Perintah Agama dalam Menjaga Lingkungan

    Belasan ribu kepala keluarga (KK) terdampak banjir di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Provinsi Sumatera Selatan. Banjir terjadi di 6 kecamatan di wilayah tersebut imbas hujan intensitas tinggi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Tingginya curah hujan juga membuat debit sejumlah aliran sungai naik. Kepala BPBD Muba Pathi Riduan mengatakan, banjir yang terjadi pada Jumat (21/3/2025) menyebabkan sekitar 19.515 KK/rumah terdampak banjir setinggi 30 cm hingga 2 meter. Dia menyebut banjir itu berangsur surut di beberapa titik terdampak pada Minggu (23/3/2025).

    Banjir dan tanah longsor juga melanda Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Bencana alam yang dipicu hujan ekstrem ini telah menewaskan 3 warga, 5 orang hilang dan 328 jiwa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Manajer Pusdalops BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menyebut jumlah wilayah terdampak terus bertambah seiring dengan pendataan di lapangan. Saat ini, sebanyak 26 kecamatan di Kabupaten Sukabumi mengalami dampak langsung dari bencana ini.

    Berita tersebut di atas adalah sedikit dari banyaknya bencana alam yang terjadi di awal tahun 2025, yang seharusnya kita sambut awal tahun baru dengan suka cita, ada sebagian saudara kita di beberapa wilayah terkena dampak bencana alam yang tidak sedikit memakan korban dan juga  banyak sekali menyebabkan kerugian material maupun immaterial.

    Jika kita perhatikan, banyak sekali kelompok masyarakat, ormas, organisasi lokal maupun internasional yang membahas isu lingkungan di Indonesia. Lembaga internasional  Greenpeace salah satu contohnya, organisasi yang berpusat di Amsterdam, Belanda ini termasuk yang paling besar di dunia dan terbilang paling lantang dalam melawan perusak  lingkungan alam. apalagi yang menyangkut kerusakan lingkungan karena berbagai macam polusi yang mengancam kelangsungan hidup.

    Contoh lain yang juga sangat kita kenal sekarang adalah Pandawara Grup, sebuah kelompok anak muda yang peduli terhadap sampah yang berserakan di sekitar kawasan masyarakat seperti sungai, laut, danau dan lain-lain. Tapi nyatanya kehadiran begitu banyak organisasi itu tidak juga membuat banyak orang sadar akan kerusakan lingkungannya.

    Mari kita coba telaah lebih jauh terkait dengan keadaan masyarakat untuk mencari solusi alternatif.  Menurut data dari situs World Population Review, Indonesia memiliki penduduk yang kurang lebih berjumlah 281 juta jiwa, hal ini menempatkan indonesia menjadi penduduk terbesar ke-4 setelah India, China, dan Amerika Serikat. Populasi ini juga disertai dengan keragaman agama yang dianut penduduknya, dan yang diakui oleh negara ada 6 agama yaitu: Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. 

    Mari kita telisik  beberapa ajaran  agama yang ada di Indonesia terkait dengan isu  lingkungan hidup. Dalam agama Konghucu, ajarannya tidak hanya berfokus pada etika dan moralitas, tetapi juga pada hubungan manusia dengan alam. Dalam era modern yang menghadapi tantangan lingkungan yang serius, ajaran Konghucu menawarkan perspektif yang berharga tentang hidup berkelanjutan.

     Salah satu konsep utama dalam ajaran Konghucu adalah Tian Ren He Yi yang berarti “Kesatuan Langit dan Manusia”. Konsep ini menekankan bahwa manusia harus hidup akur dengan alam. Menurut Konghucu, manusia bukanlah penguasa alam raya, namun menjadi bagian dari alam itu sendiri. Maka, kerusakan lingkungan alam dianggap sebagai pelanggaran terhadap harmoni yang suci.

    Agama Budha juga memiliki ajarannya sendiri  yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Paradigma perlindungan dan pengelolaan lingkungan menurut ajaran agama Budha tercermin dari ayat suci ini, “Bagai seekor lebah yang tidak merusak kuntum bunga, baik warna maupun baunya, pergi setelah memperoleh madu, begitulah hendaknya orang bijaksana mengembara dari desa ke desa.” (Dhp. 49). 

    Ayat tersebut memiliki makna bahwa lebah tidak merusak tempat ia mengambil manfaat yaitu bunga, bahkan ia membantu bunga dalam proses penyerbukan, inspirasi inilah yang menjadikan ajaran Budha memberikan tuntutan bahwasanya setiap insan manusia dimanapun ia berada harus tetap menjaga lingkungan apalagi tempat ia mengambil manfaat darinya.

    Kita juga bisa mengambil pelajaran dari agama Kristen yang digambarkan dalam Alkitab terkait dengan kebesaran Tuhan tampak dalam Mazmur 104, disebutkan dengan menggambarkan ketakjuban pemazmur yang telah menyaksikan Tuhan yang tidak hanya mencipta, namun juga mengembangkannya dan terus memelihara ciptaan-Nya. Ayat 13, 16, 18, dan 17, menjelaskan penggambaran pohon yang diberi makan oleh Tuhan, termasuk semua ciptaan menantikan makanan dari Tuhan. Menariknya, bukan hanya manusia yang menanti kasih dan berkat Allah, tapi juga seluruh ciptaan-Nya yang ada di lingkungan hidup.

    Intisari dari ayat tersebut bahwasannya Tuhan telah menciptakan seluruh alam semesta dengan seimbang sesuai dengan kadar dan fungsinya, tidak lebih tidak kurang. Sehingga bentuk kegiatan apapun namanya yang akan merusak keseimbangan alam itu tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dan bentuk penodaan terhadap karya agung Tuhan.

    Agama Hindu mengajarkan hubungan manusia dengan alam yang disebut dengan Palemahan. Alam semesta adalah tempat kita hidup, kita yang bertanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam agar tetap indah dan nyaman. Umat Hindu yang banyak diajarkan tentang dharma, kesabaran, dan kebijaksanaan, juga diajarkan tentang ahimsa, mengasihi, dan menyayangi semua makhluk ciptaan Tuhan. Hindu juga diajarkan tentang memayu hayuning bawana, yang artinya kita harus bisa membuat kedamaian dunia. Jadi, ikut serta menjaga kelestarian alam semesta adalah tugas dan kewajiban umat Hindu.

    Islam mengajarkan untuk tidak bersikap sewenang-wenang kepada alam. seperti yang tercantum pada Al-Quran surah al-A’raf Ayat 56 yang artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al-A’raf: 56)

    Kasih sayang  Allah akan selalu ada pada orang-orang yang berbuat kebaikan. Sangat detail Allah telah membuat kehidupan ini begitu sempurna dan seimbang, manusia menjadi pemeran utama dalam menjaga keseimbangan alam. Dalam surat Al-Baqarah ayat 30,  Allah menjadikan  manusia sebagai Khalifah dimuka bumi ini dengan maksud untuk mengatur seluruhnya dan membuat sistem yang menjadikan bumi ini tetap lestari, bukan sebaliknya.

    Seluruh agama yang diakui di Indonesia menjadikan  isu terkait dengan lingkungan menjadi salah satu yang penting dan mungkin yang utama bila kita melihat keadaan alam yang semakin rusak. Pelestarian lingkungan berbasis ketuhanan bisa menjadi alternatif yang sangat dahsyat bila melihat keadaan masyarakat Indonesia yang mayoritas menganut agama dan menjadikan pemuka agama sebagai referensi yang sangat kuat, bahkan  bisa jadi mengabaikan ilmu pengetahuan terkini bila tidak sesuai dengan apa yang disampaikan oleh pemuka agama tersebut.

    Kita bisa membayangkan seluruh khutbah yang ada setiap shalat jumat di banyak masjid, atau khotbah para pendeta dan romo di seluruh gereja, para bante dan seluruh pemuka agama yang ada di seluruh Indonesia menyampaikan isu lingkungan dengan masif dan lantang. Dan dengan itu seluruh masyarakat menjadi lebih perhatian dengan lingkungan sekitarnya. Semoga kita selalu dijauhkan dari banjir, longsor, dan bencana alam lainnya yang diakibatkan oleh tangan manusia itu sendiri.

    Daudi Fathan

    Direktur Keuangan The Hope Institute

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *