David Hume, seorang filsuf asal Skotlandia pernah mengemukakan teori tentang persepsi manusia. Menurut Hume, persepsi manusia dibagi menjadi dua jenis, yang pada akhirnya dua jenis persepsi itu akan berkaitan satu dengan yang lainnya.
Persepsi yang pertama adalah, apa yang disebut dengan kesan. Menurut Hume, kesan merupakan penginderaan langsung atas realitas lahiriah. Kesan merupakan persepsi yang dialami pikiran dengan intensitas kekuatan yang paling dahsyat. Kesan merupakan hasil langsung dari pengamatan yang disertai dengan pengalaman.
Sebagai contoh dari kesan, ketika kita berjalan-jalan ke Kebun Binatang Ragunan, misalnya, di sana kita melihat seekor kuda dengan warnanya yang coklat tua, bermata besar, surai coklat kehitaman, berkaki hitam dan berekor lebat. Semua citra tentang kuda yang sedang kita lihat saat itu juga, itulah yang disebut dengan kesan. Dan kesan tersebut kemudian menjadi bagian dari faktor pembentuk persepsi diri kita tentang seekor kuda.
Karena kesan terbentuk dari peristiwa seketika yang dialami manusia dengan intensitas kekuatan paling besar, maka kesan memiliki struktur yang lebih kuat dan lebih hidup daripada ingatan reflektif atas kesan tersebut. Ingatan reflektif itulah yang disebut dengan gagasan. Dan gagasan inilah yang menjadi persepsi kedua menurut Hume.
Menurut Hume, gagasan adalah ingatan akan kesan. Gagasan merupakan bayangan samar dari kesan yang tersimpan di dalam pikiran. Gagasan merupakan hasil dari kesan yang tercipta dan tercitra kembali melalui pengalaman indrawi.
Sebagai contoh, jika kembali kepada kasus kebun binatang tadi. Seluruh hewan yang kita lihat dan tercitrakan secara langsung mulai dari kuda, singa, harimau, monyet burung secara langsung di lokasi pada saat kita melihatnya merupakan kesan. Tetapi ketika kita pulang dan kembali ke rumah kemudian kita mengingat kembali kuda yang kita lihat, citra tentang kuda yang muncul di benak kita itulah yang kemudian disebut gagasan. Citra hewan yang masuk saat kita melihatnya langsung disebut kesan, dan citra yang kita aktifkan kembali setelah kita tidak melihatnya lagi itulah yang disebut gagasan.
Ketika kita mengaktifkan gagasan tersebut, tentu citra kuda atau harimau yang muncul di benak kita tidak memiliki struktur yang semirip, selengkap, dan sehidup saat kita melihatnya langsung. Oleh karena itu, Hume berpandangan bahwa gagasan adalah refleksi tiruan yang samar, atau yang kita sebut tadi dengan ingatan reflektif atas kesan. Dari sinilah mengapa kita sebut antara keduanya bersifat sebab akibat atau saling berhubungan.
Dari pembagian antara kesan dan gagasan inilah David Hume berpendapat bahwa pikiran tidak pernah menciptakan ide apapun, tetapi pikiran memperolehnya dari kesan. Ia juga berpendapat bahwa setiap ide bersifat individual dan khusus.
Terlepas dari itu, jika kita teruskan alur pikir dari Hume, maka manusia selain bisa mengaktifkan gagasan tunggal, ternyata manusia juga dapat menciptakan gagasan kompleks.
Apakah Anda pernah melihat seekor Pegasus di sebuah film? Atau pernahkah anda melihat Centaur di serial kartun Hercules? Jika pernah, tentu anda mengetahui bahwa Pegasus adalah seekor kuda yang memiliki sayap seperti burung, sedangkan Centaur merupakan seekor kuda berkepala dan berbadan manusia. Coba pikirkan sejenak, apakah bentuk dari dua sosok ini dapat anda bayangkan? Jika anda mampu membayangkannya, saya akan melanjutkan ke pertanyaan selanjutnya. Apakah anda benar-benar pernah melihat Pegasus dan Centaur ini di dunia nyata? Tentu tidak. Atau apakah ada manusia lain yang ‘benar-benar pernah’ melihatnya di dunia nyata? 99,9 % saya meyakini tidak pernah ada. Lalu mengapa anda dapat merefleksikan sebuah gagasan yang bahkan kesannya tidak pernah ada sama sekali?
Itulah yang dimaksud dengan gagasan kompleks. Ada orang yang pernah melihat kuda, sekaligus juga dia pernah melihat hewan bersayap, dua kesan tersebut direfleksikan dalam satu gagasan yang sama, maka muncullah Pegasus, muncullah Centaur.
Memang benar pencipta pertama gagasan Pegasus dan Centaur bukan kita sendiri, tapi karena kita juga pernah melihat hewan bersayap dan juga kuda, maka gagasan tentang Pegasus dan Centaur itu memungkinkan untuk terefleksikan juga dalam ingatan kita. Dari sini dapat kita tarik kesimpulan, bahwa gagasan kompleks adalah dua atau lebih kesan yang disatukan dalam satu ingatan reflektif yang sama.
Bisakah anda bayangkan, jika satu orang saja dapat menghasilkan satu atau lebih gagasan kompleks, maka bagaimana ketika ada lebih dari satu orang yang memiliki lebih dari satu gagasan kompleks tersebut saling bertemu dan saling bertukar gagasan kompleks? Semakin banyak gagasan kompleks artinya semakin banyak gagasan tunggal; semakin banyak gagasan tunggal artinya semakin banyak ingatan reflektif yang terbentuk dari kesan, dan semakin banyak kesan artinya semakin banyak pula pengalaman individu yang terlibat.
Dan sebuah gagasan besar super kompleks yang manusia sepakati bersama, itulah yang dimaksud dengan akal kolektif.
Jakarta, 3 Oktober 2024
