di sisi lainnya. Posisinya yang bertetangga dengan Kabupaten Padang Pariaman, Solok dan Pesisir Selatan ini menjadikannya memiliki persediaan hutan tropis alami yang memadai. Wajahnya yang tegap menantang Samudra Hindia kerap kali membuat kota ini [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Relevansi\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-06-22T09:41:43+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-07-11T04:07:06+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/CvrRlvns-Manusya.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1218\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"812\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Aziz Zulqarnain\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Aziz Zulqarnain\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"22 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259\"},\"author\":{\"name\":\"Aziz Zulqarnain\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320\"},\"headline\":\"Manusia Indonesia yang Perlu Dibicarakan\",\"datePublished\":\"2026-06-22T09:41:43+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-11T04:07:06+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259\"},\"wordCount\":3884,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/CvrRlvns-Manusya.jpg\",\"articleSection\":[\"Filosofi\",\"Opini\"],\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"CommentAction\",\"name\":\"Comment\",\"target\":[\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#respond\"]}]},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259\",\"name\":\"Manusia Indonesia yang Perlu Dibicarakan - Relevansi\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/CvrRlvns-Manusya.jpg\",\"datePublished\":\"2026-06-22T09:41:43+00:00\",\"dateModified\":\"2026-07-11T04:07:06+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#primaryimage\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/CvrRlvns-Manusya.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/CvrRlvns-Manusya.jpg\",\"width\":1218,\"height\":812},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Beranda\",\"item\":\"https:\/\/relevansi.id\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Manusia Indonesia yang Perlu Dibicarakan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#website\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/\",\"name\":\"Relevansi\",\"description\":\"Selalu Relevan \",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/relevansi.id\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320\",\"name\":\"Aziz Zulqarnain\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg\",\"caption\":\"Aziz Zulqarnain\"},\"description\":\"Direktur Program The Hope Institute\",\"sameAs\":[\"https:\/\/www.instagram.com\/aziz.zulqarnain\/\"],\"url\":\"https:\/\/relevansi.id\/?author=3\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Manusia Indonesia yang Perlu Dibicarakan - Relevansi","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Manusia Indonesia yang Perlu Dibicarakan - Relevansi","og_description":"Kota Padang merupakan sebuah wilayah yang membentang mulai dari bibir Samudra Hindia di sebelah barat sampai dengan daerah hutan dan pegunungan di sisi lainnya. Posisinya yang bertetangga dengan Kabupaten Padang Pariaman, Solok dan Pesisir Selatan ini menjadikannya memiliki persediaan hutan tropis alami yang memadai. Wajahnya yang tegap menantang Samudra Hindia kerap kali membuat kota ini [&hellip;]","og_url":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259","og_site_name":"Relevansi","article_published_time":"2026-06-22T09:41:43+00:00","article_modified_time":"2026-07-11T04:07:06+00:00","og_image":[{"width":1218,"height":812,"url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/CvrRlvns-Manusya.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Aziz Zulqarnain","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"Aziz Zulqarnain","Estimasi waktu membaca":"22 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259"},"author":{"name":"Aziz Zulqarnain","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320"},"headline":"Manusia Indonesia yang Perlu Dibicarakan","datePublished":"2026-06-22T09:41:43+00:00","dateModified":"2026-07-11T04:07:06+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259"},"wordCount":3884,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/CvrRlvns-Manusya.jpg","articleSection":["Filosofi","Opini"],"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"CommentAction","name":"Comment","target":["https:\/\/relevansi.id\/?p=259#respond"]}]},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259","url":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259","name":"Manusia Indonesia yang Perlu Dibicarakan - Relevansi","isPartOf":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/CvrRlvns-Manusya.jpg","datePublished":"2026-06-22T09:41:43+00:00","dateModified":"2026-07-11T04:07:06+00:00","author":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/relevansi.id\/?p=259"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#primaryimage","url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/CvrRlvns-Manusya.jpg","contentUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/06\/CvrRlvns-Manusya.jpg","width":1218,"height":812},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/relevansi.id\/?p=259#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Beranda","item":"https:\/\/relevansi.id\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Manusia Indonesia yang Perlu Dibicarakan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#website","url":"https:\/\/relevansi.id\/","name":"Relevansi","description":"Selalu Relevan ","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/relevansi.id\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/ab5bead30d366e8a29c31b7106e38320","name":"Aziz Zulqarnain","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/relevansi.id\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg","contentUrl":"https:\/\/relevansi.id\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/Profile-Aziz-96x96.jpg","caption":"Aziz Zulqarnain"},"description":"Direktur Program The Hope Institute","sameAs":["https:\/\/www.instagram.com\/aziz.zulqarnain\/"],"url":"https:\/\/relevansi.id\/?author=3"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/259","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=259"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/259\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":272,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/259\/revisions\/272"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/262"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=259"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=259"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/relevansi.id\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=259"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}