Pernahkah kamu merasa sangat takut ketinggalan tren terkini? Entah itu hal yang populer di media sosial, mendatangi tempat tertentu, memiliki barang tertentu atau bahkan mengikuti kegiatan tertentu yang sedang hits dan banyak dilakukan orang.
Jika pernah, mungkin saja kamu sedang mengalami fear of missing out alias FOMO. Hal ini merupakan fenomena psikologis yang kerap kali terjadi pada lingkungan sosial kemasyarakatan kita hari ini.
Lalu apa itu FOMO? Apakah selalu berdampak negatif untuk orang yang mengalaminya? Atau apakah ada juga FOMO yang positif? Mari kita baca artikel ini sampai habis!
Apa itu FOMO?
Istilah FOMO pertama kali dicetuskan oleh Dr. Andrew K. Prybylski pada tahun 2013. FOMO didefinisikan sebagai kekhawatiran yang meluas bahwa orang lain mungkin sedang mengalami pengalaman yang memuaskan sementara kita tidak, FOMO ditandai dengan keinginan untuk terus terhubung dengan apa yang dilakukan orang lain(1).
Tanpa kita sadari, saat ini FOMO sudah merasuki setiap kelas sosial. FOMO bukan lagi isu segelintir orang. FOMO bahkan bagi sebagian orang sudah berubah menjadi “penyakit” massal yang bisa menjangkiti siapa saja. Untuk mengakui status ini, bahkan kata FOMO dimasukkan sebagai entriOxford English Dictionary pada tahun 2013. Tidak hanya itu, FOMO juga telah menyebar ke seluruh dunia(2).
Jika kita melakukan penelusuran di Google dengan kata kunci FOMO, kita akan mendapatkan lebih dari 32 juta hasil. Sementara tagar FOMO muncul lebih dari 9 juta kali di situs seperti Instagram. FOMO juga digunakan secara luas di dalam iklan dan dalam percakapan media sosial di seluruh dunia.
Indonesia, sebagai sebuah wilayah dengan masyarakat yang memiliki tradisi kolektif yang kuat, tentu merupakan lahan subur bagi tumbuhnya fenomena FOMO ini.
FOMO Positif dan FOMO Negatif
Meskipun kerap kali dikonotasikan negatif, karena disamakan dengan tindakan ikut-ikutan yang terkesan tidak memiliki pendirian, pada dasarnya fenomena FOMO ini bersifat netral. Artinya positif atau negatifnya nilai FOMO tidak terletak pada sifat FOMO itu sendiri, melainkan terletak pada tindakan apa yang menjadi objek FOMO tersebut.
Tren yang sempat meledak misalnya seperti “war” tiket konser artis luar negeri yang memicu percaloan, FOMO akan investasi yang dipengaruhi sebagian influencer keuangan yang tidak memiliki dasar pengetahuan finansial yang memadai, FOMO joget-joget dengan musik trendy, atau bahkan di bulan ramadhan lalu, FOMO pengajian Bahasa Suryani ala Mama Ghufron misalnya, bisa saja itu dikategorikan sebagai FOMO negatif.
Lain daripada itu, terdapat juga fenomena FOMO yang bisa kita kategorikan sebagai FOMO positif. Di antaranya FOMO kegiatan penunjang kesehatan fisik seperti gym dan olahraga lari, merupakan FOMO positif yang layak diapresiasi dan dikembangkan di tengah tradisi kolektif masyarakat Indonesia yang kuat.
Tren seperti running, menjadi tren dan gaya hidup baru dalam beberapa tahun terakhir. Pencarian tentang running event atau lari maraton di Indonesia meningkat hingga 200% dalam dua tahun terakhir. Merujuk pada Garmin Connect, cabang olahraga lari mengalami setidaknya 330% kenaikan menjadi 242 ribu jumlah pelari per Mei 2025, yang pada Januari 2024 hanya terdapat 56 ribu pelari saja.
Selain itu, terdapat juga peningkatan jumlah event lari yang diperkirakan naik sebanyak 100 event pada tahun 2025 dibandingkan tahun 2024, yaitu sebanyak 458 acara terselenggara(3).
Peningkatan partisipasi pada olahraga lari secara umum dan lari maraton secara khusus ini ditengarai karena pengaruh dari kemudahan akses teknologi yang mempermudah pelari untuk terlibat dalam komunitas dan acara lari. Euforia dari tren lari ini juga didukung dengan hadirnya platform aplikasi penunjang seperti Strava dan sejenisnya, yang jika dikombinasikan dengan masifnya penggunaan media sosial, aplikasi sejenis ini tidak hanya berfungsi sebagai perekam aktivitas olahraga dan performa fisik, melainkan juga menjadi sarana validasi diri dan atau sedikit banyak sebagai alat “pamer positif” terhadap pencapaian olahraga.
Kombinasi antara kemudahan akses, penggunaan aplikasi pencatat performa seperti Strava dan penyebaran masif melalui media sosial inilah yang kiranya menciptakan apa yang disebut dengan “bandwagon effect”, yang akhirnya menjadikan olahraga lari merebak dan meledak di masyarakat. Istilah “bandwagon effect” sendiri merujuk pada fenomena bias kognitif di mana individu mengadopsi perilaku, keyakinan atau tren tertentu hanya karena banyak orang lain yang melakukannya.
Tapi sekali lagi, jika dibandingkan dengan tren-tren “sampah” yang sempat terjadi di Indonesia. Tren lari maraton ini layaknya oase di tengah gurun pasir. Ini merupakan satu dari sedikit fenomena FOMO positif di tengah merebaknya FOMO negatif.
FOMO yang Mengitari Tren Lari
Kalau kita coba gali lebih dalam, ada banyak bentuk FOMO yang kerap melanda kaum pelari saat ini. Sekarang muncul para pelari yang dijuluki sebagai “pelari kalcer”, yang mana julukan tersebut merupakan sebutan bagi para pelari yang telah menjadikan running sebagai rutinitas sehari-harinya, setidaknya 2-3 kali dalam seminggu.
Tapi istilah tersebut ternyata tidak terlepas dari persepsi negatif FOMO, yang mana kini pelari kalcer seperti telah menjadi kasta tersendiri di antara kaum pelari. Orang-orang dapat menyandang gelar tersebut setelah memenuhi standar minimal tertentu. Seperti sepatu lari yang minimal harganya jutaan, jam tangan pintar yang melekat di pergelangan tangan ketika berlari, kacamata stylish yang siap menghadang track lari, hingga setelan lari yang serba hitam.
Sehingga tak sedikit orang, khususnya mereka yang baru saja memulai rutinitas lari, beranggapan bahwa olahraga yang tadinya mudah ini menjadi sulit karena harus memenuhi standar tertentu. Persiapan lari pun dilakukan bukan dengan mempertimbangkan kondisi fisik dan pemanasan, melainkan tentang apa saja outfit yang digunakan. Kini rasanya terlalu banyak peralatan yang harus dibeli untuk menunjang olahraga lari ini. Sebuah olahraga yang pada mulanya paling mudah diakses oleh siapapun.
Perkembangan sepatu lari juga kini kian melesat. Baik itu Brand internasional maupun brand lokal memiliki keunggulan masing-masing pada produknya, dan tentu terdapat pembaharuan di setiap seri terbarunya. Tak jarang, para pelari juga memiliki hasrat untuk memenuhi rasa FOMO akibat adanya fenomena tersebut. Keinginan untuk memiliki dan mengoleksi sepatu terbarukan menjadi motivasi lain ketika mencemplungkan diri dalam dunia lari.
FOMO Lari Sebagai Titik Balik Hidup
Terlepas dari fenomena FOMO yang mengitari para pelari, sekali lagi ini merupakan FOMO yang secara relatif bisa dikatakan positif atau dalam hal ini, kita gunakan istilah FOMO Sehat. Oleh karena itu, daripada kita terlalu tenggelam dalam menilai perilaku sesama pelari, lebih baik kita maknai FOMO lari ini dengan lebih dalam.
Kita pada dasarnya bisa menjadikan FOMO Sehat ini sebagai titik balik dalam menjalani kehidupan. Dari FOMO Sehat ini, kita bisa mulai berusaha mempertahankan segala manfaat yang kita dapatkan. Baik itu manfaat dalam menjalani kebiasaan baik, manfaat dalam menjaga kesehatan tubuh, maupun manfaat dalam menjaga hubungan dengan “sirkel positif.”
Dari fenomena FOMO Sehat ini juga kita bisa memilih dan memperkuat sikap mental kita. Apakah dalam menyikapi tren ini, sikap mental kita menjadi orang yang terintimidasi atau terinspirasi. Jika kita merasa terintimidasi dengan FOMO Sehat ini, kita mungkin tidak akan bergerak ke mana pun, tapi ketika kita menangkap FOMO Sehat ini sebagai inspirasi, perlahan tapi pasti kita akan tertarik ke dalam arus kebiasaan ini beserta manfaat-manfaatnya.
Baru nanti setelah kita tertarik ke dalam putaran arus FOMO Sehat, tugas kita hanya tinggal satu saja, yaitu mempertahankan habit ini dengan segala kebermanfaatannya.
(1) Andrew K. Przybylski, “Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out,” Computers In Human Behavior 29, no 4 (2013): 1841, https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0747563213000800
(2) Patrick MCGinnis, Fear Of Missing Out: Bijak Mengambil Keputusan di Dunia yang Menyajikan Terlalu Banyak Pilihan (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2020), hlm. 10.
(3) https://goodstats.id/article/peningkatan-tren-lari-di-indonesia-bagaimana-manfaatnya-bagi-ekonomi-nasional-6s7oI
