Residu Generasi Industri

    Pada tahun 1980, Alvin Toffler, seorang futurolog asal Amerika Serikat menerbitkan buku yang berjudul The Third Wave atau Gelombang Ketiga. Futurolog yang menjadi penulis rutin di majalah Fortune ini, membagikan prediksi-prediksi masa depannya dalam buku tersebut, tentang apa yang akan terjadi di masa depan terutama terkait apa yang akan terjadi pada abad ke-21.

    Terdapat sebuah anekdot yang sering diungkapkan para aktivis sosial dan aktivis politik yang memiliki kebiasaan berdiskusi hingga larut malam. Biasanya, ketika diskusi sudah berlanjut sampai lewat tengah malam, di antara mereka biasanya mulai ada yang mengatakan, “sekarang sudah besok.” Anekdot tersebut berlaku terhadap buku-buku Toffler, “sekarang sudah masa depan” dan abad ke-21 sedang terjadi.

    Jika kita perbandingkan prediksi Alvin Toffler tentang masa depan pada hari ini, tentu ada beberapa prediksinya yang benar-benar terjadi dan tentu ada juga prediksi yang tidak terjadi atau mungkin masih dikatakan ongoing. Tetapi, yang menarik adalah, di dalam buku ini terdapat kritik dari Alvin Toffler terhadap sistem pendidikan yang dipersiapkan untuk menyambut era ini.

    Sebagaimana kita ketahui, Revolusi Industri di Eropa yang terjadi pada tahun 1700-an secara ugal-ugalan, telah memicu secara besar besaran revolusi di dunia pendidikan. Dan menurut Toffler, sistem pendidikan dalam era industri ini terbagi menjadi dua kurikulum. Kira-kira dia menyebutnya sebagai kurikulum yang terlihat, sedangkan yang satunya adalah kurikulum yang tak kasat mata.

    Kurikulum pendidikan yang terlihat, kira-kira hanya mengajarkan tiga hal: Baca tulis, berhitung dan sedikit sejarah.

    Pelajaran bahasa, sastra, ilmu pengetahuan sosial, pendidikan kewarganegaraan dan sebagainya. Pada dasarnya ini semua hanya pelajaran membaca dan menulis, karena pada dasarnya murid hanya diajarkan untuk membaca, dan kemudian menyalin bacaannya tersebut dalam kertas kosong ujian dalam bentuk tulisan.

    Pelajaran seperti matematika, fisika, kimia dan bahkan tata bahasa, ini semua termasuk ke dalam pelajaran berhitung. Karena pada dasarnya murid diajari untuk mengolah sesuatu melalui pola-pola yang tersedia—yang kita sebut hari ini dengan rumus—menjadi sesuatu yang lain. Rumus-rumus tersebut terletak di dalam matematika, fisika, tabel periodik kimia dan bahkan dalam pelajaran gramatika bahasa.

    Dan yang terakhir sedikit sejarah. Kenapa dikatakan sedikit, karena memang begitulah adanya. Sejarah diajarkan dalam selipan-selipan pembahasan pelajaran yang lain. Dalam pelajaran bahasa, diselipkanlah sedikit sejarah tentang Chairil Anwar, Dante dan Dostoevsky. Dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam, diselipkanlah siapa itu Newton, Nobel, Einstein dan Nikola Tesla. Dalam pelajaran sejarah sendiri, diselipkanlah siapa itu Napoleon, Raffles, Soekarno dan G30S/PKI. Semua selipan-selipan biografi dan sejarah itu diletakkan paling tidak satu paragraf di pojok-pojok buku, sebagai mukadimah sebelum masuk kepada pelajaran inti yang akan diajarkan. Lebih daripada itu, jam pelajaran sejarah pun paling banyak hanya seperempat dari jam pelajaran matematika setiap minggunya.

    Selain kurikulum yang terlihat, Toffler juga sebagaimana dikatakan di awal, merumuskan bahwa di era industri ini, sekolah mengajarkan kurikulum yang tidak kasat mata yang terdiri dari: Tepat waktu, mematuhi peraturan dan mengerjakan hal yang sama secara terus menerus.

    Setiap murid diminta untuk tepat waktu dalam hampir segala hal. Tepat waktu untuk datang ke sekolah, tepat waktu dalam memulai jam pelajaran, tepat waktu mengakhiri jam pelajaran, tepat waktu dalam istirahat, tepat waktu untuk jam pulang sekolah, tepat waktu mengerjakan soal di kelas, tepat waktu mengumpulkan PR dan tepat waktu dalam mengerjakan ujian.

    Selain itu juga mereka diajari untuk mengikuti aturan dan standar. Seragam sekolah ada aturannya, potongan rambut ada standarnya, mengerjakan ujian dibatasi jawabannya menjadi ABCD, ingin naik kelas ditetapkan standar nilainya, dan serangkaian aturan dan standar lainnya.

    Mereka juga, sebagaimana dikatakan sebelumnya, diajarkan atau bahkan dipaksa untuk mengerjakan hal yang sama secara terus menerus. Doa yang mereka bacakan setiap memulai dan mengakhiri pelajaran adalah doa yang sama. Dalam matematika, biasanya diperintahkan untuk mengerjakan 3-5 contoh soal dalam rumus yang sama. Dalam pelajaran bahasa, Mereka diminta menulis kalimat dengan gramatika bahasa yang sama sebanyak sepuluh kalimat misalnya. Kemudian Melukis gambar yang sama setiap pelajaran seni misalnya, menulis puisi yang sama dalam pelajaran sastra misalnya. Dan bahkan, jika murid berbuat kesalahan dan harus dihukum, mereka biasanya diminta menulis kalimat “saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi,” kalimat yang sama yang harus ditulis sebanyak puluhan atau bahkan ratusan kali.

    Tiga hal ini, baik itu tepat waktu, mengikuti aturan dan melakukan hal yang sama secara terus menerus. Disimbolkan dalam sebuah kegiatan mingguan di sekolah yang bernama “Upacara”. Di situ mereka memulai upacara pada waktu yang tepat, mengikuti segala aturan upacara, dan melakukan gerakan yang sama dengan cara yang sama setiap minggunya, selama bertahun-tahun. Untuk kasus di Indonesia, setidaknya selama 12 tahun.

    Kurikulum yang tidak tampak ini tidak lain dimaksudkan untuk mempersiapkan para pelajar ini bekerja di bawah cerobong-cerobong industri. Kita sedang tidak membicarakan apakah sebuah pekerjaan itu mulia atau tidak. Tapi coba ingat kembali, bukankah tiga hal itu yang dilakukan orang yang bekerja di pabrik? Mereka datang dan pulang tepat waktu, mereka mengikuti aturan yang ketat dan mereka melakukan pekerjaan yang sama secara terus menerus. 

    Tidak hanya orang yang bekerja di pabrik, orang yang kerja dalam proyek infrastruktur fisik pun bukankah begitu? Biarkan matematika sederhana mereka gunakan untuk mengukur kedalaman pondasi, panjangnya tiang, dan tebalnya tembok. Biarkan bahasa yang sederhana mereka gunakan untuk berkoordinasi. Dan biarkan sejarah mereka tidak pakai sama sekali. Selebihnya, biarkan tiga kurikulum tak tampak bekerja; mereka datang tepat waktu, patuh pada aturan dan menghantam paku dengan palu secara terus-menerus.

    Inilah potret kurikulum pendidikan di era Revolusi Industri. Kurikulum yang dirancang untuk mengkondisikan manusia secara masif. Kurikulum yang membuat setiap orang “merasa” tidak punya pilihan padahal mereka punya pilihan. Kurikulum yang menjadikan mereka mengerjakan sesuatu secara terus menerus tanpa mereka pahami urgensi yang mereka kerjakan. Jika urgensi dari yang mereka kerjakan saja mereka tak paham, apakah kita akan berharap mereka menemukan cara alternatif untuk menyelesaikan pekerjaannya? Kurikulum pendidikan era Revolusi Industri mengkondisikan manusia untuk memikirkan metode, tanpa memahami tujuan dari metode tersebut.

    Kurikulum pendidikan seperti ini tidak hanya berdampak di sektor privat, bahkan di sektor publik pun terjadi hal yang sama. Hari ini sedang ramai pemberitaan tentang efisiensi APBN 2025. Presiden Prabowo, dalam hal ini melalui Inpres No. 1 tahun 2025, memerintahkan efisiensi APBN sebesar Rp300 triliun. Di antara lemak-lemak anggaran yang dipotong adalah perjalanan dinas sebesar 50%, penghilangan program-program rutin seperti seminar, Focus Group Discussion dan juga pengurangan besar-besaran belanja ATK (Alat Tulis Kantor).

    Ketika langkah efisiensi ini diluncurkan, para menteri kabinet Prabowo-Gibran tampak kompak, tapi birokrasi bergemuruh. Dengan efisiensi besar-besaran ini mereka merasa kerjanya dihambat, padahal yang dipotong adalah yang membuat lemak dalam birokrasi, bukan otot anggarannya. Hal ini nampaknya terjadi karena selama puluhan tahun mereka tidak tahu persis tujuan yang mereka kerjakan. Mereka berpikir, jika di anggaran tahun lalu ada program seminar, maka tahun ini pun harus ada seminar, tanpa bisa menjelaskan apa output dan outcome yang datang dari seminar tersebut.

    Bahkan yang lebih parah, jika ada anggaran pengentasan stunting sebanyak 10 miliar, maka akan hanya 2 miliar saja yang sampai ke rakyat, karena 8 miliar sisanya habis digunakan untuk seminar dan FGD (Focus Group Discussion) tentang stunting. Begitulah adanya sebagaimana yang pernah dituturkan Presiden Prabowo. Inilah yang membuat birokrasi kita berjalan rutin tapi tidak efektif, dan mereka betah melakukannya karena mereka itulah hasil dari kurikulum pendidikan Revolusi Industri.

    Lalu apakah pendidikan model seperti ini yang akan diterus-teruskan? Sementara katanya era ini sudah merupakan revolusi informasi dan teknologi. Bukan hanya lagi sekedar Revolusi Industri. Mampukah pendidikan Revolusi Industri yang dipertahankan itu untuk menemukan para pemecah masalah demi mempermudah kehidupan manusia?, alih-alih memandang manusia sebagai sumber tenaga kerja yang menunggu diserap cerobong-cerobong industri dan meja-meja birokrasi.

    Bahkan, apakah porsi dalam kurikulum terlihat pun masihkah akan dipertahankan seperti ini? Di mana porsi jam pelajaran matematika bisa sampai 6 jam per pekan, sementara pelajaran sejarah rata-rata hanya 1 jam saja per pekan. Padahal jika ditanya, manakah yang lebih sulit dipahami, persamaan linier dua variabel? Atau sebab-sebab terjadinya Revolusi Prancis? Jelas pada kenyataannya, memahami Revolusi Prancis lebih sulit. Sarjana matematika sudah lama bersepakat tentang rumus luas persegi, sementara para sejarawan masih memperdebatkan penyebab terjadinya Revolusi Prancis, tidak kurang sejak 200 tahun lalu.

    Lebih daripada itu, mungkin saja Revolusi Prancis patut kita pahami untuk menjadi inspirasi dan diwaspadai sekaligus. Karena potret-potret sosial yang dahulu memicu Revolusi Prancis masih tampak dalam potret peradaban kita hari ini. Itu baru hanya satu peristiwa Revolusi Prancis, sementara masih sangat banyak tersedia peristiwa-peristiwa lain dalam sejarah yang perlu kita pahami dan kita jadikan inspirasi. Bisa saja anak-anak kita terinspirasi oleh Napoleon, Khalid bin Walid, Muhammad Al-Fatih, Charlemagne dan bahkan mungkin Nikola Tesla.

    Pada akhirnya, yang akan menentukan apakah matematika itu akan digunakan untuk menghitung berat sayuran atau menghitung kapasitas bendungan, apakah fisika itu akan menjadi pesawat atau ketapel, yang menentukan adalah inspirasi sejarah apa yang terletak di benak anak-anak didik itu. Matematika dan bahasa pada hakikatnya hanya alat, ia tidak menentukan dirinya sendiri, orientasi penggunanya lah yang menentukan. Mereka memperolehnya dari sejarah.

    Sekali lagi, apakah kecerobohan-kecerobohan dalam membentuk generasi penerus ini akan diterus-teruskan? Apakah kita sanggup menciptakan generasi penerus yang relevan dengan zamannya? Sementara dalam sebuah perkataan Nabi pernah berpesan agar kita mendidik anak-anak kita sesuai dengan zamannya. Karena anak-anak kita, kita didik bukan untuk hidup bersama kita, lebih daripada itu, mereka justru akan hidup lebih lama setelah kita tiada. 

    Kita belum, akan, dan harus menemukan sistem pendidikan masa depan yang relevan untuk generasi penerus mendatang, dan kesanalah arah diskusi ini akan bergerak.

    Sabtu, 15 Februari 2025

    Aziz Zulqarnain

    Direktur Program The Hope Institute

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *