Sebagai seorang manusia, kita pasti pernah dan akan terus mendapatkan ujian dan cobaan dalam hidup di dunia. Ujian dan cobaan sejatinya adalah sunnatullah yang tidak ada satupun manusia bisa terbebas darinya. Maka, melalui ujian dan cobaan itulah kehidupan memiliki warna, dan dari situlah manusia belajar menjadi lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih dekat kepada Allah.
Perlu diketahui, bahwa ujian dan cobaan yang datang menerpa hidup manusia merupakan suatu ketentuan yang telah ditetapkan berdasarkan rahmat dan sifat adilnya Allah. Ia bukan hanya diberikan oleh Allah secara asal-asalan kepada hamba-Nya.
Maka kalau kita sadar, kita akan menemukan bahwasannya Allah SWT sang Maha Pencipta dan Maha Pengatur, tidaklah membiarkan manusia mengemban cobaan dan ujian yang tidak memilik solusi.
Allah Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang banyak memberikan solusi dari setiap cobaan tersebut di dalam Al-Quran. Di antara solusi-solusi tersebut adalah yang dijelaskan dalam surat Al Baqarah ayat 45:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
Artinya:
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk” (QS: Al-Baqarah: 45)
Melalui ayat ini, Allah mengajarkan kepada hamba-Nya bahwa ketika menghadapi berbagai persoalan hidup, dua hal yang harus dijadikan pegangan adalah sabar dan shalat.
Sabar bukan sekadar menahan diri dari keluh kesah, tetapi merupakan kesadaran penuh seorang hamba bahwa segala sesuatu yang menimpanya berasal dari Allah.
Di dalam Islam, sabar ini memiliki keterkaitan penting antara seorang hamba kepada Allah. Ibnul Mubarak pernah meriwayatkan dari Ibnu Luhai’ah dari Malik bin Sa’ad bin Jubair yang mengatakan, “Sabar itu merupakan pengakuan seorang hamba kepada Allah bahwa musibah yang menimpanya itu dari Allah, dan ia mengharapkan ridha Allah dan pahala yang ada di sisi-Nya. Adakalanya seseorang mengeluh, padahal ia tetap tegar dan tak terlihat darinya kecuali hanya sabar belaka.”
Dari penjelasan tersebut kita memahami, ketika kita bisa bersabar dalam setiap cobaan yang ada, maka sejatinya kita sedang meyakini bahwasannya semua ujian dan cobaan datangnya dari Allah, dan dihadirkan kepada hamba-Nya untuk menguji seberapa jujur keimanan seorang hamba.
Jika seorang hamba jujur atas keimanannya, maka ia akan mencoba bersabar dan berusaha mendapatkan ridha dan pahala dari Allah dengan kesabaran yang ia usahakan tersebut.
Bilamana seorang sudah bersabar ketika mendapatkan cobaan dan ujian, maka dengan sadar ia pun meyakini bahwa semua cobaan dan ujian yang dihadirkan Allah baginya pasti ada jalan keluarnya dan pasti bisa teratasi. Hal ini dikarenakan ia yakin bahwa Allah tidak menguji hamba-Nya melampaui batas kemampuan dari hamba-Nya tersebut. Sebagaimana firman Allah:
“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS: Al Baqarah: 286)
Bukan hanya itu saja. Ketika seorang hamba bisa bersabar dari setiap ujian dan cobaan yang ada, maka sabarnya itu akan dibalas oleh Allah dengan balasan yang sangat besar. Hal ini sebagaimana firman Allah:
“Sungguh hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS: Al-Zumar: 10)
Ketika kita berbicara tentang sabar dari perspektif psikologi, para psikolog menjelaskan bahwa orang yang memiliki kemampuan bersabar umumnya memiliki tingkat stres yang lebih rendah dibandingkan dengan orang yang tidak mampu bersabar. Hal ini terjadi karena kesabaran membantu seseorang mengelola dan mengendalikan emosi negatif
Ketika seseorang sudah mampu mengelola emosi negatif yang muncul dalam dirinya, maka ia akan lebih mudah melihat sisi positif dalam segala kenyataan hidup yang dialami. Dan orang-orang seperti ini akan memiliki hidup yang lebih bahagia dan hubungan sosial yang baik dengan sekitarnya.
Dalam neurosains, sabar dikaitkan dengan aktivitas yang dilakukan pada bagian otak preferontal cortex (bagian yang menjadi pusat pengendalian diri dan pengambilan keputusan yang rasional). Maka orang yang bisa bersabar dalam kondisi mendapat ujian dan cobaan, mereka cenderung bisa mengambil keputusan yang lebih rasional tanpa banyak membawa unsur subjektifitas yang disebabkan oleh emosi.
Selain sabar, Allah juga mengajarkan agar seorang hamba menjadikan shalat sebagai tempat memohon pertolongan. Shalat sendiri merupakan aktivitas spiritual yang menggabungkan unsur gerakan fisik, konsentrasi mental, dan kedekatan emosional dengan Allah. Ia bisa memberikan efek yang dapat meningkatkan kesehatan mental dan dapat mengaktifkan sistem saraf parasmatik (saraf yang bertanggung jawab dalam relaksasi dan pemulihan tubuh).
Kita juga bisa belajar dari kebiasaan Rasulullah. Setiap kali Rasulullah menghadapi kesulitan, maka yang Rasulullah lakukan adalah melakukan shalat. Hal ini sebagaimana di ceritakan oleh Hudzaifah salah seorang sahabat Rasulullah.
Hudzaifah berkata: “Apabila Rasulullah menghadapi kesukaran, maka Rasulullah segera melaksanakan shalat.” (HR Iman Ahmad dan Abu Dawud)
Kita sebagai manusia butuh sosok yang bisa menghadirkan ketenangan ketika diri kita sedang tidak baik-baik saja. Maka perlu kita pahami bahwa shalat adalah bentuk ibadah yang akan mendekatkan diri seorang hamba kepada Allah. Kedekatan ini yang akan menimbulkan ketenangan dan ketenteraman batin pada diri manusia.
Ketenangan dan ketenteraman yang didapat dari kita mendekatkan diri kepada Allah adalah ketenangan dan ketenteraman yang akan melahirkan energi yang luar biasa untuk menghadapi apa pun yang terjadi di dunia ini.
Ibadah adalah sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah, ibadah adalah sarana manusia menyandar pada kekuatan yang besar. Ketika manusia sudah menyandar pada kekuatan besar tersebut, ia akan merasa tenteram. Fitrah manusia adalah lemah dan butuh pertolongan sehingga ketika ada tempat kembali yang besar, yaitu Allah. Ia akan merasa kebutuhannya terpenuhi. Terpenuhinya kebutuhan akan perlindungan dan pertolongan akan menimbulkan ketenangan.
Sungguh, Allah menjadikan shalat sebagai tempat berlabuhnya hati, hiburan untuk seorang hamba, pendidikan jiwa agar menjadi jiwa yang besar. Pada peristiwa ‘Amul Huzn (tahun berduka untuk Rasulullah) ketika pamannya, Abu Thalib, dan istri beliau, Khadijah meninggal, Rasulullah sangat bersedih. Karena kedua orang itu adalah orang selalu berada di garis terdepan dalam membela dakwah Rasulullah.
Maka melihat hamba-Nya bersedih, Allah menghibur Rasulullah dengan Isra Mi‘raj. Dalam peristiwa inilah Allah memberikan perintah shalat lima waktu kepada umat Islam. Sejak saat itu, shalat menjadi penguat hati Rasulullah dan umatnya dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Jika kita renungkan, pelajaran tentang sabar dan shalat ini sebenarnya banyak kita rasakan selama bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh kita dilatih untuk bersabar, menahan lapar dan dahaga, menahan amarah, serta menahan berbagai keinginan. Kita juga dilatih untuk lebih dekat kepada Allah melalui shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, seperti shalat tarawih, shalat dhuha, dan juga qiyamul lail.
Semua latihan itu akhirnya mengantarkan kita menuju hari kemenangan, Idul Fitri. Idul Fitri bukan sekadar perayaan setelah berpuasa, tetapi ia adalah simbol keberhasilan seorang hamba yang telah melewati ujian Ramadhan dengan kesabaran dan kedekatan kepada Allah.
Takbir yang berkumandang di hari Idul Fitri seakan mengingatkan bahwa setelah kesabaran selalu ada kemenangan, setelah kesulitan selalu ada kemudahan.
Karena itu, ketika kita menghadapi berbagai cobaan dalam kehidupan, janganlah kita tenggelam dalam kesedihan yang berlebihan atau terus-menerus meratapi keadaan.
Sikap seperti itu justru akan membuat kita semakin jauh dari solusi dan kita tidak akan pernah selesai dari setiap cobaan yang ada. Sebaliknya, marilah kita kembali kepada petunjuk Al-Qur’an: bersabar dan mendirikan shalat. Dengan sabar kita menguatkan hati, dan dengan shalat kita mendekatkan diri kepada Allah.
Semoga dengan kesabaran dan shalat yang kita lakukan selama ramadhan ini, Allah memberikan kita kekuatan dalam menghadapi setiap ujian kehidupan, hingga akhirnya kita dapat masuk ke dalam bulan Syawal, dan meraih kemenangan sejati (kemenangan iman dan ketenangan hati) sebagaimana makna kemenangan yang kita rayakan pada hari raya Idul Fitri.
